Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Seasion 2. Awan


__ADS_3

Detak jantung Awan dan Reini sama-sama berpacu cepat, aliran darah mereka seakan meningkat dan membuat suhu keduanya semakin panas, pendingin ruanganpun seperti tak berfungsi. Sesuatu yang mereka mulai ini terlalu sayang untuk dilepaskan, memberi rasa tagih bagi keduanya.


Suara cecapan bibir keduanya memenuhi kamar apartemen, lidah yang saling melilit, tangan saling mengeratkan pelukan, saling tarik menarik, tangan Reini bahkan lebih dulu masuk kedalam kaos Awan, kulit halusnya mengusap, merang sang milik Awan menegak sempurna dibawah sana, tapi Awan tak mau gegabah, dia tak ingin memaksa Reini, biarlah Reini yang memulai lebih dulu. Nampaknya doa Awan langsung dikabulkan, doa anak soleh dan sabar, Reini menarik kaosnya keatas hingga ciuman mereka terlepas.


Nafas keduanya tersengal, Awan memandang wajah Reini yang memerah dan berkabut.


"Kamu yakin akan memulainya, Rein?" tanyanya sambil mengatur nafas. Wajah Reini sepuluh kali lipat terlihat lebih cantik dari biasanya meski rambutnya acak-acakan.


Reini tak menjawab, ia juga tak berani menatap wajah suaminya, tapi yang Reini lakukan selanjutnya menegakkan tubuh, menempelkan kembali bibirnya di bibir Awan, disini Reini lebih beringas dibanding lawan mainnya, ia seperti wanita maniak yang haus belaian, sungguh rasa yang baru pertama ia rasakan ini membuatnya ingin merasakan yang lebih.


Tangan Reini dileher Awan, lalu naik mengacak rambut hitam legam milik Awan. Merasa tak ada kemajuan dari Awan, Reini menuntun tangan Awan ke dadanya, meminta Awan menyentuh miliknya yang tak pernah tersentuh siapapun. Awan awalnya terkejut, tapi karena Reini yang mengarahkan, iapun menggerakkan tanganya di daging kenyal itu. Lembut Awan melakukanya, dan tak terburu-buru, tapi rasanya membuat Reini mengeluarkan suara merdu, lebih merdu dari suara penyanyi diva sekalipun.


Awan tak menyangka, jika suara Reini membuatnya ingin mere mas lebih kencang lagi milik Reini.


"Rein, boleh dari dalam?" Melepaskan sebentar bibirnya dari bibir Reini. Reini menjawab dengan anggukan.


Tangan hangat Awan menelusup kedalam kaos oversize Reini. Menye


"Ahhhh ... Wan." Reini tak kuasa menahan rasa yang begitu nikmat ini, dia melepaskan tautan bibir, menunduk, membenamkan kepala didada Awan yang sudah terbuka, menggigit dada Awan gemas. Lututnya sampai lemas dibuatnya, baru sekitaran dada saja yang disentuh Awan.


"Yeah, Baby."


Kali ini Awan tak meminta izin lagi, puas memainkan puncak gunung Reini, gantian ia menikmati menggunakan bibirnya. Reini makin mengegeliat tak karuan saja saat bibir hangat Awan menggigit, dan meng ulum puncak dadanya. Tanganya menyisir rambut tebal Awan.


Meski yang pertama, ilmu biak pembiakan tak perlu diajari, naluri membuat Awan ingin menjelajahi seluruh tubuh Reini. Mulai dari tulang selangka, turun kedada, perut, dan terakhir berhenti di kebun durian Reini.


Sampai disana, Awan merebahkan tubuh Reini, melepaskan semua yang melekat di tubuh Reini satu persatu, hingga tersisa kain segitiga berwarna nude yang menutupi kebun durian Reini.


"Rein, kalau kamu mengizinkan aku membukanya, berarti kamu mengizinkan aku memanen buah durian milik kamu."


"Hah?" Reini tak paham bahasa Awan, tapi selanjutnya ia mengangguk kecil setelah otaknya konek.


Dengan tangan bergetar, Awan menurunkan kain segitiga milik istrinya, Awan menelan ludah saat melihat indahnya kebun durian yang terpampang nyata didepan matanya. Refleks, tangan Reini menutup dengan kedua telapak tangannya menyadari Awan menatap miliknya dengan intens, dia malu.

__ADS_1


"Jangan ditutup Rein." Awan menahan tangan Reini. "Kita mulai rumah tangga kita dari nol, dan secara utuh."


Bibir Reini berkedut, sebab dia begitu gugup, antara siap tak siap.


"A-aku, aku ragu, Wan."


