Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Seasion 2. Awan


__ADS_3

Angga dan Viona tersenyum penuh kemenangan saat Reini mau mengikuti keinginan mereka, rencana keduanya berhasil.


"Dan satu lagi, kamu harus hamil anak Captain Angga." Sambung Viona. "Bilang sama suami kamu, jika itu anak suami kamu, kita akan jaga rahasia ini. Tapi jika kamu tidak mau, maka bukan hanya video kamu dan suami kamu yang aku sebarkan, tapi video kamu dan Angga."


Mata Reini semakin membola dengan permintaan Viona yang melebihi batas menurutnya. "Kamu jahat, Vi. Kenapa kamu begitu mau menghancurkan aku? Aku nggak mau!" tolaknya. "Lebih baik kalian bunuh aku daripada aku harus hamil anak orang lain," pekiknya marah.


Reini tak kuasa lagi menahan air matanya. Jika sampai semua ini terjadi, ia tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati mamanya dan Awan.


"Oh ya?" Vioan mencengkeram rahang Reini. "Tapi sayangnya aku nggak mau kamu pergi dengan cepat tanpa merasakan penderitaan lebih dulu, terlalu indah hidup mu, Nyonya Sombong." Melepaskan cengkramanya kuat, sampai kepala Reini tertoleh.


"Terus apa mau kalian? Katakan apa mau kalian, uang?" tanyanya. "Sebutkan nominal yang kalian mau, aku akan berikan." Reini coba memberi tawaran.


"Kamu pikir semua bisa di tukar dengan uang, Sayang?" tawa Viona menggema, mebalik badan menatap Angga. "Sayangnya aku tidak jatuh cinta dengan uang mu, Reini cantik," berbalik menatap Reini. "Aku hanya ingin melihat kamu menderita."


Tubuh Reini bergetar, ia begitu takut. Membayangkan hamil anak Angga, itu membuatnya gila. Tapi Reini orang yang ambisius, tak mau kalah dari orang lain, jika Angga dan Viona memiliki cara licik untuk menghancurkanya, dia juga harus memiliki cara lebih licik lagi.


"Captain, sepertinya kita terlalu banyak basa-basi. Sekarang saatnya wanita sombong itu menunjukkan bakat terpendamnya melayani laki-laki saat diatas kasur."


Reini mengepalkan kedua tanganya kuat, rahangnya mengetat. Tak boleh ada yang bisa menyentuhnya, atau dia lebih baik mati daripada harus mengikuti kedua manusia berhati iblis ini.


Baiklah, dia akan mengikuti permainan kedua manusia ini, dia tidak boleh kalah, dia tak boleh lemah. Dua lawan satu, itu masih bisa diatasi. Asal tak ada senjata api, masih saling tangan kosong, dia pasti bisa melawan.


Captain Angga maju selangkah mendekati Reini, matanya menatap sendu wajah ketakutan Reini.


"Rein, sebenarnya sudah lama aku menyukai mu. Tapi aku memendamnya sejak lama," ucap Angga mengakui perasaanya. "Menyakiti orang yang aku sayangi itu tidak mungkin, aku ingin kita melakukannya atas dasar suka sama suka. Tak ada keterpaksaan dari kamu," katanya bicara begitu lembut.


"Jika kamu mau meninggalkan suami mu demi aku, aku akan menikahi mu, dan bertanggung jawab jika kamu hamil." Angga coba kembali maju selangkah, kini ia berdiri tepat dihadapan Reini.


Tanganya terulur di rahang Reini, ibu jarinya mengusap pipi Reini lembut. Reini tak menolaknya, ia melirik tangan Angga yang berada diwajahnya, lalu melirik Angga yang tersenyum lembut coba meluluhkan hatinya.


Reini mulai tenang, tak setakut tadi.


"Captain," lirihnya dengan suara bergetar. Angga menanggapi dengan melebarkan mata, lalu ia kembali maju, menangkup wajah Reini dengan kedua tangannya.


Reini menelan ludah sebelum bicara. "Aku juga sebenarnya ingin melakukannya dengan Captain," aku Reini. "Viona juga tahu jika sebenarnya aku ingin memiliki suami seorang pilot," melirik Viona, kemudia menatap Angga. "Kita lakukan, tapi aku malu jika harus disaksikan orang lain." Menatap Viona.


