Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Seasion 2 . Awan


__ADS_3

"Kamu pasti bertanya apa yang ingin Om bicarakan sama kamu, Rein?" ujar Daniel saat dia dan Reini sampai si taman belakang. "Jujur, tapi ini tidak bisa ditutupi. Mungkin dari pihak Awan, dan ayah mertua kamu sedang memutar otak, dan menutupi ini, serta mencari jalan keluar."


Reini mengerucutkan keningnya, ada apa?


"Pernah tidak kamu berpikir tentang, saat kamu bekerja diluar, pihak maskapai tempat kamu bekerja tahu jika kamu merupakan istri dari direktur, dan menantu pemilik Airlangga Airlines. Mereka akan mengira jika mereka mengirim kamu sebagai mata-mata disana sebegai kompetitor, dan ingin mencari kelemahan? Mereka pasti akan berpikir seperti itu." Daniel langsung kepokok permasalahan. "Itu akan menjadi masalah besar buat keluarga suami kamu."


Astaga, Reini diam. Benar-benar tidak terpikir sampai kesana. "Kenapa Awan tidak pernah mengatakan itu, Om?"


"Kenapa mereka menutupi ini? itu semua demi kebahagiaan kamu." Pelan Daniel mengatakanya, tapi penuh penekanan dan membuat Reini sadar jika dia salah.


Reini seolah ditampar oleh kenyataan jika betapa egoisnya dia. "Meski kamu menjelaskan maksud tujuan kamu masuk kesana hanya untuk mencari pengalaman, mana ada yang percaya dengan penjelasan kamu. Maka dari itu, sebelum semua menjadi runyam dan kacau, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?"


"Tapi bukanya Merak Airlines pemiliknya juga berteman baik dengan ayah Abian."


"Kamu tidak mengenal dunia bisnis, Rein. Tidak ada teman abadi, dan tidak ada musuh abadi. Pemilik Merak Airlines dan Airlangga Airlines memang memiliki hubungan baik, tapi mereka tidak pernah melakukan kerja sama. Sebelas dua belas dengan yang namanya politik."


"Tapi Reini belum selesai masa training."


"Cukup jangan pernah masuk lagi, itu bisa membuatmu dikeluarkan."


* * *


Malamnya, Reini tidur membelakangi pintu, saat terdengar suara pintu terbuka, Reini membalikkan badan.


"Maaf, mengganggu tidur kamu." Padahal Awan sudah sepelan mungkin membuka pintu.


"Nggak papa, aku emang belum tidur." Reini malu sendiri saat melihat Awan melepaskan satu persatu kancing baju kokonya, Reini terpaksa harus menundukkan pandangan.


Awan tersenyum kecil melihat respon Reini, lalu melangkah kearah kopernya yang masih tergeletak dibawah, disamping lemari Reini.


"Besok aku rapikan pakaian kamu," ujar Reini merasa bersalah tak pernah perhatian dengan sang suami. "Untuk sebulan kedepan, boleh nggak kita masih tinggal disini? Aku nggak tega ninggalin mama sendiri."


Awan berbalik, sudah memakai kaus putih polos, dan membawa selimut. "Selamanya juga nggak papa, aku nggak masalah." Belum sempat Awan mendudukkan pantatnya di sofa, Reini kembali bicara.


"Mulai malam ini tidurlah disini. Kita masih suami istri 'kan?"


"Kamu yakin? Aku nggak masalah Rein tidur disini." Takut Reini mau berubah pikiran.


"Tapi aku maunya kamu tidur disini." Sambil menepuk bagian kosong disebelahnya.


"Benar?" Menaikkan sebelah alisnya, menyakinkan Reini, dan dijawab anggukan cepat oleh Reini.


Dirasa Reini benar-benar yakin, Awanpun ikut naik ketempat tidur Reini.


Suasana canggung menyelimuti keduanya, Reini dan Awan sama-sama diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing dengan posisi bersandar dikepala ranjang, padahal mereka itu sahabat sejak kecil. Tahu karakter masing-masing sejak dulu, tapi setelah menikah, tak ubahnya orang asing. Apalagi begitu banyak masalah yang menimpa keduanya. Orang yang menikah dengan sahabat sendiri biasnanya akan lebih menyenangkan dan cair. Tapi mereka berdua berbeda, kaku.


