
Pagi yang baru untuk pasangan Awan dan Reini, dimana mereka sudah menunaikan kewajiban mereka sebagai suami istri. Saat Rein membuka mata, Awan sudah menyiapkan sarapan untuknya.
"Selamat pagi sayang. Apa tidur kamu nyenyak semalam?" Awan duduk ditepi ranjang, mengusap pipi Reini lembut, membuat rona merah dipipi Reini.
"Kamu mau ngantor?" tanya Reini dengan suara serak khas bangun tidur, mengambil tangan Awan.
"Iya, banyak pekerjaan yang harus aku selesaiain."
Wajah ceria Reini berubah kecewa, padahal dia berharap Awan akan mengajaknya bulan madu dan mengambil cuti. Tapi Awan masih tetap ngantor. Reini seperti ketagihan dengan rasa yang baru ia rasakan seumur hidupnya.
"Rein, aku lupa semalam mau kasih tahu kamu kalau aku dan Angkasa sepakat merekrut Andini untuk gabung di kantor dengan perusahaan kita, kami rasa kita butuh dokter seperti Andini di kantor."
Awan memberi tahu, ia rasa apapun yang akan diambilnya, meski tentang perusahaan, tentang apapun dia harus memberi tahu istrinya.
"Kenapa ngasih tahunya setelah merekrut, kenapa nggak tanya dulu sebelum mengambil keputusan?" ucap Reini dengan wajah merengut, ia merasa tak diprioritaskan.
"Bukan begitu, ini ide Arum. Karena aku dan Angkasa pikir ini memang perlu."
Reini berdecak. "Yasudahlah, aku mau mandi. Aku mau berangkat juga."
"Kamu nggak mau ambil cuti?" Reini menggeleng tanpa menatap Awan. "Rein, tunggu." Awan menahan Reini yang hendak turun dari tempat tidur. Reini menoleh bertanya melalui tatapannya.
"Hapus foto yang kamu up-load semalam, jangan mengup-load foto yang mengundang hasrat laki-laki."
Kening Reini mengkerut. "Cuma foto begitu, masa mengundang hasrat laki-laki?" Reini menolak, bibirnya mengerucut. "Aku memakai pakaian yang nggak terbuka juga, kalau memakai bikini baru mengundang hasrat laki-laki."
"Iya, tapi foto kamu dengan rambut basah itu mengundang hasrat lawan jenis."
"Norak deh. Itu pikiran laki-laki yang ngeres aja., apa pikiran kamu begitu?"
"Iya, karena aku normal," sahut Awan. "Rein, kataku hapus, hapus! Kamu istri ku, jadi aku berhak melarang kamu melakukan itu." Perintah Awan tegas tak ingin dibantah.
Reini sedikit tersentak dengan wajah tegas Awan saat bicara barusan, tapi ia masih coba membantah.
"Kok jadi ngatur-ngatur sih?"
"Bukan mengatur, Rein. Tapi membatasi yang dirasa keliru. Menurut kamu foto itu biasa saja, tapi bagi orang lain, itu tidak wajar di tunjukkan di media sosial, dilihat umum." Wajah Awan menegas dan terlihat marah.
Reini mulai merasa ada rasa takut Awan marah begitu. "Iya, iya. Ih ribet deh," memilih mengalah. Awan memberikan ponsel Reini, meminta Reini menghapus status fotonya.
Awan kok jadi posesif sekali sih?
Gerutu Reini melirik Awan yang berdiri disampingnya, Awan memastikan Reini benar-benar menghapusnya.
__ADS_1
"Tuh, udah." Menunjukkan ponselya pada Awan.
Awan tersenyum, mengusap rambut istrinya. "Terima kasih, Sayang." Bicaranya kembali lembut. Lalu tanpa komando, Awan menggendong Reini ke kamar mandi.
"Wan, turunin aku, aku bisa sendiri." Reini memukul bahu Awan.
Tapi Awan tak menghiraukan, ia tetap menggendong Reini ke kamar mandi, meletakkan Reini di buth-up, melepaskan seluruh pakaian Reini, dan melanjutkan aktivitas panas seperti semalam. Dengan senang hati Reini melayani suaminya, sebab dia sendiri memang menginginkanya lagi, meski ada sedikit rasa perih, tak Reini hiraukan sebab rasa nikmat lebih mendominasi, meski begitu, Awan tak lupa memakai sarung pengaman demi keamanan istrinya.
* * *
Pukul delapan pagi, Reini dan Awan berangkat ke bandara bersama, selama perjalanan Awan sama sekali tak melepaskan genggaman tanganya dari Reini. Semenyebalkan apapun Rein, Awan akan menerimanya, berharap Reini bisa berpikir lebih dewasa lagi, baik tentang momongan, maupun bertindak.
Sampai dibandara, Awan turun lebih dulu, mengeluarkan koper milik Reini. Awan hanya bisa mengantar istrinya sampai didepan pintu keberangkatan, sebab dia harus ke kantor pusat.