Angga menoleh kebelakang, menatap Viona, menggerakkan dagunya meminta Viona keluar. Viona tersenyum lebar.


"Tidak masalah, selamat bersenang-senang Captain, nikmati hari Captain." Viona menggeleng terkekeh. "Have fun baby, aku bisa jaga rahasia kita." Menjawel dagu Reini, Reini membuang muka, "emm, tapi uang yang kamu tawarkan tadi, lumayan juga untuk ku menutup mulut rahasia besar kita." Viona tertawa, berjalan berlenggak-lenggok keluar kamar Reini.


Sebelum benar-benar keluar, Viona sempat mengedipkan mata pada Reini.

__ADS_1


Kini dikamar Reini yang terasa dingin itu, tinggal Angga dan Reini. Reini menatap canggung Angga.


"Apa kita harus memadamkan lampu, Capt?" Reini membuka obrolan.


"Tidak perlu, Rein. Aku ingin melihat tubuh mulus kamu," sahut Angga menatap Reini dengan mata berkabut, seperti sudah tak sabar. "Oh ya, jangan panggil aku Captain jika kita sedang berdua, panggil nama atau panggilan sayang kamu pada ku."


Muak sekali mendengar permintaan Angga.


"Tapi aku lebih suka memanggil Captain, Captain. Lebih terdengar seksi saat kita melakukannya." Reini memulai lebih dulu, tangan Reini mengusap dada Angga lembut. Reini beraksi, ia membasahi bibirnya dengan lidahnya sendiri seksi, melirik Angga.


Angga mulai terang sang.


"Kamu cantik Rein," puji Angga mengusap wajah Reini.


"Terima kasih, Capt," kembali menggigit bibirnya. Mengambil tangan Angga, mencium punggung tangan Angga, matanya mendongak menatap mata Angga yang sudah sangat sendu. Tangan Reini perlahan mendorong tubuh Angga menuju tempat tidur. Kaki Angga mundur mengikuti perintah Reini.


Saat kaki Angga sudah membentur bibir ranjang, Reini mendorong tubuh Angga hingga Angga terlentang diatas tempat tidur. Reini membuka tali kimono bajunya dengan gerakan slow motion, membuat libido Angga naik, tak sabar ingin merasakan service dari seorang Reini, yang notabenenya, wanita yang sudah sejak lama diam-diam ia sukai.


Angga menelan ludahnya, tatkala dada Reini yang masih terbungkus kaca mata berenda itu terlihat. Reini mulai naik keatas tempat tidur, berdiri diatas tubuh Angga dengan bertopang lutut. Kedua tangan Reini menarik sprei hingga sprei itu terangkat dan keluar dari tempatnya.


Tanpa Angga duga, jika Reini langsung menarik celanan panjangnya, hingga terlihat sesuatu yang menonjol dibalik segitiga milik Angga. Tangan Reini mengelusnya dari luar, membuat Angga memejam keenakan. Angga memekik panjang merasakan nikmatnya yang luar biasa, padahal baru disentuh dari luar.


"Seharusnya Captain tak perlu melakukan cara kotor jika ingin aku puaskan, Capt. Kenapa Captain tidak mengatakan secara jujur jika ingin aku puaskan? Aku pasti akan melakukanya dengan senang hati." Menggombal, membuat Angga serasa dibawa terbang ke nirwana.


Tangan halus Reini terus mengelus-elus lembut milik Angga, membuat Angga mengeram nikmat.


"Ahhhh, Rein. Kamu membuat ku gi la, Rein." Kepala Angga pening, ingin Reini menyentuh miliknya secara langsung. Tapi Angga tak mengatakanya, dia ingin tahu, apa yang ingin dilakukan Reini selanjutnya.


Sesuai keinginanya, Reini menarik pembungkus terakhirnya, hingga terlihatlah milik Angga yang tegak menantang.


"Wow, Capt. Milik Captain begitu besar?" Reini takjub melihat milik Angga.


"Lebih besar mana dengan milik suami, mu. Rein?"


Ya lebih besar milik suami, ku. Secara dia ada keturunan bulenya.


