Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Mendapat Restu


__ADS_3

Merasa nyawa wanita yang dicintainya terancam, Angkasa jadi berat untuk meninggalkan Arum, dia sampai ingin menginap dirumah kecil Arum.


"Nggak perlu, kamu pulang saja," larang Arum, "kamu pasti kecapean pulang dari kerja. Lagi pula mereka bilang akan datang seminggu lagi."


"Bagaimana aku bisa istirahat, Rum. Melihat rekaman cctv tadi membuat ku ingin menghampiri markas mereka." Andai saja dia tahu tempatnya. "Aku ingin sekali melaporkan kasus pada polisi malam juga."


Arum terkekeh, keduanya berdiri didepan rumah Arum.


"Jangan berlebihan ah. Tahu begitu aku nggak akan cerita masalah ini." Tapi tidak mungkin, dari siang saja Arum sudah ingin mengirim pesan pada Angkasa, tapi ia tahan. Takut mengganggu kerja sang kekasih, sejak bersama Angkasa, apa-apa Arum ingin cerita, bersin saja rasanya Arum ingin memberi tahu.


"Kalau kamu tidak cerita, dan aku tahu dari orang lain, aku akan marah sama kamu." Angkasa menatap tajam Arum.


"Jangan," Arum memeluk tubuh Angkasa yang masih menyisahkan bau parfum maskulin Angkasa, dan itu mengingatkan Arum pada malam panjang yang telah mereka lewati. "Jangan pernah marah sama aku. Aku sedih kalau kamu marah."


Angkasa membalas pelukan Arum, mana mungkin dia bisa marah kalau cara merayu Arum seperti ini. "Kamu begini bikin aku pengen cepet-cepet halalin kamu." Arum mendongak agar bisa melihat wajah tampan Angkasa.


"Sabar ya, aku akan segera bereskan masalah ku sama mama. Dan aku akan segera melamar kamu." Angkasa bicara sambil menunduk.


Wajah Arum berubah sendu, disini Arum benar-benar baru menyadari kesalahan satu malam mereka, dia jadi terpikirkan akankah mama Angkasa menyetujui hubungan mereka? Kalau tidak? Akankah kesalahan malam itu akan berakibat fatal?


"Jangan khawatir, jangan pikirkan yang macam-macam, aku akan tetap menikahi mu, mau mama menyetujui atau tidak? Mau kamu hamil atau tidak?" Angkasa menjelaskan seolah tahu apa yang dipikirkan Arum. Tanganya membenarkan rambut Arum yang berantakan.


"Masuk gih, udah malem." Arumpun mau tak mau melepaskan pelukannya pada Angkasa. Tapi saat dia akan masuk, Angkasa menahan pergelangan tanganya. Angkasa melangkah mendekat, dan mendaratkan bibirnya di kening Arum.


"Selamat malam," ucap Angkasa.


"Hem, kamu juga hati-hati." Mereka berpisah. Angkasa naik ke mobil jemputan setelah memastikan Arum sudah masuk kedalam rumah.


Saat akan keluar gang rumah Arum, Angkasa melihat para anak muda sedang nongkrong. Angkasa memberhentikan mobilnya, dia meminta para anak muda itu untuk berjaga rumah Arum dengan memberikan uang rokok yang jumlahnya tidak sedikit pastinya.


"Terima kasih Bang. Kami akan begadang sampai pagi," ucap para pemuda itu, mereka senang mendapat uang dari Angkasa.


* * *


Sampai dirumah, Angkasa melihat Awan bersiap akan pergi.


Angkasa menahan pintu Awan saat saudara kembarnya yang sudah duduk dibalik kemudi.


"Mau kerumah Reini?"


"Iya, awas. Aku buru-buru." Awan menarik pintunya ingin menutup, tapi Angkasa tetap menahanya. "Apalagi sih?" Awan terlihat sewot.

__ADS_1


"Jika permintaan dia membuat kamu berubah jadi pemarah seperti ini, aku akan menceritakan permintaan Reini yang aneh itu sama mama."


