Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Apa Itu?


__ADS_3

Untuk bagian akhir lebih baik dibaca setelah buka puasa ya.


.


.


.


Abian baru saja mendapat telepon dari pengacara yang menangani kasus Axel.


"Ada apa, Bi?" Delia datang dari ruang pakaian membawakan dasi dan jas milik suaminya. "Telepon dari siapa?" tanyanya. Melihat Abian memegang ponsel dengan wajah tegang, pasti suaminya baru mendapat kabar buruk.


Dada Delia jadi berdebar, Awan dan Aira ada dirumah, hanya Angkasa yang tidak pulang sejak dua hari. Apa anaknya yang satu itu baik-baik saja? Delia menunggu jawaban Abian dengan perasaan tak menentu.


"Tadi pengacara kita telepon, memberitahu, ternyata Axel dendam pada Arum."


"Terus?" Wajah Delia terlihat terkejut, meski ada kelegaan dalam hatinya, jika itu bukan kabar buruk tentang anaknya.


"Semalam Axel mengirim orang untuk menculik Arum," mata Delia terbelalak, menanyakan keadaan Arum bagaimana lewat sorot matanya.


"Arum baik-baik saja, anak kita sudah mengetahui rencananya."


"Jadi Angkasa semalam nggak pulang karena menyelamatkan Arum?" Abian mengangguk.


"Kamu jangan berpikir yang negatif lagi tentang Arum, dia anak baik."


Delia mengerucutkan bibir. "Kok kamu bisa ngomong begitu sih? Memang aku seburuk itu?"


"Yang aku lihat, kamu terlalu cemburu sama Arum." Delia tak menjawab, dia mengalungkan dasi keleher Abian, memasangkanya. "Kamu kok makin berumur makin kelihatan cantik sih sayang? Apalagi kalau lagi cemberut begini." Abian menjawil dagu Delia.


"Nggak usah gombal pagi-pagi, aku memang sedang berusaha menerima Arum."


"Apa sih yang membuat kamu cemburu sama dia?"


Delia menghela nafas. "Bi, selama ini Angkasa tidak pernah dekat sama gadis manapun. Sekalinya dekat sama Arum, dan dengan kasus yang banyak, ditambah Arum dekat dengan Alex yang dikenal playboy, dan ... kamu tahulah jejaknya. Ibu mana yang anaknya rela dekat dengan wanita nggak baik-baik. Setelah mereka dekat, Angkasa nempel banget. Wajar aku cemburu, kamu dulu nggak begitu sama aku, kamu ketus, deketin aku setelah dikhianati sama mantan kamu." Delia mengungkit dosa lama suaminya.


Abian terkekeh mendengarnya. "Ya ampun sayang. Semua orangkan punya kisah cinta yang berbeda, masa kisah Angkasa dan Arum harus sama, sama kisah kita?"


"Ck, udahlah nggak usah dibahas," Delia menyudahi pembahasan Arum. "Terus Angkasa hari ini pulang, apa kerja lagi?"


"Sepertinya dia ambil cuti lagi. Tunggu saja dia pulang, kita tanya mau dia apa? Kayaknya dia udah nggak sabar mau menikahi Arum."


"Kamu setuju mereka nikah cepat-cepat?"


"Laki-laki kalau sudah cinta, maunya cepat dihalalin, aku dulu juga begitu, tapi kamunya selalu nolak dengan alasan mau cari pengalaman dulu." Sekarang giliran Delia yang diungkit dosa masalalunya.


"Udah yuk kita turun. Anak-anak sudah nunggu dibawah."


Abian kembali hanya terkekeh, begini nih kalau wanita diungkit masalalunya, coba kalau yang diungkit masa lalu Anian, pasti akan diungkit sampai dosa Abian baru lahir.


* * *


Delia menatap satu-satu wajah yang ada di meja makan, hampir setiap pagi semua anaknya berkumpul, hanya Angkasa saja yang jarang sekali menduduki kursinya. Dulu kursi itu kosong karena Angkasa berada diluar negeri, sekarang bangku itu kosong karena Angkasa sibuk dengan Arum.


Delia menyadari, semakin dewasa, anaknya semakin memiliki kesibukan sendiri-sendiri, rasanya dia ingin anaknya kembali lagi ke masa kecil, dimana mereka hanya merengek padanya.

