Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Season 2. Awan.


__ADS_3

Kehidupan pernikahan Angkasa dan Arum semakin hari semakin harmonis, Angkasa juga sudah membelikan rumah untuk sang istri.


Hari ini adalah hari pernikahan Awan dan Reini, tapi Angkasa masih melakukan penerbanganya ke luar kota, dan pagi ini baru mendarat di ibu kota. Arum menjemput sang suami ke bandara dan membawakan baju ganti yang akan Angkasa kenakan di hari pernikahan saudara kembarnya. Arum tersenyum melihat langkah gagah suaminya dengan seragam pilot yang menempel pas ditubuh sang suami.


"Ganteng sekali sih, suamiku."


"Cantik sekali istriku." Angkasa mencium kening, dan mengusap perut besar Arum. "Apa kabar anak daddy? Hari ini nggak bikin repot mommy kan?"


"No Daddy, aku jadi anak baik."


"Ehem, saya tidak di puji, nih. Nyonya Angkasa." Edward muncul dibelakang Angkasa.


"Hai Captain Edward, lama tidak bertemu," sejak kejadian dulu, memang mereka tidak bertemu lagi. Edward sibuk dengan dunia penerbanganya. "Kamu akan tampan di mata wanita yang mencintaimu, karena laki-laki paling tampan dimata ku, hanya suami ku." Arum mengedipkan mata pada Angkasa, dan bergelayut manja di lengan sang suami.


"Hem iya, iya. Hanya Captain Angkasa yang tampan. Aku cuma raket penepuk nyamuk."


"Yuk, nanti Awan marah kalau kita terlambat."


"Aku sudah bawakan baju kamu, nanti ganti dikamar hotel saja."


"Terima kasih Sayang, maaf merepotkan mu."


* * *


Pernikahan Awan dan Reini diadakan di hotel berbintang ditengah ibu kota, sesuai permintaan Reini pads Awan. Semua harus serba mewah. Pernikahan mereka juga dihadiri lima ratus undangan. Diantaranya para pejabat negara yang mengenal Abian, dari kalangan pengusaha, artis ibu kota, dan teman-teman Reini di pramugari dan beberapa pilot yang memang sedang memiliki jadwal lembur, juga teman sekolah Reini yang sebagian besar merupakan teman Awan juga.


Awalnya Arum dan Angkasa diminta Delia untuk merayakan pernikahan mereka bersama dengan Awan, tapi Arum menolak. Selain karena malu perutnya yang sudah membesar. Arum juga sekarang mudah lelah, baru juga setengah jam dia bergabung, Arum sudah berkata.


"Bang, kita ke kamar yuk. Kepala ku pusing. Kelamaan berdiri, kaki ku juga bengkak." Tidak mungkin Angkasa tidak mengikuti keinginan sang istri, ia pun mengiyakan permintaan Arum karena memang memasuki hpl kaki Arum terlihat bengkak. Padahal ia rajin jalan pagi setiap hari.

__ADS_1


Ya, pada akhirnya Awan memilih tetap menikahi Reini meski ada keraguan dalam pilihanya. Awan akan menerima Reini apa adanya, dan membimbing Reini menuju rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan warahmah.


"Dalam berumah tangga, dua pikiran manusia tidak akan pernah bisa dipersatukan. Hanya ada, salah satu saling mengalah jika ada perselisihan. Salah jika perpisahan dilandasi karena adanya ketidak cocokan. Yang ada itu saling mengerti dan menerima, membimbing ke jalan yang benar jika salah satunya salah. Namun jika salah satu sudah memiliki wanita atau pria idaman lain, maka harus dilepaskan, apapun alasannya. Mendua itu tidak dibenarkan, karena akan menyakiti hati salah satunya, tidak akan ada kesempatan kedua."


Itulah pesan tegas yang disampaikan Delia dan Voni pada anak mereka.


Setelah pagi acara akad, siang harinya langsung diadakan resepsi di hotel yang sana. Awan dan Reini terlihat seperti raja dan ratu sehari. Reini tampil dengan gaun mewah berharga fantastis berwarna birunya, dengan mahkota berlian yang menghias kepalanya. Sedangkan Awan juga tampak gagah dengan setelah jas biru langit dan kemeja putih didalamnya, warna kesukaan Reini.


