Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Seasion 2. Awan (Saling Menghargai)


__ADS_3

Suasana di meja makan keluarga Voni kini berbeda, bertambah satu orang, meja makan biasanya hening dan hanya terdengar suara dentingan sendok beradu piring, kini diisi obrolan santai Awan dan Rendy. Voni sesekali menimpali, mereka terlihat nyambung, Reini baru tahu, jika Awan mengetahui banyak hal tentang dunia penerbangan.


Reini duduk disebelah Awan, ia tegang sendiri memikirkan perkataan Awan akan jawabanya pada mamanya nanti. Dia takut, jika Awan tidak menyetujui keinginanya menunda memiliki momongan.


Selesai makan, Awan dan Rendy melanjutkan obrolan mereka di ruang keluarga.


"Buatkan kopi buat Awan, Sayang. Mama bawain camilan dan kopi buat papa." Perintah Voni membuatkan kopi untuk Rendy, sang suami.


"Suruh bibi aja kenapa sih, Ma?" Tolak Reini membantah. Mengambil anggur dari kulkas, dan memakanya.


"Untuk suami kok nyuruh orang. Kalau suami kamu kepincut sama orang bagaimana?"


"Nggak mungkin Awan suka sama bibi." Sahut Reini sibuk mengunyah.


Voni menarik nafas berat. "Buatkan untuk Awan, Rein. Bukan cuma disini, tapi saat dirumah kalian juga."


"Huh, ribet banget sih." Ngedumel, mengambil gelas di kitcen set, meracikkan kopi untuk sang suami.


"Buang tingkah kekanak-kanakan kamu, Rein. Kamu harus bisa membedakan sudah bersuami atau belum. Kemarin ngebet minta dinikahi Awan karena Angkasa sudah menikah, sekarang tidak mau mengurus dan patuh pada suami. Mau kamu apa sih?" Voni jadi geram pada anaknya.


"Mama kenapa jadi bela Awan terus sih, Ma. Anak Mama tuh Reini apa Awan sih?"


Reini meninggalkan Voni dalam keadaan geram membawakan kopi untuk suaminya, diikuti Voni. Awan dan Rendy sedang tertawa terbahak saat Reini dan Voni ikut bergabung, entah membahas apa? Reini meletakkan kopi diatas meja, duduk disamping Awan.


"Diminum kopinya, aku yang buat loh," bergelayut manja di lengan Awan.


"Iya nanti," jawab Awan tanpa menoleh kearahnya.


"Sekarang, cobain buatan aku," ucapnya, menekan lengan Awan agar segera meminum kopi buatanya.


Menjaga nama baik sang istri, Awan mengambil cangkir kopi dan menyesapnya. Rasanya pas di lidah Awan.


"Enak nggak kopi buatan aku?" Mengharapkan dapat pujian setinggi langit dari suaminya.


"Enak, ini benar kopi buatan kamu?"


"Aku kan biasa buatin kopi buat para penumpang, pasti bisalah buat kopi doank."


Awan mengangguk-angguk. "Hmm, iya juga ya." Kembali cuek, dan melanjutkan obrolan dengan Rendy. "Jadi papa dulu sempat suka sama mama Delia sebelum memutuskan nikah sama mama Voni?" tanya Awan lagi, melanjutkan obrolan mereka yang sempat terhenti.

__ADS_1


"Ooh, jadi dari tadi ketawa senang sedang bahas masa lalu?" Voni menghardik Rendy dengan tatapan tajam.


"Cuma obrolan saja, Sayang." Rendy merangkul bahu sang istri, mengecup pipi Voni. Meredam amarah sang istri, Voni mengerucutkan bibirnya.


Awan terkekeh melihat kemesraan kedua mertuanya, jika dilihat, keduanya sangat baik, saling menyayangi, Voni juga nampak istri yang patuh pada suami. Tapi kenapa istrinya sedikit berbeda, apa karena Reini anak satu-satunya, terbiasa semua keinginanya dituruti.


"Terus, apa Mama dan Papa menunda momongan dulu setelah sudah menikah?"


Pertanyaan yang ditujukan menyindir sang istri. Voni tau itu, sedang Reini masih nampak cuek, dia tetap teguh pada pendirianya.


Rendy dan Voni saling pandang, dan tersenyum malu-malu. "Kita akan mengakuinya, karena kalian sudah menikah, kalau kami sudah nabung duluan."


Uhuk ... uhuk ...


Awan sampai terbatuk mendengarnya.


"Itu terjadi karena kakek Reini tidak setuju mama Voni menikah sama Papa. Mereka mau menjodohkan mama Voni dengan tuan tanah dikampungnya. Kata mereka, menikah dengan pilot banyak kasus perselingkuhan. Tapi Papa mampu membuktikan kalau Papa tidak seperti yang mereka duga. Papa berbeda dari pilot lain." Rendy tersenyum jumawah.


"Awan salut sama, Papa."


"Itulah kenapa aku pengen banget punya suami pilot kayak Papa. Papa keren." Sambar Reini membalas sindiran Awan tadi.


"Wan, apa benar kalian akan menunda momongan?" Pertanyaan Voni pada Awan membuat Rendy terkejut.


"Apa menunda momongan?" tanya Rendy dengan mata melotot. "Apa benar, Wan?"


Awan diam, tak langsung menjawab. Reini menunggu jawaban Awan harap-harap cemas. Reini menggigit bibirnya.