__ADS_1


"Wan, mau Mama bawain bekal nggak?" Delia sadar, jika dia kadang lebih perhatian pada Angkasa.


"Nggak usah, Ma. Awan beli aja, nanti Mama kecapean."


Delia berdecak. "Kamu tuh, kan yang masakin Bibik, Mama cuma menyiapkan aja. Mau ya Mama bawain bekal? Ketahuan makanan yang kamu makan sehat."


"Ayah bawa bekal juga?" Awan menatap Abian.


"Ayah hari ini mengurusi kasus Axel, jadi nanti Ayah pasti makan diluar."


"Selama ini Ayah selalu Mama bawakan bekal." Komen Delia paham yang ada dipikiran Awan.


"Awan kayak anak TK bawa bekal." Ini pertama kalinya Awan bekerja, dia tak biasa dibawakan bekal.


"Kalau Awan tidak mau yaudah sayang. Kan dapat jatah makan siang juga dari kantor." Abian memberi pengertian pada Delia.


"Hem, yasudah. Mama lupa." Delia hanya ingin pehatianya rata pada anak-anaknya. Tak mau terkesan hanya perhatian pada Angkasa.


"Hai, selamat pagi semuanya." Semua yang ada di meja menengok sumber suara.


Reini bertamu pagi-pagi.


"Hai sayang." Delia berdiri menyambung Reini, mereka cipika cipiki. Reini menyalimi tangan Abian, cipika cipiki dengan Aira dan Andini. Baru kemudian ... Dia bingung mau bagaimana dengan Awan? Berpelukan tak enak didepan kedua orang tua Awan, mau mau cipika cipiki, malu juga.


"Selamat pagi, Wan."


"Selamat pagi," balas Awan.


"Sudah sarapan, Rein? Yuk sarapan bareng." Delia memberikan piring didepan duduk Reini.


"Angkasa nggak pulang, Tan?" Reini bertanya pada Delia sambil sarapan.


"Enggak, mungkin ada penerbangan keluar." Delia menutupi kasus yang sedang terjadi.


Selesai sarapan, Reini mengobrol sebentar dengan Awan, mengantar Awan kedepan. Sama seperti yang dilakukan Delia pada Abian.


"Tante kira kamu mau ikut Awan sampai bandara." Tanya Delia saat mobil Awan dan Abian sudah keluar halaman rumahnya.


"Reini kesini mau ada perlu sama Andini, Tan."


"Ada masalah?"


"Enggak, hanya mau bertanya sesuatu aja."


"Oh, yaudah yuk. Nanti Andini ada jadwal praktek siang." Delia merangkul bahu Reini, kembali masuk kedalam.


"Tante hapal jadwal Andini, ya?" Reini menoleh pada Delia yang masih merangkulnya.


"Tante sudah menganggap dia anak Tante, jadi Tante harus memperlakukan Andini sama dengan anak-anak Tante yang lain." Reini menganggukkan kepala.


"Din, Reini ada perlu sama kamu katanya." Delia memberi tahu Andini yang sedang merapikan meja makan. Andini menghentikan tanganya yang sedang memunguti piring bekas makan.


"Kamu selesaikan aja pekerjaan kamu dulu," ucap Reini.


"Udah tinggal saja, biar Mama yang beresin." Delia mengambil alih pekerjaan Andini. Menyuruh Andini mengobrol dengan Reini.

__ADS_1


Sebelum Reini pergi dengan Andini, dia tak sengaja melihat Aira yang sedang fokus pada gadgetnya.


"Aira, kemarin Kakak lihat kamu bawa mobil Angkasa, benar itu kamu?" Perkataan Reini sukses membuat Aira mendongakkan kepalanya. Kemudian tatapan Aira berpindah pada Delia yang menatapnya tajam meminta penjelasan.


"Sudah sana Rein kamu ngobrol sama Andini, terserah mau dimana, Tante juga ada urusan mendadak." Delia berkata tanpa mengalihkan tatapanya pada Aira.


* * *


Andini dan Reini memilih mengobrol di balkon kamar Andini. Keduanya berdiri dipembatas balkon, menatap pada rumah-rumah mewah yang merupakan tetangga Delia.


"Gimana, Andini. Kamu betah tinggal disini?" Reini membuka pembicaraan.