"Jadi kamu belum siap?" Awan melemah, senggetan dibawah sana sudah tegak sempurna siap memanen buah terenak di dunia. "Aku sudah melihatnya, berarti kamu juga sudah siap membelah buah durian milik kamu, sesuai janji kamu tadi."


Untuk kali ini Awan tak mau disuruh mengalah, yang sudah dimulai, harus dituntaskan sampai akhir. Meski tanpa persetujuan Reini, Awan membelah durian milik Reini untuk pertama kalinya. Sebelumnya dia tak lupa memakai sarung agar benih buahnya tak tumpah dan membuahi biji durian Reini yang belum siap dipanen.


* * *


Tubuh Awan ambruk disamping Reini dengan nafas putus-putus. Awan tersenyum puas, menoleh, menatap Reini yang masih mengatur kakinya yang sempat kaku akibat pelepasanya yang dahsyat luar biasa. Namun Awan baru menyadari jika Reini tengah menangis.


"Rein, kamu kenapa? Kamu menyesal?" Awan langsung memeluk Reini.


Reini menggeleng, dikata menyesal, tidak. Tapi dihatinya merasa dimana ada sesuatu yang mengganjal. Banyak takut didalam hati Reini.


Reini mendongak menatap Awan yang juga sedang menatapnya. "Kapan?"


"Tadi, kamu nggak tahu?" mengusap sisa air mata di pipi Reini.


Reini menggeleng. "Kamu punya?"


"Aku menyiapkanya dari jauh-jauh hari."


"Wan." Rasa kagum, haru dan tak enak menjadi satu.


"Aku harus jadi suami siaga, kan? Siaga tidak harus saat kamu akan melahirkan, tapi siaga dalam segi apapun." Mengusap punggung Reini yang masih polos.


"Terima kasih." Memeluk tubuh Awan, matanya mengembun, semakin tak rela kehilangan Awan. Awan selalu mengerti apa yang ia mau, selalu siap siaga.


* * *

__ADS_1


Usai kegiatan panas mereka, Rein kembali ke setelan awal, semakin manja. Sampai minumpun diambilkan Awan, alasannya masih sakit di antara sela pahanya.


Hampir tengah malam, Awanpun sudah terlelap dalam mimpi, padahal tadi dia yang mengusap Reini agar Reini tidur, nyatanya istrinya itu tidak tidur, Reini masih merasai dan mengingat yang telah terjadi beberapa menit lalu. Reini menoleh, melihat wajah tampan suaminya yang terlihat sangat tenang saat tidur, nafasnya teratur, tanda jika Awan sudah sangat nyenyak.


Iseng, Reini mengecup bibir Awan. "Kamu harus selalu setia sama aku." Lalu tanganya mengusap alis tebal Awan yang berjejer rapih.


Tak bisa tidur, Reini mengecek ponselnya, ada pesan dari Angga.


"Hai, Rein. Lagi apa?"


Waktu pengiriman dua jam lalu. Reini memikirkan akan membalas apa. Karena tak enak telah mengabaikan pesan Angga, tanpa pikir panjang Reini memotret dirinya, dan mengirim fotonya pada Angga dalam keadaan rambutnya yang masih basah.


Pesan terkirim, dan secepat kilat centang abu-abu berubah warna biru.


"Kamu baru mandi?" Balas Angga cepat.


"Hihihi, enggak Capt. Emm gitu deh." Send, Captain Angga. Dan langsung centang biru.


Memang tidak mengatakan yang terjadi sebenarnya, tapi bagi laki-laki berpengalaman seperti Angga, sudah tahu apa yang baru saja terjadi pada Reini.


Angga meremas ponselnya kesal, baru tadi siang Viona memberi tahunya jika Reini belum melakukan hubungan suami istri, malah kabar yang ia dapat dari Reini justru sebaliknya. Perhatian dan pendekatan baru akan dimulai, tapi dia sudah dibuat kecewa.


Foto yang tadi dikirim Reini, juga pesan dari tadi diteruskan ke nomor Viona.


"Mereka sepertinya baru saja melewatkan malam yang menyenangkan." Dibubuhi dua api diakhir pesan.


Viona yang belum tidur, membaca pesan dari Angga. Viona tak bisa percaya begitu saja, melihat status yang baru saja di upload Reini.


Foto Reini dengan rambut basahnya, dan dengan caption.


Baru pertama mandi malam, segar juga.


Bukan hanya kesal yang timbul didalam hati Viona, tapi juga rasa iri. Iri yang begitu besar pada sahabatnya, beruntung sekali Reini bisa menikah dengan laki-laki tampan, kaya, dan baik hati seperti Awan.

__ADS_1


__ADS_2