
Jika ditanya apa yang dirasakan Arum saat ini? Pasti jawabanya tidak tahu. Arum banyak diam setelah Oma Amanda mengatakan kondisi Angkasa, dan mengajaknya untuk terbang ke Arab pagi buta.
Arum seperti mayat hidup yang bisa berjalan, tanganya dingin, pandangannya kosong kedepan. Amanda menyesal telah jujur, sungguh dia terpikirkan keselamatan bayi Arum. Bayi itu satu-satunya peninggalan berharga dari Angkasa.
Mereka sudah didalam pesawat, dan lepas landas dua puluh menit yang lalu.
"Kita doakan sama-sama ya, semoga ada keajaiban untuk Angkasa."
Oma memegang tangan Arum. Arum tak merespon, dia tetap menatap luar jendela, menatap pemandangan dari ketinggian. Itu mengingatkan Arum pada masa-masa ia dan Angkasa masih bekerja dulu, memang waktu yang singkat, karena Angkasa harus terlibat masalah karenanya.
Awan, Aira, dan pak Philips Hamzah mengaminkan ucapan Oma Amanda dalam hati, menatap iba pada Arum. Keluarga inti ikut serta untuk melihat Angkasa yang terakhir kalinya, sebelum alat yang menempel ditubuh Angkasa dilepas. Awan tahu betapa hancurnya hati Arum saat ini, terlebih ada bayi anaknya dan Angkasa didalam perutnya. Untuk berjaga-jaga, mereka juga mengajak dokter pribadi Arum, keram dan melilit yang Arum rasakan semalam, bentuk reaksi atas kabar buruk yang ia dengar.
"Semoga dengan kehadiran mu, dan anak kalian, membuat Angkasa bisa bangun. Tidak ada yang tidak mungkin 'kan?"
Tapi kalian telah memisahkan kami.
Perjalanan yang ditempuh kurang lebih delapan jam lebih sembilan menit itu berlalu cukup lama. Kenapa tidak? Karena Arum tak membuka suara sama sekali. Bahkan Arum juga tak minum atau makan sedikitpun, dan itu membuat yang lainnya khawatir dan ikutan tidak makan.
Sampai dibandara Dubai, mereka dijemput menggunakan dua mobil berlogo R. Lima belas menit mobil yang membawa Arum sampai dirumah sakit. Di lobby Abian sudah menunggu kedatangan mereka.
Dituntun Aira, Arum mengikuti langkah cepat Abian menuju ruang dimana Angakasa dirawat, Arum tak perduli sapaan Abian yang menyapanya. Sampai diruangan dimana Angkasa dirawat, Arum langsung dipersilahkan masuk. Delia sampai menahan diri untuk tak memeluk Arum, sadar dari tatapan Arum yang tak sabar ingin menemui Angkasa.
Begitu kaki Arum melangkah masuk, hati Arum langsung berdenyut hebat melihat wajah Angkasa, Arum tak bisa lagi menahan tangisnya, rindu yang ia rasakan selama tujuh bulan ini terbayar meski Angkasa belum membuka matanya.
Arum memindai ruangan itu, semua alat serbah canggih, dan ruangan itu terlihat mewah seperti dikamar hotel. Mata Arum tertuju pada alat yang yang ia tak tahu namanya. Grafiknya lurus, kadang ada gelombang, banyak kabel yang terhubung ditubuh Angakasa, tapi apalahdaya jika tak bisa membangunkan belahan jiwanya. Arum mengambil tangan Angkasa yang tertancap jarum infus.
__ADS_1
Arum ... Pesimis
"Aku kangen kamu." Suaranya lirih, bahkan nyaris tak terdengar. Membawa tangan Angakasa untuk diciuminya. "Kamu kapan bangun? Anak kita sebentar lagi lahir, aku belum ada persiapan apa-apa, aku juga belum tahu jenis kelamin anak kita." Arum menghapus air matanya, mneyusut ing us yang membuat hidungnya mampet.
"Aku benci sama orang yang ingkar janji, kamu tahu itu? Jadi cepat bangun, aku tagih janji kamu membawa ku ke pelaminan."
Arum terguguh, ia meringis merasakan gerakan anaknya yang seolah meloncat kegirangan diajak bertemu sang ayah. Cepat Arum membawa tangan Angkasa keperutnya.
