Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Seasion 2. Awan


__ADS_3

Reini berlenggak-lenggok didepan cermin, menatap dirinya yang sudah cantik, ia akan turun membeli hadiah untuk anak Arum dan Angkasa. Disamping hotel mereka menginap ada sebuah mall besar, jadi Reini tak perlu jauh-jauh mencari kado untuk anak Angkasa. Hampir satu jam Reini berada di toko khusus anak, ia membeli berbagai pasang pakaian, mainan dan kebutuhan bayi lainnya.


Reini pusing karena di toko itu terlalu banyak anak kecil, terbiasa hidup tenang dan damai tanpa kebisingan, dia tidak suka suara riuh anak kecil. Ingin pindah ke toko lain, tapi toko ini paling besar dan lengkap.


Untung di toko itu tak ada drama anak kecil menabraknya, sambil membawa es krim. Reini sampai membayangkan itu saking tidak sukanya, kalau itu terjadi mungkin dia akan dijuluki si antagonis di dunia halu karena dia akan memarahi anak tersebut.


Saat sedang mengantri di kasir, seseorang menoel pundaknya.


"Hai istri, Awan." Panggil orang itu.


Reini menoleh. "Om Daniel." Sedikit Menarik kepalanya kebelakang.


"Kamu istri Awan, kan?" Reini terkekeh. "Kebetulan banget ketemu disini, kamu sendirian?"


"Iya, Om. Beli hadiah untuk anak Angkasa."


"Oh, udah selesai?"


"Iya, ini lagi antri bayar."


"Biar sekalian Om yang bayarin, Om juga tadi beli sesuatu untuk anak Angkasa." Daniel menunjukkan kotak besar berisi mainan pesawat. Menawari Rein dan dijawab anggukan oleh Reini.


"Serius, Om? Boleh-boleh." Reini menggeser tubuhnya memberi ruang untuk Daniel.


Setelah membayar, Daniel mengajak Reini makan di restoran yang berada dilantai atas. Menu ayam cepat saji mereka pilih.


"Gimana rasanya setelah menikah, Rein? Enak?" Entah enak apa yang dimaksud Daniel.


"Enak, Om. Ada yang merhatiin, ada yang sayangin, pokoknya enak deh, mau belanja ada yang kasih uang," jawab Reini sambil menye dot jus strawberry miliknya. "Uang Reini utuh deh."


"Berarti Awan baik ya sama kamu?"


"Baik, Om."


"Apa yang membuat kamu tertarik sama, Awan. Sampai kamu minta dinikahi Awan, bukanya kalau tidak salah kamu dulu suka sama Angkasa?" Daniel membersihkan mulutnya, dua roti berlapis daging ia makan. Daniel menatap Reini, penasaran ingin tahu jawaban Reini.


"Iya, tapi Angkasa kan nggak suka sama Reini, Om," jawab Reini balase menatap Daniel. "Yang buat Reini tertarik sama Awan, mungkin karena kesabaran dia menghadapi Reini, ketulusan Awan yang nggak Reini temui dari laki-laki lain."


"Tapi kamu cinta kan sama Awan?"


Reini sedikit berpikir. "Reini nggak suka Awan dekat dengan wanita lain, termasuk saat dia dekati Arum untuk memancing Angkasa, dan itu atas ide gi-la Om. Apa itu bukan cinta namanya?" Reini memberi tatapan kesal pada Daniel.


Daniel terkekeh. "Tapi kenapa kamu sampai menunda buat punya anak? Bukanya kalau saling cinta itu tujuan utama punya anak?"


"Awan cerita sama, Om?"

__ADS_1


"Sedikit, dia hanya butuh masukan saja."


"Om ini sudah tua tapi pikirannya masih sempit. Reini tanya sama, Om. Apa yang membuat pernikahan langgeng dan bahagia? Apa punya anak salah satu kunci kebahagiaan orang menikah? Sedangkan Om lihat sendiri di berita yang sedang ramai sekarang, punya anak banyak, harta melimpah, tetap mereka memilih berpisah."