"Kenapa kamu nggak bilang sejak awal?" tanya Reini memecah keheningan.


"Bilang apa?" Awan menoleh.


"Tentang aku kerja di Merak Airlines, jika itu mengancam perusahaan."


Awan tersenyum tipis. "Apa om Daniel yang bilang?" Reini tak menjawab, "jika aku yang bilang, apa kamu akan menurut?"


Hati Reini seakan tercubit mendengarnya. Iya, jika Awan yang mengatakan itu, tidak mungkin dia akan menurut.


"Ayah memang memberikan mu kesempatan untuk mencari kebahagiaan mu, Rein. Dia sudah menganggap kamu sebagai anaknya sendiri. Ayah melihat sosok kamu didiri Aira, makanya ia mengizinkan itu. Masalah perusahaan, ayah sedang memikirkan cara agar kita tidak terkena masalah."

__ADS_1


Reini meremas kedua tangannya, ia mengingat malam dimana Rendy marah besar dan sampai memukulnya karena Reini dengan keras kepala tetap memilih ikut bergabung di Merak Airlines.


"Jangan permalukan papa, Rein. Berbahaya jika kamu bekerja disana?"


"Apa bahayanya, Pa? Belum juga masuk udah mikir bahayanya."


"Itu perusahaan kompetitor, mereka akan marah tahu ada istri direktur Airlangga Airlines bekerja disana."


"Alahh, itu cuma akal-akalan papa aja biar Reini nggak jadi kerja disana."


Reini mengingat pertengkaran dengan Rendy malam itu, dan setelah Reini nekat memasukkan lamaran disana, Rendy mulai sering sakit-sakitan. Dan berakhir, papanya pergi untuk selama-lamanya.


"Rein, kamu kenapa?" tanya Awan membuyarkan lamunan Reini. Reini tak dapat lagi menahan air matanya. Rasa bersalah, menyesal, menjalar didalam dadanya.


"Aku menyebalkan ya, Wan."


"No, bagiku kamu nggak menyebalkan, tapi memang itu sifat kamu."


Apa bedanya. Awan selalu ada cara membela sang istri. Padahal waktu Reini bermasalah dengan Voni dan Angga saja Reini berkata begitu. Tapi kesadaranya tak berlangsung lama, seperti tobat sambel. Reini sadar dan mengingat itu. Jka suaminya bukan Awan, apa ada yang bisa sabar menghadapinya?


"Sudahlah, Rein. Jangan dipikirkan lagi. Yang lalu biarlah berlalu, jalani yang sekarang. Aku harap kita bisa memulai semua dari nol, semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan."


Baik sekali hati suaminya, Reini sampai merasa tak pantas untuknya.


"Apa yang membuat mu bertahan sampai sekarang, Wan? Padahal aku sudah sering melakukan kesalahan."


"Komitmen, aku memegang komitmen. Dan janji setia dihadapan Tuhan kita. Ayah menyadarkan aku tentang hal itu. Kita sama-sama belajar Rein. Aku juga manusia biasa yang mungkin banyak melakukan kesalahan, mungkin bukan sekarang, tidak tahu nanti. Aku berharap kamu demikian, sabar jika aku melakukan kesalahan."


Reini terenyuh. Tuhan, terima kasih telah mengirim laki-laki baik dari keluarga baik, bagaimana jadinya jika dia mendapat mertua yang tidak pengertian? Pasti dia sudah lama didepak jadi menantu.


"Om Daniel, aku angkat dulu ya." Izinya memberi tahu. Reini mengangguk.


"Iya, Om."


"Wan, tolong Om. Om dijebak tante-tante girang di hotel buat iya, iya."


Teriak Daniel diseberang sana terdengar panik.


Rendy menarik kepalanya kebelakang, melihat nama si pemanggil, benar ini nomor omnya.


"Apa Om?" Bukan tidak dengar, hanya memastikan saja jika dia tidak salah mendengar. Pasalnya Daniel belum lama pulang dari sini bersama istrinya.


"Tadi Om nggak sengaja ketemu teman lama, habis nganterin tante kamu kerumah. Sekarang Om malah digrepein tante-tante, mana udah keriput lagi."


Entah akting atau tidak, tapi suara Daniel tidak terdengar dibuat-buat.


"Om lagi dimana sekarang?"