Awan menutup mata menahan kesal, dia sedang kesal pada dirinya sendiri yang tak bisa melawan traumanya, ditambah ucapan Angkasa yang membuatnya ingin mendorong tubuh saudara kembarnya ini.


"Jangan ikut campur, urusi saja percintaan kamu dengan Arum yang belum mendapat restu dari mama. Masalah ku dengan Reini bisa aku atasi sendiri."


"Wan, aku begini karena aku berterima kasih sama kamu. Sebab aku tahu kamu mendekati Arum waktu itu untuk buat aku cemburu kan? Dan kamu berhasil atas rencana mu itu. Jangan bodoh karena cinta, seharusnya Reini menerima kamu apa adanya."


Awan terkekeh mendengar ucapan Angkasa.


"Dan kalau aku bilang begitu sama kamu tentang Arum yang sudah tidak perawan, apa kamu masih akan memilih Arum?" Awan menatap saudaranya yang diam saja. "Enggak kan? Mau Arum sudah tidur berapa kali dengan laki-laki, kamu pasti akan menerima Arum. Aku juga begitu, mau seburuk apa sifat Reini, aku akan tetap memilih dia." Awan menutup pintu mobilnya dan melajukan mobilnya keluar halaman rumah mereka.


Angkasa hanya dapat memandang mobil Awan yang menjauh, benar apa yang dikatakan Awan. Mau seburuk apa wanita yang mereka suka, mereka tetap akan memilihnya dan menerima apa adanya. Tapi pada kenyataannya Arum tak seburuk yang orang kira.


* * *


Masuk kerumah, Angkasa melihat Delia dan Abian duduk diruang keluarga dengan layar televisi yang menyala. Angkasa menghampiri keduanya.


"Assalamualaikum. Selamat malam Pa, Ma." Angkasa mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Delia menerima uluran tangan Angkasa tanpa menatap anaknya.


Angkasa mengambil duduk disamping mamanya, dan merebahkan kepalanya dipangkuan mamanya. Delia terkejut atas apa yang dilakukan Angkasa.


"Angkasa capek banget hari ini, Ma." Keluhnya pada sang mama.


"Kamu udah makan?" Suara Delia terdengar lembut.


Abian dan Angkasa saling lirik, keduanya terkejut Delia bertanya demikian.


"Belum, makanya lemes."


"Yaudah bangun, Mama siapin makan." Tapi bukanya banun, Angkasa menahan tangan mamanya.


"Nanti dulu, Ma. Masih mau rebahan di pangkuan Mama," ucapnya manja. "Maafin Angkasa ya, Ma. Angkasa sudah buat Mama marah kemarin." Tak ingin menunda lagi, semua ingin ia bereskan satu persatu.


Delia berdecak. "Iya, Mama maafin. Tapi jangan diulang lagi." Tadi lembut, sekarang ketus.


"Ikhlas nggak maafinya? Kalau Ikhlas senyum donk." Rayunya.


"Apa sih, nggak lucu ya." Tapi sudut bibir Delia tak ayal tersenyum. Abian ikut tersenyum melihatnya.


"Nah, kalau begini kan. Enak dilihatnya." Abian merangkul pundak sang istri, mengusap punggung Delia lembut penuh sayang.

__ADS_1


"Mama kan begitu cuma nggak mau sampai kamu kebeblasan. Kalian tuh nggak pernah Mama ajarin nginep diluar kecuali dirumah oma, opa. Mama juga khawatir terjadi apa-apa."


"Bener, bukan karena Mama nggak suka sama Arum?"


"Sedikit," jawab Delia dengan muka cemberut. "Jujur ya Ang. Sebagai wanita Mama mau kamu dapat wanita yang masih utuh. Belum dijamah sama laki-laki lain. Laki-laki buruk aja, maunya dapat wanita baik-baik, apalagi kamu yang Mama jaga sepenuh hati."


