Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Seasion 2. Awan


__ADS_3

Ting.


Suara fingerprint tanda jika Awan sudah sampai. Reini langsung menghadang depan pintu, bertolak pinggang, memasang wajah murka siap menyambut Awan dengan semburan amarahnya.


"Assalamualaikum." Tapi suara lembut Delia yang menyapa lebih dulu membuatnya selamat dari penilaian buruk mertua terhadapnya. Wajah cemberutnya berubah senyum manis, tangan yang tadi berada disisi pinggang turun siap menyambut mama mertua dengan pelukan hangat.


"Wa'alaikumsalam, Mama." Berhambur memeluk Delia.


"Sayang, ada apa? Kamu tidak apa-apa?" Delia melepaskan pelukan, memeriksa wajah Reini, dan seluruh tubuhnya. "Kenapa telepon Awan tidak diangkat?" Selama perjalanan menuju apartemen, Delia terus meminta Awan menghubungi Reini, tapi Reini tak menjawabnya sama sekali, membuat Delia semakin khawatir.


Dulu Delia sempat dua memiliki pengalaman tak menyenangkan, Arum juga, Delia takut Reini merasakan apa yang pernah dia rasakan.


"Nggak apa-apa, Ma. Tadi cuma ada kecoa dikamar, sama kamar mandi." Bohongnya memaksakan tersenyum, lalu melirik Awan.


"Alhamdulilah, kirain ada apa." Delia merasa lega.


"Dimana?" Awan masuk, langsung memeriksa kedalam kamar, lalu kamar mandi. "Tidak ada," ujar Awan keluar. Awan menaruh curiga jika Reini berbohong, keadaan kamar dan kamar mandi rapih.


"Mu-mungkin sudah pergi," jawab Reini gugup.


Menahan kesal karena ada mamanya, Awan izin untuk membersihkan diri, membiarkan Reini dan mamanya mengobrol. Didalam kamar mandi, Awan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Reini, sepertinya Reini marah padanya? Tapi apa salahnya?

__ADS_1


Laki-laki biasanya jika mandi tidak perlu waktu lama, tapi Awan berbeda, Awan bisa menghabiskan waktu dua puluh menit hanya untuk mandi, entah apa yang dibersihkan hingga membuatnya begitu lama. Keluar kamar, Awan melihat Delia sedang mengajari Reini memasak.


"Awan itu nggak ribet makanya, cukup ayam dan tempe goreng, sama sayur bayam saja."


"Gitu ya, Ma. Berarti Reini cukup sediain ayam sama tempe aja ya di kulkas."


Delia mengangguk. "Iya, jadi kalau sewaktu-waktu pengen makan di jam horor, tinggal goreng. Berbeda dengan Angkasa, sedikit ribet. Harus berbau bumbu, seperti ayam rica-rica, ayam pedas manis, pokoknya berbau bumbu. Roti juga maunya isi srikaya, nggak mau yang lain, untung istrinya pintar masak. Juga pedagang roti."


"Pesan saja, aku nggak suka bau masakan di apartemen." Awan keluar dari persembunyianya. Duduk di pantry, mencomot satu potong tempe goreng, memakanya. "Aku nggak menuntut kamu harus pintar masak, Rein. Lakuin saja apa yang kamu mau, kalau lapar juga tinggal tekan-tekan kan?"


Tak ingin membebani Reini, Awan memberikan pembelaan. Delia makin berumur, kadang dia cerewet, kadang baik, takut Reini akan membenci mamanya karena kebawelanya, Awan memutuskan obrolan dengan makan malam bersama. Menu masakan mamanya, simple, sederhana, namun nikmat karena Awan merindukan masakan mamanya.


Terbiasa masakan rumahan, setelah menikah selalu makan diluar, membuat Awan begitu merindukan masakan seperti ini, dia sampai nambah tiga kali. Reini dibuat terheran karena belum pernah melihat Awan makan selahap in.


Awan juga merasa jika Reini sedang marah padanya, tak ingin menampik api amarah Reini semakin besar, Awan memilih tidak mengantarkan Delia pulang.


Sepulangnya Delia, Awan langsung menanyakan masalah Reini.


"Apa yang sebenarnya terjadi?"


Reini mengambil ponsel, menunjukkan status Aira yang memperlihatkanya sedang menggendong Adithya.

__ADS_1


"Jelaskan sama aku, apa maksud dari foto ini?"


Awan melihat fotonya yang diambil Aira diam-diam. Alisnya menukik, menandakan dia tak mengerti apa maksud dari foto yang dimaksud Reini.


"Aku dan Adithya, apa yang harus aku jelaskan?"


"Tadi kamu izin jika ingin ada yang dibahas dengan Angkasa. Tapi kenapa jadi menggendong anak mereka?"


"Apa salahnya?"


"Masih bertanya apa salahnya? Ya pasti karena kamu berbohong."


"Berbohong apa, Rein? Aku kesana, menggendong Adithya karena pembahasan kami selesai, jelaskan berbohong seperti apa aku?"


"Itu bukan cuma akal-akalan kamu saja? Kamu bilang sejutu aku menunda momongan tapi kamu malah berselingkuh dibelakang aku, dan memiliki anak dari perempuan lain." Reini murka.


"Astaga, Rein. Kenapa kamu berpikir sejauh itu? Aku saja tidak ada pikiran kesana, semenyebalkan apapun kamu."


"Aku menyebalkan?"


"Iya, dan kamu harus sadar diri."

__ADS_1


"Ceraikan aku jika aku menyebalkan."


__ADS_2