
Jam tujuh pagi Edward sudah sampai diapartemennya, setelah melakukan penerbangan dari jam empat dari kota asalnya menginap. Edward sudah mendengar kabar tentang ditangkapnya Angkasa, maka dari itu dia buru-buru pulang dan ingin memberi tahu Arum mengenai hal ini, sebab jika ingin menemui Angkasa pun dia tak akan bisa.
Saat masuk, Edward melihat Arum tidur disofa.
"Kenapa dia tidur disini?" tanya Edward pada suster Andini yang sedang memasak makanan untuk Arum.
"Nona Arum menunggu kedatangan tuan Angkasa dari semalam. Aku sudah menyuruhnya pindah, tapi Nona Arum tidak mau."
"Captain Angkasa tidak akan pulang kesini untuk sementara waktu," ujar Edward menghempaskan tubuh lelahnya di sofa single didekat Arum.
"Hah? Ada apa?" Arum yang memang tidak bisa nyenyak dalam tidurnya mendengar percakapan Edward dan suster Andini langsung bangun.
"Dia ditangkap karena positif menggunakan narkoba, dan ditemukan barang bukti didalam kopernya," jawab Edward tanpa ada yang ia ditutupi. Menatap wajah Arum yang sembab, mungkin karena begadang.
__ADS_1
Andini yang baru saja memasukkan sup kedalam mangkuk, menghampiri sambil membawa mangkuk itu, ikut duduk disebelah Arum, meletakkan sup ayam jagung yang masih panas untuk Arum diatas meja. "Bagaimana bisa?" tanyanya tak percaya menatap Edward.
Edward mengendikkan bahunya "Entahlah, aku juga tidak tahu," ujarnya melirik Arum yang kini menunduk.
"Apa memang Captain Angkasa orang yang seperti itu? Dilihat dari wajahnya, sepertinya dia bukan muka-muka orang pemakai, dia terlihat sangat sehat dan segar." Andini mengutarakan pendapatnya.
"Aku juga tidak percaya. Tapi mau bagaimana lagi, hasil tesnya positif. Kita tidak bisa menilai seseorang dari cashingnya saja, 'kan?" sahut Edward, tangannya dengan lancang mengambil sup yang tadi dibawa Andini untuk Arum dan memakanya.
"Padahal aku berharap ini kabar yang salah. Bagaimana mungkin orang baik seperti Captain Angkasa bisa menjadi pecandu," gumam Andini lagi benar-benar tidak percaya. "Nona, apa anda selama ini pernah melihat Captain Angkasa memakai obat itu, atau pernah melihatnya seperti orang yang kecanduan?" pandangan Andini berpindah pada Arum yang masih menunduk.
"Suster, bisakah Suster membelikan ku sesuatu? Emm aku sedang datang bulan," pinta Arum tiba-tiba memecahkan keheningan, tanpa canggung mengatakan hal tabu untuk laki-laki didepan Edward.
"Baik Nona. Saya akan belikan, kemarin tuan Angkasa meninggalkan banyak uang untuk membelikan semua keperluan Nona," Andini berdiri, berjalan menuju kamar Arum untuk mengambil dompetnya, tak lama ia lalu keluar, izin pada Edward dan Arum untuk membelikan apa yang Arum minta di mini market yang ada dilantai bawah apartemen.
__ADS_1
Setelah Andini pergi, Arum beranjak dari duduknya masuk kedalam kamar. Namun ia tak benar-benar menutup pintunya, ia memantau Edward yang masih duduk disofa itu yang kini menyenderakan kepala di sandaran sofa, entah apa yang ia pikirkan? Mungkin terpikirkan dengan Angkasa yang kini ditahan. Arum menghitung mundur, berharap Edward segera masuk kedalaman kamarnya untuk mandi. Dan baru hitungan kedelapan, Edward bangkit dari tempat duduknya, masuk kedalam kamar dengan koper yang ia seret.
* * *
Di kantor polisi.
Pagi-pagi Abian datang mengunjungi anaknya ditemani Awan dan pengacara yang akan menangani kasus Angkasa. Hanya Awan yang tahu masalah ini, Delia dan Aira anak bungsu mereka masih belum mengetahui apa yang terjadi pada Angkasa.
Disana ada Denisa dan Daniel yang sudah datang lebih dulu.
"Ayah." Suara Angkasa membuat semua menoleh pada Angkasa yang keluar ditemani seorang petugas.
"Pak, anak anda kami lepaskan, tapi saran kami lebih baik anak Bapak direhabilitasi, meski kecanduanya belum parah."
__ADS_1
"Hah? Apa? Jadi maksudnya Angkasa bebas?"
"Iya, Pak."