"Salah satunya, tapi yang paling utama saling menerima dan tidak mementingkan ego masing-masing," Daniel bersedekap, Reini sepertinya memiliki sifat keras kepala yang sulit dirubah. Awan akan butuh kesabaran lebih menghadapi istri seperti Reini, dia sendiri baru mengobrol tidak lebih dari satu jam sudah cukup kesal.


"Om tahu fenomena yang sedang menimpa negara maju seperti Korea dan Jepang? Sekolah-sekolah disana banyak yang sepi karena sedikitnya anak kecil, mereka memilih childfree lebih bahagia ketimbang punya anak. Tapi kenapa kita negara berkembang selalu diriwehkan dengan urusan, punya anak, punya anak. Bisa nggak sih itu nggak perlu diperdebatkan dan jangan dijadikan masalah?"


Daniel tersenyum masam. "Om jadi kasihan sama Awan kalau kamu bilang begitu dan memilih childfree, sepertinya Om harus mencarikan wanita yang ingin mengandung anak Awan." Daniel terkekeh setelah mengatakan itu.


"Om!" Reini tak terima, matanya membulat sempurna.


"Om kemarin yang menyarankan Awan untuk bersabar dan mengikuti apa keinginan kamu, karena menurut Om, kamu hanya belum siap saja memiliki momongan, tapi setelah obrolan singkat ini, Om akan menyarankan apa yang Om katakan padamu, tadi."


"Jadi Om hanya memancing, Reini?"


"Om cuma ingin tahu apa alasan kamu saja, Rein. Kalau jawaban kamu sementara saja karena belum sanggup, bisa dimaklumi. Tapi sepertinya kamu memilih untuk childfree, bukan menunda. Kenapa tidak dibicarakan sebelum terjadinya pernikahan?" Daniel mulai berkata dengan formal, itu tandanya dia menunjukkan mulai tidak suka.


Daniel orang yang tidak suka berbasa-basi atau bertele-tele, dia selalu menem bak ke inti pembicaraan.


"Orang tua mu, tahu?"


Reini menunduk, Daniel menyeretnya dalam masalah besar.


"Pikirkan lagi pilihan kamu, Rein. Om tidak akan membiarkan Awan menghabiskan waktunya sia-sia. Kamu harus mencari laki-laki yang satu pemikiran dengan mu. Awan bukan laki-laki yang tepat," ujar Daniel bersiap akan pulang. "Pembicaraan ini Awan tidak akan tahu, Om hanya ingin kamu berpikir cepat, tinggalkan Awan dan bebaskan dia jika kamu mencintainya."


* * *


"Rein, Kamu dimana? Aku akan jemput kamu."


"Aku di restoran samping hotel, Wan."


"Are you okey, Baby? Suara kamu kedengeran lemes."


"I'm okey. Aku tunggu kamu disini, Wan."


Butuh waktu lima belas menit dari Awan menelepon Reini. Dia sudah berada di restoran tempat Reini duduk seorang diri, mereka langsung bertolak ke rumah Angkasa dan Arum.


Saat mereka sampai disana, Angkasa belum pulang, Arum dirumah bersama Delia.


"Pengantin baru datang, coba kamu gendong, Wan. Anak Angkasa sudah berat banget, Arum sampai kewalahan kasih asinya." Delia langsung memberikan anak Angakasa pada Awan, dengan wajah senang Awan menerimanya.


Reini memperhatikan wajah bahagia Awan menggendong keponakanya. Lalu dia melihat wajah tampan dan lucu anak Arum dan Awan, saat ini masih belum tergetar hatinya untuk memiliki anak kecil. Lalu dia duduk disamping Arum yang sedang makan.


"Naik berapa kilo dari setelah melahirkan, Rum?"

__ADS_1


"Hampir sepuluh, Rein. Kelihatan sekali ya gendutnya?"


Reini mengangguk. "Heem, kucel lagi."


