Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Keputusan


__ADS_3

"Maafkan kami Nyonya Delia, Tuan Abian. Kami harus mengatakan yang sebenarnya terjadi. pada Tuan muda Angkasa." Ucapan awal dokter saat memanggil Delia dan Abian berhasil membuat tubuh Delia menegang, dia sudah bisa menebak arah yang akan disampaikan dokter itu.


"Sebenarnya, seluruh saraf Tuan Angkasa sudah tidak berfungsi lagi jika tidak ditunjang oleh alat yang menempel ditubuhnya saat ini."


"Dari awal anakku dibawa masuk kesini aku sudah mengatakan jangan pernah katakan itu pada kami. Aku akan membayar sepuluh kali lipat jika kalian bisa membuat anak saya sembuh." Abian tak sanggup mendengar kabar apapun dari dokter kecuali kesembuhan anaknya.


"Tapi kami sudah berusaha semam-"


"Jangan teruskan omong kosong mu itu. Aku sudah katakan jangan pernah ucapkan apapun kecuali tentang kesembuhan anakku."


Setelah memarahi dokter itu Abian keluar, disusul Delia yang mengejar langkahnya sambil terus memikirkan apa yang disampaikan oleh dokter tadi.


"Panggil adik mu dan tanya apakah dia punya teman dokter terbaik yang bisa dipercaya untuk menangani anak kita."


Sungguh Abian sangat frustrasi saat ini, jika kemarin-kemarin dia bisa tenang, setelah mendengar apa yang disampaikan dokter tadi membuat Abian yang belum sanggup untuk menerima kenyataan yang begitu cepat untuknya.


Setelah Delia menghubungi Denisa untuk membawa dokter terbaik, dan tak lama Denisa datang bersama suami dan dokter terpercaya. Namun hasilnya tetap sama yang mengatakan jika Angkasa sebenarnya sudah tidak bisa bertahan jika alat-alat itu dilepas dari tubuhnya.


"Tapi jika Bapak mau, saya ada kenalan dokter di Arab Saudi. Dia dokter yang sama yang menangani pangeran Arab yang koma saat ini. Disana peralatanya cukup lengkap dan canggih." Saran salah satu teman Denisa.


"Lakukan apapun itu jika bisa membuat anakku bertahan hidup."

__ADS_1


Bukan hanya tentang dirinya Abian melakukan itu, tapi juga memikirkan nasib Arum serta anak yang ada dalam perut Arum. Abian sampai mengabaikan masalahnya dengan Axel, karena ingin fokus pada Angkasa.


"Baiklah kami akan mempersiapkanya, Pak." Pamit dokter laki-laki berusia hampir enam puluh tahunan itu.


"Aku juga, Kak. Aku tinggal dulu, nanti aku kesini lagi untuk nemenin Kakak."


Denisa tak bisa menemani sang kakak yang sedang tertimpa musibah sebab ia sedang mendapatkan tiga pasien operasi dikliniknya.


"Kami akan kesini lagi, A'." Daniel juga harus pergi menemani sang istri.


"Bi, apa nggak sebaiknya kita kerumah Mama dan Papa dulu untuk menanyakan hal ini?"


Bagaimanapun keputusan mereka, mereka tetap harus meminta saran pada yang lebih tua. Delia selalu melibatkan orangtua Abian jika ingin mengambil keputusan besar, dan setiap mereka mendapat masalah selalu meminta saran pada orangtua Abian, sebab mama Delia sendiri sudah berpulang tak lama setelah kelahiran Danish.


"Jadi menurut papa Arum tidak perlu tahu hal ini?" tanya Delia pada papa mertuanya yang ia anggap sudah seperti ayah kandungnya sendiri.


"Untuk sekarang jangan dulu. Serahkan Arum pada kami. Dan biarkan dia tetap fokus pada anaknya. Aku tidak ingin cicit pertama ku lahir dengan gizi buruk."


"Papa nggak marah Angkasa melakukan itu, Pa?" tanya Delia, melihat tak ada raut terkejut saat mereka memberi tahu jika Arum sedang mengandung anak Angkasa, sebelum adanya ikatan pernikahan yang sah.


"Mau marahpun sudah terjadi, dan tak akan mengubah apapun itu," jawab Tuan Philips Hamzah santai. "Toh sekarang mereka sudah mendapatkan hukuman dari Tuhan langsung."

__ADS_1


Ini yang selalu membuat Delia berbagi masalah dengan papa mertuanya.


"Apa tidak kita nikahkan saja Arum dengan Awan, Bian?" sekarang mama Amanda mengungkapkan pendapatnya.


Yang berada diruangan itu seketika diam mendengar pendapat mama Amanda.


"Tidak! Kita tidak bisa mengambil keputusan begitu saja. Kita lihat saja kedepannya, semoga ada perubahan dari Angkasa setelah mendapatkan perawatan lebih baik. Bukankah yang kalian lakukan untuk Arum juga dan anaknya, kan?" Abian dan Delia mengangguk.


"Tapi Awan mau, Kek. Menikahi Arum dan bertanggung jawab atas kehamilan Arum," kata Awan datang tiba-tiba. Membuat seisi rumah terkejut dengan keputusan Awan.


* * *


Nyatanya Arum tak menaruh curiga sama sekali saat dia diajak ke kantin rumah sakit dan diberi makanan yang lezat yang menggugah nafsu makan Arum.


Dan setelah itu, Arum juga diberi kesempatan untuk menginap diruang Angkasa.


Tanpa canggung Arum naik ketempat tidur Angkasa dan ikut berbaring disisi Angkasa.


"Hai, selamat malam." Arum tersenyum, tidur menyamping menatap wajah tampan lelaki yang telah memberinya rasa nyaman itu. Ia menyelipkan jemarinya disela jari Angkasa yang bebas tanpa terhalang jarum suntik.


"Seneng nggak malam ini aku temenin tidur?" Jemari Arum kini berpindah memainkan alis tebal Angkasa yang berejejer rapih. "Senengkan?" Arum bertanya sendiri.

__ADS_1


"Makanya kamu cepet bangun, jangan bobok terus. Nanti kamu bisa lihat wajah cantik aku tiap pagi." Tanganya melingkar diatas perut Angkasa.


Tak lama Arum ikut terlelap, hingga esok pagi saat ia bangun, ia mendapati Angkasa yang matanya masih terpejam erat, tanpa ada firasat apapun.


__ADS_2