Membuka setengah pintu, Awan memasukkan setengah badannya. "Jangan nakal, istriku. Aku punya banyak mata-mata disini kalau kamu sampai nakal." Awan mengusak puncak kepala Reini sayang.
"Iya, ih. Nanti tatanan rambut aku rusak lagi," ujarnya sebal, sambil merapikan rambutnya.
Awan terkekeh, menarik tengkuk Reini, ******* bibir Reini panas. Reini menarik diri lebih dulu, sebab mobil dibelakang mereka membunyikan klakson.
* * *
"Cieee, kayaknya semalam ada yang habis, ehem, ehem." Ledek salah satu teman pramugari Reini.
Reini tersipu malu. "Apasih?" ujarnya. Saat ini mereka sedang mengecek kesiapan pesawat yang akan mereka pakai.
"Eh, kenapa?" Tantri ini juga merupakan pramugari Airlangga Airlines.
"Katanya suaminya selingkuh gara-gara mba Tantri mandul."
Mata Reini membulat. "Apa? Tapi apa benar mba Tantri mandul?"
"Enggak tahu juga sih, Mbak. Mereka kan nikah sudah lebih dari lima tahun, tapi belum punya anak sampai sekarang."
Reini terdiam, ia jadi terpikirkan hubunganya dengan Awan. Akankah Awan akan setia padanya atas pilihanya yang menunda memiliki momongan?
"Padahal mba Tantri percaya banget kan selama ini, setiap dia cerita, dia yakin kalau suaminya pasti setia, nggak taunya sudah punya anak dari perempuan lain, anaknya itu sudah berusia tiga tahun."
Degh
Ini kisahnya kayak cerita drakor yang aku tonton kemarin.
Tak jauh dari tempat mereka berdiri, ada Viona sedang menguping pembicaraan mereka. Viona tersenyum licik, Setahu dia, Reini ini mau menunda memiliki momongan, dia yakin dia bisa memberikan pelajaran untuk Reini.
__ADS_1
Viona menghampiri Reini.
"Hai Rein. Slamat ya, sudah belah duren kayaknya semalam." Meyenggol bahu Reini.
"Hehehe, kok kamu tahu, Vi?"
Ya taulah, lo kan update status, markona.
"Dari status kamu, keramas malam-malam, apalagi coba kalau bukan habis olahraga?"
Reini terkikik, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Viona.
"Enak tahu, Vi belah duren. Ajib." Menjauhkan bibirnya, mengacungkan jempol. "Cepat nikah gih. Kalau belum ada calonya, cari aja penumpang yang cakep-cakep." Candaan Reini itu, tanpa ia sadari menyinggung perasaan Viona yang perasaanya memang sedang tidak baik-baik saja, dan menyimpan dendam pada Reini.
* * *
Terakhir penerbangannya, Reini mendapat jadwal bersama Angkasa. Pertama kali setelah Angkasa bergabung di Airlangga Airlines.
Reini dan Angkasa berjalan bersisian sambil mengobrol, dari jauh Reini melihat Arum sudah menunggu Angkasa.
"Arum rajin jemput kamu ya, Ang. Posesif banget dia sama kamu." Komenya nyinyir.
"Aku justru senang, Rein. Kebetulan dia habis dari belanja bulanan." Angkasa mempercepat langkahnya, dan langsung menghampiri Arum, mencium kening Arum penuh dengan cinta. Lalu mengambil alih Adithya dari gendongan Arum.
"Gimana sama ide aku, Sayang? Mau nggak buka cabang toko roti di bandara?" tanya Angkasa pada istrinya.
"Tadi aku sudah survei tempat," Arum melipat bibirnya, "ada tempat yang aku suka, Bang."
Huweeekkk
Abang? Menggelikan sekali panggilan sayang mereka?
"Hai, Rein. Apa kabar?" Arum menyapa Reini menyadari keberadaan Reini.
"Hai, Rum. Baik," sahut Reini. Mereka berpelukan, dan cipika, cipiki. Reini mendekatkan bibirnya di telinga Reini. "Jaga penampilan kenapa sih, Rum. Nggak lihat penampilan pramugari pada kece-kece apa?" Kembali ia mengomentari penampilan Arum.
Arum tersenyum. "Makasih pesanya, Rein. Oh ya, sekalian ada kamu, aku mau kasih kejutan buat Abang. Kamu harus jadi saksi kali ini." Arum merogoh kedalam tasnya.
"Apa sayang?" tanya Angkasa, menjulurkan leher penasaran apa yang ingin ditunjukkan Arum.
Reini juga sama, sangat penasaran apa yang ingin ditunjukkan Arum pada suaminya sampai wanita cantik meski badanya jauh lebih berisi itu tersenyum lebar, Arum mengeluarkan sebuah benda kecil dari dalam tasnya, dan memberikan pada Angkasa.
"Jangan terkejut ya?"
__ADS_1
Angkasa mengambilnya, matanya menyipit, dam kepalanya ia tarik kebelakang, untuk melihat jelas apa yang ditunjukkan istrinya itu.
"Positif sayang?" tanya Angkasa menurunkan benda itu dari hadapanya, menatap Arum dengan raut binar bahagia.