"Rein, jelaskan sama Papa apa alasan kalian menunda momongan?" Tak ada jawaban dari Awan maupun Reini, Rendy bertanya pada Reini.


"Reini masih senang terbang, Pa. Nggak mau terhalang karena Reini hamil, takut baby kenapa-napa lah, mabuk lah. Reini nggak mau direpotkan dengan hal itu."


"Dan, kamu? Kamu setuju, Wan?"


"Aku setuju saja, Pa. Karena yang hamil Reini, bukan Awan," jawab Awan cepat tanpa ragu. "Sejak awal Awan menikahi Reini, Awan akan menerima semua kekurangan Reini. Termasuk keinginan Reini yang menunda memiliki momongan."


Rendy menghela nafas lemah menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Apa Papa harus menghamili Mama kamu biar Papa bisa menimang bayi? Atau Papa cari Mama muda yang mau hamil karena Mama kamu tidak mungkin hamil lagi."

__ADS_1


"APA? PAPAA ... TARIK UCAPAN KAMU?" Voni yang duduk disamping Rendy langsung menerjang Rendy, memu kuli dada Rendy membabi buta. "Inget umur kamu mau punya istri dua. Aku akan laporkan sama Abian biar kamu dipecat biar tahu rasa," ucap Voni terus menyerang suaminya.


* * *


"Makasih ya Sayang, udah setuju buat ngunda punya momongan." Reini memeluk Awan dari belakang setelah menutup pintu dan menguncinya.


"Hem," Awan hanya menjawab dengan gumaman.


Sayang? Awan geli mendengarnya.


"Kamu tunggu di kasur ya, aku punya kejutan buat kami." Reini melenggang ke ruang ganti.


Awan menatap punggung Reini yang menghilang serta berdendang. Awan pikir kemarin saat ia meninggalkan Reini bersama mamanya dirumah sakit, menemani Arum akan tergerak hatinya untuk punya keinginan memiliki momongan, nyatanya tidak. Reini tetap pada pendirianya.


Kemarin, sebelum memutuskan menjawab keinginan Reini untuk menunda momongan, Awan menceritakan masalahnya dengan Daniel. Dia tak mungkin menceritakan ini pada mamanya atau Abian, sebab ia takut mamanya akan kecewa, sebab Reini menantu yang diinginkan Delia.


Masukan dan nasihat dari Daniel cukup membuka pikiran Awan lebih luas lagi.


"Jika Reini memutuskan menunda momongan. Kamu tidak bisa memaksanya, Awan. Dia yang akan mengandung, melahirkan, dan mengurusnya. Jika kamu tetap memaksakan, kasihan anak kalian nanti. Dia yang akan menjadi korbannya, anak itu bisa cacat dari lahir karena ibunya tidak menginginkan kehadirannya. Atau dia memiliki sifat tempramen bawaan sifat ibu saat mengandungnya, sulit bersosialisasi, dan memiliki sifat buruk lainya," jelas Daniel menjabarkan berdasarkan ilmu yang ia dapat dari sang istri.


"Salah kamu juga, Wan. Dari awal ragu untuk menikahi Reini, tapi nekat menikahinya. Om pernah gagal dan jadi laki-laki breng sekk. Tapi Om tidak mau kamu mengalami hal yang sama. Selagi kesalahan Reini masih dalam batas wajar, terima dia. Bimbing dia secara perlahan, jadilah suami dan laki-laki yang baik, itu yang namanya menerima kekurangan, menerima apa adanya bukan ada apanya."


"Tapi jika kamu sudah melakukan berbagai cara menjadi suami yang baik, bersabar, namun dia tetap tidak berubah dan masih membangkang, lambaikan bendera putih. Lepaskan, tanpa harus menyakiti."


Tapi Awan punya pilihan sendiri.


"Sayang, kamu ngelamunin apa sih?" Reini naik ke tempat tidur dari sisi yang berbeda. Awan menoleh, Reini datang dengan pakaian dinas malam, terlihat seksi dan menantang. Awan hanya menatapya saat Reini terus mendekat dengan senyum yang menggoda.


"Sayang," Reini mengusap dada Awan dengan jemari halusnya. "Malam ini aku sepenuhnya milik kamu." Bisiknya lalu menggigit telinga Awan sensual. Awan membiarkan itu.


"Terima kasih sudah mau bersabar, untuk tidak melakukan malam pertama kita, malam ini aku akan memberikan apa yang menjadi hak kamu." Reini hendak duduk diatas pangkuan Awan, tapi Awan menahan dada Reini dengan jati telunjuknya.


"Aku belum bilang sama kamu ya, Rein." Mendorong dada Reini agar menjauh, hingga Reini terduduk. "Aku menghargai keputusan kamu untuk menunda memiliki momongan, tapi aku juga memiliki keputusan yang harus kamu hargai." Ditatapnya mata Reini dalam. Reini diam menunggu yang akan dikatakan Awan selanjutnya.


"Tidak ada kebutuhan batin selama kamu masih dalam pendirian mu. Apalagi bulan madu, kita tidak akan pernah melakukanya."


Reini diam tak menjawab, cukup terkejut dengan keputusan Awan.


"Kita saling menghargai dan menerima," ulang Awan perkataanya. Membaringkan tubuhnya membelakangi Reini, menutup tubuh dengan selimut.

__ADS_1


__ADS_2