Arum tertawa, tak tersinggung sama sekali, karena dia merasa seperti itu, Arum kurang tidur, Adithya termasuk anak yang rewel, inginya digendong terus. Angkasa memang siaga, tapi Arum tak tega jika Angkasa harus mengurus anak mereka sepulang bekerja, apalagi pekerjaanya penuh resiko. Asisten rumah tangga mereka hanya bertugas membersihkan rumah dan memasak, untuk urusan anak, Arum ingin mengurusnya sendiri.


"Kamu tahu lingkungan pilot kan? Rubah sedikit, takutnya Angkasa kepincut pramugari yang cantik-cantik." Sepertinya Reini melampiaskanya kekesalanya pada Arum.


Arum sontak menatap Reini, jika ucapan Reini tadi yang mengatainya kucel tak berpengaruh untuknya, tapi untuk kali ini dia terusik. Delia dan Awan sedang berada di balkon mengajak Adithya bermain, jadi tak mendengar obrolan Arum dan Reini.


* * *


Esok paginya Andini datang kerumah Arum, Angakasa semalam tak pulang karena harus terbang keluar kota, meski maskapai milik keluarganya, dan yang menjadi direktur saat ini adalah saudara kembarnya, Angkasa tetap profesional.


Delia tak bisa menginap karena Abian tiba-tiba sakit. Andini pulang dari jaga piketnya langsung bertolak kerumah Arum.


Saat ia masuk ke kamar Arum, Arum sedang termenung, dengan Adithya berada dipangkuanya.


Tiga kali Andini mengetuk, Arum tak merespon, Andini pun masuk meski tanpa izin.


"Rum." Andini sampai harus mengguncang pundak Arum untuk menyadarkan Arum.


"Andini, kapan sampai?"


"Dari semalam," Andini mencebikkan bibir kesal. "Mikirin apa sih, sampai aku panggil dan ketuk tidak dengar?"


Arum menggeleng. "Tidak ada."


"Sini, aku ganti gendong Adithya." Andini menggendong Adithya dari Arum. "Sudah mandi? Mandi gih, nanti ayang embeb pulang belum rapih." Canda Andini.


"Mungkin tidak sih, Andini. Angkasa akan berpaling hati dari aku?"


Andini menggoyang-goyangkan Adithya di gendonganya sambil menggodanya.


"Kalau dari kacamata penglihatan aku sih, tidak mungkin. Kenapa jadi memikirkan jauh kesana?"


"Aku sekarang kucel, gendut. Aku takut Angkasa akan mengkhianati pernikahan kami, An."


"Mama Delia mungkin orang pertama yang akan membu nuh Angkasa jika hal itu terjadi," jawab Andini, sesekali ia menggoda Adithya yang kini sudah bisa tertawa. "Kemarin-kemarin biasa saja, kenapa sekarang jadi kepikiran. Ada yang bicara macam-macam?" Andini dokter yang menangani Arum sejak dulu, perubahan sekecil apapun dari Arum ia tahu.


"Kemarin Reini datang kesini, dia bilang kalau aku tidak bisa merawat diri, tidak menutup kemungkinan Angkasa akan tergoda dengan perempuan lain," jelas Arum, "apalagi semalam Angkasa tidak pulang, An. Aku takut kalau sampai Angkasa ..." Mata Arum sudah mengembun, pikiranya jauh menerawang, dimana dia mengenal Alex yang suka tidur dengan salah satu pramugari nakal.


Meski tidak semua pramugari seperti itu.


Tapi Angkasa sudah hampir minggu lebih ini puasa, saat berada dirumah Angkasa selalu menggodanya, Arum takut Angkasa tak bisa menahan nafsunya saat jauh darinya.

__ADS_1


"Ambil sisi positif apa yang Reini katakan, Rum. Jangan diambil pusing, kamu tetap cantik seperti ini, tapi kamu juga harus menjaga diri, bukan dengan tubuh yang ideal. Tapi selalu wangi, bersih, rapih, itu yang utama."


Arum melirik jam yang menempel di dinding, sudah jam tujuh lewat. Tapi dia belum membersihkan diri, Arum membaui tubuhnya, agak sedikit kecut bercampur minyak telon, benar kata Andini, dia harus menjaga kebersihan tubuhnya, ambil positif apa yang dikatakan Reini.


__ADS_2