"Om akan kirim sharelock. Kamu cepat datang ya. Nanti Om dihamilin sama tante-tante, gimana? Bisa dipotong leher Om sama tante kamu."


Haduh, ada-ada saja. Gimana caranya sih bisa kejebak tante-tante. Meski terdengar aneh, namun Awan mempercayainya saja. Reini yang sejak tadi diam saja mendengar, melihat Awan turun dari tempat tidur dengan pertanyaan bercocol dihatinya.


"Rein, aku keluar sebentar ya. Jemput om Daniel."


"Om Daniel kenapa?"


"Nggak tahu, tapi sepertinya dia dijebak."

__ADS_1


"Dijebak siapa?" Bukan khawatir dengan Daniel, tapi Reini lebih khawatir dengan suaminya yang tidak memiliki pengalaman apa-apa tentang dunia malam. "Aku ikut." Menawarkan diri demi keamanan suaminya.


"Nggak usah Rein, kamu tunggu disini aja. Aku akan langsung pulang." Menuju koper, lalu berjalan keruang ganti untuk mengganti pakaianya.


Reini menghela nafas, tak bisa memaksa juga. "Yaudah hati-hati." Pesanya saat Awan sudah berganti pakaian dan bersiap pergi.


Awan mengangguk, saat akan keluar, dia kembali lagi. Yang tak disangka-sangka Reini, suaminya itu mengecup keningnya terlebih dahulu, dan itu berhasil membuat tubuh Reini membeku.


"I love you," ucap Awan sebelum akhirnya menghilang dibalik pintu.


Selama mereka menikah, tak pernah Awan melakukan ini. Tapi kali ini, Awan melakukanya, Reini sampai harus membuang nafas, dadanya terasa berdebar tak karuan, wajahnya pun terasa memanas. Reini menangkup wajah dengan kedua tangannya.


"Ahhhhhh." Berteriak tak jelas.


* * *


Awan tiba di hotel tempat Daniel mengirim lokasi, Awan langsung masuk kedalam lift, dan menekan nomor dimana Daniel berada. Sejak tadi omnya itu sangat bawel mengirim pesan bertubi-tubi meminta dia cepat sampai.


Awan berjalan menyusuri koridor mencari nomor kamar milik omnya. Tiba di nomor yang dicarinya, Awan menekan bel.


Tanpa menunggu lama, pintu terbuka dan menampilkan wajah Daniel yang tersenyum, seperti tidak terjadi apa-apa.


"Om nggak papa?" Masuk, membuntuti Daniel.


"Ya nggak apa-apa, emang kamu pikir Om kenapa-kenapa?" sahutnya tak merasa tak bersalah. Dengan santainya menghempaskan tubuh diatas kasur, lalu memejamkan matanya.


"Shiitttt, Om bohongin Awan?" Berkacak pinggang kesal.


"Sedikit, kalo tadi Om bilang Om nggak papa, kamu nggak bakalan kesini." Daniel membuka matanya. "Om lagi pengen kesini aja, ditemenin sama kamu."


Hadeh, nih calon penghuni kuburan kurang kerjaan sekali. "Selama udah nikah, Om tuh nggak pernah nginep di hotel, padahal pengen tahu. Tante kamu tiap diajakin nolak terus, jawabannya sama aja katanya di hotel sama dirumah."


Awan terkekeh. "Kasihan." Minum minuman orange yang ada dimeja, dia begitu haus tadi lari-larian.


Daniel mengangkat kepalanya, tersenyum melihat Awan meminum air yang disediakannya.


Dibawah, Reini yang tam tenang membiarkan suaminya pergi seorang diri, mengikuti Awan. Masuk kedalam hotel yang sama, terdengar suara memanggilnya.


"Rein."


"Tante Denisa, Tante disini juga."


"Iya, ngintilin Om kamu."


"Kok bisa? Awan juga tadi kesini ditelepon om Daniel."


"Ngapain?"


"Nggak tahu Tan, katanya om di jebak orang. Karena khawatir makanya aku ngikutin ke sini."


"Minum Rein, kamu pasti haus." Denisa menawarkan minuman. Reini menerimanya.


"Terima kasih Tante."


Denisa mengangguk. "Yuk, kita lihat mereka ngapain?"


Didalam lift Reini meminum minuman yang diberikan Denisa. Denisa yang melihat itu, tersenyum senang.

__ADS_1


__ADS_2