"Tentu besar milik Captain, aku tak sabar bagaimana milik Captain masuk kedalam milikku?"


"Aku akan memuaskan mu, Rein. Sampai kamu benar-benar keenakan."


"Janji ya, Capt?" Reini menunduk, mendekatkan wajahnya ke milik Angga. Angga mengangkat kepalanya ingin melihat wajah Reini saat mengu lum miliknya, pasti wajah Reini terlihat sangat seksi.

__ADS_1


Namun Angga tak kuasa menahan nikmat yang diberikan Reini saat tangan dingin Reini menyentuh secara langsung miliknya. Angga memekik panjang, Reini benar-benar membuat kepalanya bertambah pening.


Namun sedetik kemudian.


"Awwwww, Reinnnnn! Apa yang kamu lakukan?"


Reini ternyata menarik dan memelintir milik Angga yang sedang tegang-tegangnya. Angga tak sempat lagi melihat Reini karena Reini langsung membungkusnya menggunakan seprei yang tadi sempat ia angkat.


"Reiiinnnnn, bukanya Reinnnnn." Terdengar redam suara Angga meminta tolong.


Dengan gemas dan nafas terengah, Reini terus membungkus tubuh Angga hingga Angga tak bisa bergerak. Lalu dengan cepat Reini mengikat sprei itu agar Angga bisa membukanya. Tanganya masih memu kul milik Angga agar Angga semakin kesakitan.


Tubuh Angga meliuk, saat Reini menendang miliknya geram.


"DASAR PENJAHAT KELAMIIIIN! Kalian pikir aku sebodoh itu mau menyerahkan harta berharga ku begitu SAJA? HAH? sekarang terbukti kan? Siapa yang pintar?" Pekik Reini marah sambil mengatur nafasnya yang terengah.


Air matanya mengalir, jantungnya memompa darahhh semakin cepat, antara takut, gemas, dan segala rasa bercampur jadi satu. Tubuhnya pun gemetar, keringat mengucur dari seluruh tubuhnya.


Angga masih bergerak-gerak coba membuka seprei, tubuhnya didalam sana merasakan gerah. Ditambah lagi, sakit yang luar biasa akibat yang dilakukan Reini, Angga merasa nyawanya sudah diujung tanduk.


Setelah memastikan Angga sudah tak berdaya, Reini mengikat kimononya, menyisir rambutnya yang basah akibat keringat kebelakang. Reini mencabut kabel lampu tidur. Untuk berjaga-jaga jika Viona masuk kedalam kamarnya.


Dengan nafas yang masih memburu, Reini berjalan kearah pintu. Dia mengintip lewat lubang pintu, memastikan jika Viona tak berada didepan pintu. Saat Reini membuka pintu, secara bersamaan Viona muncul dari samping.


Dengan tanpa perhitungan lagi, Reini mengarahkan lampu yang dibawanya mendarat dikepala Viona demi melindungi Reini. Suara keras itu membuat penghuni kamar satu persatu keluar.


"Awwwww?" Teriak dua orang pramugari yang satu kamar dengan Viona melihat Vioan berumur cairan merah dari kepalanya.


Tak lama, petugas hotel, polisi, dan security berlari-lari muncul dari lift dan tangga darurat.


Seorang petugas hotel wanita menghampiri Reini, memeluk Reini dan menutup tubuh Reini dengan selimut.


"Tidak apa-apa, Nyonya. Anda sudah aman," ujarnya. "Maafkan pihak kami yang datang terlambat, suami anda sedang dalam perjalanan kesini."


Reini menangis, tapi tak lama, pandanganya gelap, ia jatuh dalam pelukan petugas hotel itu.


Tanpa Reini sadari, saat dia ingin menghubungi Awan, jika panggilanya sudah terhubung. Awan mendengar semua pembicaraan mereka. Menyadari istrinya dalam bahaya, Awan menghubungi pihak yang mengatur penerbangan dan jadawal Reini, mencari tahu dimana, dan hotel apa Reini menginap.


Tak semudah membalikkan telapa tangan menghubungi pihak hotel, hingga terhubung dan melaporkan semuanya, kejadian ini juga terjadi begitu cepat.


Beruntung Reini bisa melindungi dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2