"Dia senang bertemu kamu," menggeser-geser tangan Angkasa merespon agar anaknya kembali bergerak.
Dari luar, semua yang melihat itu ikut tersenyum melihat pemandangan Arum yang tersenyum mengajak Angkasa bicara pada anaknya. Tapi tak urung rasa sedih itu merampas, sebab tak kuasa akan kenyataan yang menunggu nasib Arum dan anaknya yang akan kehilangan sosok laki-laki yang akan menjadi teman hidupnya.
"Lihat, dia bergerak," Arum tertawa senang. "Kamu merasakannya kan? Dia senang bertemu kamu," perut Arum bahkan terlihat menonjol pada bagian yang bergerak. "Aku bisa menebak, sepertinya dia baby boy, tendanganya begitu kuat."
Arum seperti orang tidak waras, setelah tadi dia tertawa senang, dengan sekejap dia menangis.
"Tuhan tidak adil pada kita, kenapa dia harus memisahkan kita dengan cara seperti ini? Aku nggak sanggup hidup sendiri Angkasa. Bangun, aku terbang jauh dalam keadaan hamil tua. Itu akan membuat seorang pilot marah kan? Tapi para awak kabin tadi baik, mereka mengizinkan aku terbang jauh, karena ada dokter kandungan yang mendampingi ku."
"Pengen deh aku sombong dan pamer punya suami kaya seperti kamu. Tapi apa itu bisa jadi kenyataan, kalau kamu memilih untuk meninggalkan kami."
Lebih dari tiga puluh menit Arum didalam sana, menceritakan saat-saat dia ngidam, mengenai pembukaan toko rotinya yang kini memiliki tiga cabang, dia yang tinggal dirumah Oma, dan Arum yang baru tahu jika mereka terpisahkan jarak yang begitu jauh. Hampir tak ada cerita yang terlewat, Arum menceritakan semuanya secara detail.
* * *
Semua anggota keluarga sudah melihat Angkasa. Sudah waktunya alat-alat yang menempel ditubuh Angkasa dilepas. Dengan berat hati Abian menandatangani semua berkas perjanjian pihak rumah sakit.
__ADS_1
"Bukan kami tidak ingin membantu, Pak. Tapi kami tak ingin memberikan harapan jika kami sudah tahu hasilnya seperti apa? Semua selnya sudah tidak berfungsi. Sebulan kami menunggu sebuah keajaiban, tapi malah mendapati penurunan fungsi sel."
Abian mengangguk pasrah, dia paham posisi sang dokter.
"Sekali lagi maafkan kami." Sungguh meskipun hal ini biasa dialami setiap dokter, jika mengatakan tentang kegagalan mereka, mereka tak kuasa.
Dokter datang keruangan untuk izin melepaskan alat pada pihak keluarga. Semua pihak keluarga sudah ikhlas dan pasrah. Mau dipaksakan juga, itu hanya akan menyiksa Angkasa, dan juga yang menunggunya.
Delia mengeratkan pelukan pada Arum, mengusap perut Arum yang sudah besar terakhir dari dia melihatnya. Tubuh mereka bergetar, seiring satu persatu alat yang dilepas.
"Tunggu!" Cegah dokter tiba-tiba. Para perawat yang membantu, menghentikan kegiatan mereka menatap sang dokter. Hampir saja alat EKG yang ingin dilepas membentuk garis lurus, berubah menjadi gelombang naik turun.
"Ini sungguh sebuah keajaiban," Dokter dan perawat tersenyum senang. "Subhanallah, tiada kuasa melebihi kuasa Allah."
Dokter segera memeriksa kondisi Angkasa, dokter itu merasa takjub, memang ilmu kedokteran itu pasti, tapi yang lebih pasti keajaiban dari Tuhan.
"Lepas alat pendukung, kita ganti alat EKG dan oksigen saja."
"Ini sungguh Dokter?" Perawat yang menangani Angkasa juga tak percaya.
"Mungkin banyak hal yang harus ia selesaikan." Senyum bahagia muncul dari para petugas medis itu. Kesembuhan pasien, adalah bahagian mereka juga.
Dokter keluar ruangan dengan senyuman yang merekah. Abian, dan yang lainya sampai heran.
"Sepertinya pengurusan kepulangan jenazah kita batalkan," ucap dokter pada Abian.
__ADS_1