Angkasa mengangkat kepalanya dari pangkuan Delia, dia sudah membuka mulut ingin mengatakan yang sesungguhnya, namun beruntung dia segera sadar, dan urung mengatakan jika dia yang pertama menyentuh Arum.


"Kamu mau ngomong apa?" tanya Delia melihat Angkasa yang tidak jadi bicara.


"Nggak jadi, semoga keinginan Mama terkabul, anak Mama ini pasti dapat wanita yang baik-baik, Ma. Dan Arum wanita itu, Angkasa bisa menilai kalau Arum bukan wanita yang neko-neko."


"Mama tadi sudah bicara sama Andini, dia nggak papa kalau nggak jadi dijodohin sama kamu. Walau Mama harus tebal muka bilang begitu sama dia."


Angkasa memeluk tubuh mamanya dari samping.


"Makasih ya, Ma. Angkasa sayang sama Mama. Angkasa tahu Mama bakal menyetujui hubungan Angkasa sama Arum." Angkasa melerai pelukanya. "Kalau Angkasa melamar Arum dalam waktu dekat, Mama sama Ayah merestui kan?"


Abian dan Delia saling pandang.


"Maksudnya dalam waktu dekat?" Abian minta penjelasan lebih detail.


"Besok Angakasa akan bawa Arum kerumah. Setelah Mama sama Ayah menyetujui hubungan Angkasa dengan Arum, Angkasa akan segera melamar Arum. Kita meminta Arum pada mamanya."


"Nggak kecepatan, kenapa buru-buru? Mama merestui buat pendekatan loh, bukan buat langsung lamaran." Delia merasa ini terlalu cepat.


"Menghindari zina. Bukanya orang tua seneng kalau anaknya mau cepat-cepat menikah, kan lebih cepat lebih baik, Ma."


"Mama masih mau menguji kesetiaan Arum sama kamu, Ang. Lagian kamu juga baru aktif lagi kerja, meski perusahaan tempat kamu kerja punya ayah sama kakek moyang kamu, kamu nggak bisa seenaknya melanggar peraturan yang ada. Setidaknya setahun setelah kamu aktif di Airlangga Airlines baru bisa menikah."


"Mama terlalu lempeng, bukanya peraturan dibuat buat dilanggar? Angkasa sama Arum bisa nikah diam-diam kalau begitu." Angkasa memberi solusi pada Delia.


"Dan kredibilitas Ayah di Airlangga Airlines dipertanyakan." Sangkal Delia.


"Sudah sudah, nanti kita pikirkan bagaimana enaknya. Angkasa kamu istirahat saja dulu. Ini hari pertama kamu setelah lama vakum, pasti capek. Yuk Ma, kita ngobrolnya dikamar, kalau sudah ngobrol enak, pasti ketemu jalan keluar." Abian berdiri, menarik tangan Delia masuk ke kamar mereka.


Angkasa menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia tersenyum, senang mamanya sudah merestui hubunganya dengan Arum. Tinggal selangkah lagi hubunganya dengan Arum bisa diresmikan.


Dan satu peer lagi yang harus segera dia selesaikan, dia harus segera memenjarakan orang yang mengancam Arum, serta menemui Dikdik.


Dari atas, Andini yang tadi sempat menguping pembicaraan Angkasa dan kedua orang tuanya buru-buru lari ke kamar. Andini menutup pintu perlahan, setelah pintu terkunci, Andini merebahkan tubuhnya dikasur empuk yang disediakan Delia, menenggelamkan kepalanya didalam bantal, meluapkan kesedihanya.

__ADS_1


Ya, tadi siang Delia mengajaknya bicara, meminta maaf karena tak bisa memaksa Angkasa untuk meneruskan perjodohan mereka, Andini setuju saja. Baginya, kini dia mendapat keluarga yang menyayanginya dengan tulus saja dia sudah bersyukur, jika dia memaksakan kehendak, yang ada nanti dia dijauhi saudara Angakasa yang lain.


__ADS_2