Untuk mahar Reini meminta uang sebesar lima ratus juta, satu set perhiasan senilai dua ratus juta, dan satu unit mobil berlambang bintang bersudut tiga, yang harganya tak kalah fantastis. Delia menyanggupi permintaan anak sahabatnya itu.


Pukul lima sore resepsi selesai, para tamu undangan satu persatu berpamitan, tersisa keluarga inti.


"Wan, Om kasih kamu empot-empot ayam biar gacor." Daniel memberikan sesuatu pada sang ponakan, langsung memasukkan ke kantong jas Awan.


Awan merogoh dan melihat benda mirip togek.


"Ini buat apa, Om?" tanya Awan yang memang tak tahu itu apa? Melihatnya saja baru pertama kali.


"Om ini pertama buat kami, nggak perlu pake beginian."


"Udah, pake aja. Bisa sampai sepuluh ronde."


"Yang ada Reini lumpuh, Om."


"Anak kemaren sore nggak paham. Udah pake aja, Reini pasti ketagihan, jangan pernah ragukan ajaran, Om." Tak ingin dibantah lagi, Daniel langsung meninggalkan Awan yang kebingungan.


Awan mencari keberadaan Reini, ternyata Reini sedang berbicara dengan seorang teman. Awan pun menghampiri keduanya.


"Suaminya nyusulin tuh. Aku cabut ya, bicarakan dulu sama suami mu. Nanti baru temui aku." Wanita yang Awan duga teman Reini pamit pulang setelah beramah tamah dengan Awan.

__ADS_1


"Apa maksud teman kamu tadi bicarakan dulu sama aku, Rein?" tanya Awan setelah mereka masuk kamar.


"Oh iya, Wan. Kita jangan ngelakuin itu dulu ya malam ini, soalnya aku belum pasang kb. Jadi maksud teman aku, aku tanyain dulu sama kamu, kamu setuju apa enggak kita nunda momongan, padahal kamu mau-mau aja 'kan Wan?"


"Maksud kamu apa, Rein?" Awan mempertegas.


"Ya maksud aku, kita jangan punya anak dulu, makanya aku mau kb dulu sebelum kita ..." Reini jadi malu menyebutkanya.


"Rein kamu sadar sama keputusan kamu? Masalah momongan jangan ditunda, aku nggak mau." Awan menolak ide gila Reini.


"Tapi aku nggak mau hamil dulu, Wan. Aku masih senang kerja di dunia penerbangan, aku nggak mau gendut. Kamu mau aku kayak Arum yang sekarang jalan aja susah akibat dari atas sampai bawah paha semua?"


Awan tak jadi berucap lagi, ia membuang nafas lewat mulut.


"Aku tidak pernah setuju, Rein. Pikirkan lagi sebelum mengambil keputusan besar seperti ini." Buyar sudah hayalan Awan tentang indahnya malam pertama. Untuk mendinginkan kepalanya yang tiba-tiba seperti terbakar, Awan memilih keluar dari kamar.


"Kamu mau kemana, Wan?"


"Cari wanita yang mau hamil anakku." Jawab Awan menutup pintu, mengabaikan teriakan Reini yang memanggilnya.


Sedang kamar yang berada dua dari kamar mereka, dua pasang suami istri sedang memadu kasih. Ini sudah ronde ketiga Angkasa memanen madu Arum, dengan alasan membukakan jalan lahir sesuai anjuran dokter.


"Perut aku kayak keram, Bang." Keluh Arum saat Angkasa menjatuhkan tubuhnya disamping sang istri.


"Masa, Sayang?"


Arum mengangguk. "Kayak ada mulas-mulasnya juga."


"Sayang kamu nggak bercanda?" Arum menggeleng, matanya sudah terlihat merah.

__ADS_1


"Astaga, anak soleh daddy. Jangan lahir sekarang ya. Tunggu daddy bersihin badan Mommy dan daddy mandi dulu. Sebentar oke?" Angkasa mengajak anaknya yang masih didalam perut Arum bicara.


Angkasa pun jadi seperti orang kebingungan, ia bingung mana yang harus di dulukan. Dia yang mandi dulu, atau Arum yang ia mandikan dulu.


__ADS_2