"Betah, keluarga disini baik-baik," sahut Andini. Dia ingin menanyakan keperluan Reini, tapi ia urungkan, biar Reini yang bicara sendiri.


"Pernah dijodohkan sama Angkasa, kamu yakin nggak ada rasa sama dia?" Bertanya masalah pribadi. Andini hanya tersenyum tipis. "Angkasa ganteng banget, aku yakin kamu ada rasa sama dia. Mana ada wanita yang menolak pesona Angkasa." Reini sangat ingin tahu respon Andini.


"Ya ada, tapi dua lebih memilih Arum, kan?" Andini mengakui perasaannya.


"Tapi kamu nggak berpindah suka sama Awan, kan?" Ini tujuan dia menanyakan hal itu pada Andini.


Andini terkekeh. "Wajah boleh sama, tapi untuk menaruh hati, sepertinya tidak."


Reini menarik nafas lega. "Kamu benar-benar psikolog ya."


"Kamu ada perlu apa?" Karena Reini sejak tadi hanya menanyakan hal pribadinya, jadinya Andini menanyakan maksud tujuan Reini.


"Aku mau minta tolong sama kamu," jawabnya membalas tatapan Andini. "Awan ada trauma dengan ketinggian. Sebenarnya Awan dulu sama seperti Angkasa, ingin jadi pilot seperti om Abian. Tapi gara-gara peristiwa dulu, Awan jadi harus mengubur dalam-dalam mimpinya."


Andini menyimak cerita Reini.


"Awan mencintai ku dari dulu, dan tak pernah berpaling dari wanita lain, meski dia tahu aku lebih menyukai Angkasa." Andini manggut-manggut, dia tahu apa maksud Reini berkata begitu, dia tahu dari sorot mata Reini yang menegaskan jika Awan hanya mencintainya, tak akan tergoda olehnya.


"Aku mau dia jadi pilot, sesuai cita-citanya sejak kecil. Apa dia bisa melawan itu?"


Andini memainkan bibirnya sebelum menjawab, berpikir sejenak, hingga detik berikutnya dia menjawabnya.


"Semua trauma pasti bisa sembuh, asal mendapat penanganan yang tepat. Apa selama ini Ayah Abian dan mama Delia tahu yang dialami Awan?" Tanpa menanyakan apa penyebabnya, Andini lebih ingin tahu apa selama ini Awan sudah mendapat bantuan pengobatan.


"Tahu, dan Awan sudah sembuh. Buktinya dia sekarang bisa menaiki anak tangga, kalau tidak? Mana mungkin om dan tante menyediakan Awan kamar dilantai dua."


Benar juga.


"Pendapat ku, kamu tidak bisa memaksakan Awan untuk jadi pilot, trauma tetaplah trauma. Dia akan kambuh sewaktu-waktu jika ada sesuatu yang mengingatkannya tentang masalah yang membuatnya trauma. Apalagi pilot, resikonya terlalu tinggi. Nyawa ratusan orang taruhanya," jawab Andini lebih mengutamakan logikanya daripada mengusahakan pengobatan itu sendiri.


* * *


Ditempat lain.


Perlahan kelopak mata Arum terbuka, pemandangan pertama yang dilihatnya adalah, Awan yang tidur disofa panjang yang tepat disamping tempat tidurnya. Laki-laki itu memejam dengan tangan dilipat didada.


Mata Arum mengerjap kecil melihat pemandangan didepanya. Sungguh pemandangan yang menyegarkan mata, kulit putih Angkasa semakin terlihat cerah karena kekasihnya itu mengenakan kaos putih polos, ditambah pantulan sinar matahari yang menyembul melalui jendela menerpa wajahnya. Sungguh indahnya ciptaan Tuhan.


Pandangan Arum semakin turun kebawah, dan dia berhenti diantara sela paha Angkasa, ada sesuatu besar yang menonjol dibalik celana boxer putih Angkasa.


Mata Arum terbelalak, apa itu? Apa sebesar itu milik Angkasa? Arum membalikkan badan, dia bergidik, pantas saja setelah malam itu miliknya terasa sakit, dan rasa mengganjal diantara pahanya baru hilang setelah tiga hari.

__ADS_1


"Ya ampun bagaimana bisa benda sebesar itu bisa masuk ke miliknya?"


__ADS_2