
Setelah Angkasa menentukan pilihannya, acara sebenarnya masih berlanjut. Rendy mempertanyakan maksud Awan yang memperkenalkan Reini sebagai calon istrinya. Awan pun menjelaskan, jika sebenarnya dia memang ingin mempersunting Reini sebagai pendamping hidupnya. Dan Arum, ia hanya memancing Angkasa agar Angkasa mengakui perasaannya pada Arum.
Disini ... Andini merasa kehadirannya hanya sebagai penggangu. Denisa dan Delia meminta maaf pada Andini atas kesalahan ini.
Delia menyetujui hubungan Awan dengan Reini, karena Delia tahu, bebet, bibit, bobot Reini yang merupakan anak sahabatnya. Semua keluarga setuju dengan hubungan keduanya, terlebih mereka juga tahu, jika sebenarnya Awan memang menyukai Reini sejak dulu.
Awan sedang mengantar Rein pulang, senyum bahagia terus terukir di bibir Awan. Akhirnya, kesabarannya untuk mendapatkan Reini akan berakhir dipelaminan.
"Aku masih nggak percaya sama kamu, kalau kamu milih aku." Tegas Reini pada Awan. "Aku takut kamu hanya jadiin aku pelarian aja, Karena Arum lebih milih Angkasa daripada kamu."
"Kamu emang mau bukti apalagi, sih Rein? Kurang, perhatian aku selama ini? Apa kamu nggak bisa meraba perasaan ku?" balas Awan tetap fokus pada jalanan aspal dihadapanya yang padat merayap.
Reini mengendikkan kedua bahunya.
"Entahlah, kamu banyak berubah selama sama Arum." Reini tak menyadari jika yang Awan lakukan demi dirinya, dan untuk membuatnya menyadari tentang perasaanya.
Awan terkekeh. "Rein, aku sama sekali nggak jadiin kamu pelarian, masa kamu nggak sadar sama rasa sayang aku selama ini?" ucap Awan coba menyakinkan Reini. "Oke, jadi aku harus apa, untuk buat kamu percaya kalau aku memang suka kamu dari dulu."
"Yakin, kamu bakal bisa menuhi permintaan aku? Tapi aku nggak yakin kamu bisa kabulin permintaan aku," kata Reini meremehkan.
"Jadi kamu ngeraguin aku?" Awan melihat Reini sekilas.
"Kalo aku minta kamu buat jadi pilot gimana? Apa kamu bakal memenuhi permintaan aku? Kamu kan tahu aku dari dulu suka sama cowok berseragam pilot." Tantang Reini menaikan sebelah alisnya.
Chiitttttttt
Seketika Awan menginjak rem mendengar permintaan Reini. Hampir saja membuat Reini tertantuk dashboard jika saja dia tak mengenakan sabuk pengaman.
"Wan, kamu apaan sih? Kamu hampir bikin kepala aku benjol tahu." Reini memarahi Awan. Mengusap keningnya tanpa menyadari perubahan wajah Awan yang rahangnya mengetat dengan pandangan ke depan.
Awan memejamkan matanya, sekelebat bayangan masa lalunya tentang ketinggian berputar dikepalanya. Sejurus kemudian keringat sebesar jagung keluar dari pori-pori Awan.
"Nggak bisa kan? Tapi kalo kamu emang cinta dan sayang sama aku, kamu pasti akan berusaha melawan ketakutan kamu itu, demi aku. Baru aku yakin kalau kamu benar sayang sama aku," ucapnya sama sekali tak memperdulikan jika laki-laki disebelahnya sedang sekuat tenaga menghilangkan rasa trauma beratnya itu.
* * *
Pagi menyapa, hari ini, akan menjadi hari baru buat Angkasa, bukan hanya hari ini, tapi hari-hari kedepannya pastinya akan full senyum. Langit diluar bahkan masih gelap, tapi dia sudah memutari lima keliling kompleks perumahan elit keluarganya.
Masih dengan singlet olahraganya, peluh yang menempel menjiplak dikulit putih bersih itu hingga memperlihatkan otot kekarnya. Tak ada kata lelah, Angkasa menggali tanah dimana dia menyimpan barang-barang berharganya. Lalu membawanya ke dapur mencucinya hingga bersih.
__ADS_1
"Sampah kok di cuci sih Den? Memang buat apa?" tanya Bibik heran.
Angkasa tersenyum lebar mendengar kata-kata Bibik.
"Ini bukan sembarang sampah, Bi. Tapi barang yang sangat berharga lebih dari emas," sahut Angkasa dengan wajah terlihat berseri-seri.
"Lah, memang apa bedanya? Cuma bungkus roti, sama botol kecap?" ucap Bibik, "diitempat sampah Bibik banyak itu."
"Bedanya, ini tersentuh kulit bidadari yang turun dari khayangan, kalo yang Bibik punya, turun dari pasar," sahut Angkasa lagi, lalu membawa barang miliknya keatas, meninggalkan Bibik yang diam mencerna ucapan Angkasa yang absurt. Barang berharga itu akan menjadi kejutan yang pasti tak pernah terpikirkan oleh siapapun.
Setelah membersihkan diri, dan menyimpan barangnya dengan rapih dan aman, Angkasa turun untuk sarapan.
"Selamat pagi, Ma. Yah." Sapanya begitu semangat empat lima. Angkasa mencium kening mamanya. Memutar meja, dan duduk di kursi yang berhadapan dengan mamanya.
"Kakak kelihatan ceria banget," Aira selalu berkomentar jika dia rasa ada yang berbeda.
"Hari sangat cerah adikku sayang, jadi nggak ada alasan untuk kita tidak ceria," ujarnya mengusak rambut sang adik dengan sayang. "Gimana kuliah kamu?"
"Lancar," jawab Aira, "Kakak ceria, pasti karena udah sah pacaran sama kak Arum, iyakan? tanyanya kepo.
"Mau tauuu aja urusan orang dewasa," Angkasa kembali mengusap rambut adik perempuan satu-satunya itu. "Doakan dia mau menerima Kakak ya?"
Abian dan Delia hanya menyimak obrolan kedua anaknya itu.
"Kakak meminta dia buat jadi istri, bukan buat jadi pacar."
"Kakak keren," ucap Aira penuh kagum pada Kakaknya itu.
"Kenapa nggak coba saling mengenal dulu? Jangan mengambil keputusan terburu-buru." Delia ikut berkomentar setelah sejak tadi hanya menyimak, sambil memasukkan potongan roti panggang yang sudah diolesi madu kedalam mulut suaminya.
Iya, Abian masih suka manja. Tapi beda perkara sekarang, jika Delia bersikap seperti itu pada suaminya, sudah dipastikan jika dia sedang ada maunya, atau minta dukungan atas apa yang akan ia ambil.
"Ang, nanti setelah sarapan Mama mau bicara sebentar, bisa?" katanya pada Awan. Benar kan, pasti ada yang ingin ia sampaikan.
Angkasa mengangguk. "Awan kemana, Ma?" tanyanya tak melihat saudara kembarnya tak ikut sarapan bersama.
"Sudah berangkat sejak tadi, dia lagi semangat cari uang untuk modal menikah."
* * *
__ADS_1
Setelah mengantarkan Abian mencari pahala mengais rejeki untuk keluarganya, Delia menuju taman belakang, dimana Angkasa sudah menunggunya disana. Angkasa duduk dikursi bulat dari rotan, ditengahnya terdapat meja bundar sebagai pembatas.
"Mama bukan tidak mendukung hubungan kamu dengan wanita itu, Ang. Tapi Mama ingin kamu mengenal banyak sifat, dan karakter wanita, apalagi ini pertama kali kamu menjalin hubungan dengan wanita, Mama tidak mau kami salah pilih," ucap Delia membuka obrolan.
"Namanya Arum, Ma. Citra Arum Pratiwi. Namanya cantik, secantik parasnya." Angkasa meralat ucapan mamanya, lalu tersenyum.
"Angkasa memang baru mau menjalin hubungan. Tapi hubungan yang serius, bukan cuma perkenalan, jika cuma mau berkenalan, cukup tau namanya, tidak usah mengajak menjalin hubungan baik dan dekat, karena ada tanggung jawab besar terhadap perasaan yang Angkasa berikan pada Arum. Bukan sekedar mengenal, lalu menghilang," ucap Angkasa.
"Angkasa sudah memikirkan matang-matang sebelum mengungkapkan perasaan pada Arum, bukan asal mengucap," sambungnya.
"Tapi kamu akan merasakan banyak luka dengan masa lalunya yang belum selesai," Kata Delia mengingatkan. Takut jika suatu saat anaknya akan disakiti.
"Angkasa yang akan menyelesaikannya." Membantu Arum menyelesaikan masa lalunya."
Delia menarik nafas, entah kenapa dia tiba-tiba begitu iri pada Arum yang bisa dengan cepat merebut hati anaknya.
"Ang, semalam ... Mama menemukan amplop ini, awalnya Mama tidak tahu itu milik siapa? Tapi setelah tahu isinya, Mama bingung harus bagaimana? Tapi, semua tidak ada yang kebetulan, Angkasa. Takdir tidak ada yang kebetulan. Mama mohon kamu pertimbangkan lagi keputusan kamu setelah membaca surat ini."
Delia memberikan amplop yang semalam diberikan Bibik pada Angkasa. Setelah memberikan amplop itu, Delia beranjak dari duduknya. Meninggalkan Angkasa sendiri yang kini membuka amplop itu, dan membaca isinya.
"*Dear Delia, sahabatku."
"Jika kamu membaca surat ini dari ku, mungkin aku sudah tidak ada lagi di dunia ini."
"Delia, kenalkan dia anakku, namanya Andini Paramita. Dia anak ku satu-satunya. Di dunia ini dia tidak memiliki siapa-siapa lagi. Suami ku, ayahnya sudah lebih dulu menghadap sang pencipta, karena serangan jantung mendadak, disaat usia Andini masih berusia lima bulan dalam kandungan. Sedangkan aku, aku ternyata mengidap kanker tumor perut, yang pastinya sangat beresiko untuk ku, maupun anak dalam kandungan ku. Berat bagiku menerima berita ini, tapi dokter memberikan dua pilihan, aku atau anakku."
"Karena aku tahu, jika usia ku tidak akan lama, aku memilih Andini untuk tahu isi dunia."
"Delia, jika Tuhan mengizinkan dia hidup hingga dewasa, aku ingin dia dipertemukan dengan keluarga yang baik dengan mu. Jika surat ini sudah sampai ditangan mu, berarti memang anak kita berjodoh, boleh kah salah satu anak mu bisa menjaga anakku? Jika kamu berkenan, izinkan anakku dijaga Angakasa hingga mereka tua bersama."
Sahabat mu, Cecilia*.
* * *
Didalam kamar.
Delia mengusap matanya, masih tak percaya jika sahabatnya telah pergi lebih dulu, terlebih dia menghadapi penyakit itu seorang diri, tanpa ada teman berbagi.
Delia mendial nomor Voni, menceritakan apa yang terjadi pada sahabat seperjuangan mereka dulu.
__ADS_1