Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Melaporkan


__ADS_3

"Selamat pagi, selamat datang. Ada yang bisa saya bantu?" Sapa Arum ramah pada ketiganya. Arum tahu betul siapa mereka setelah mengetahui Alex memberitahunya kemarin, tapi sebisa mungkin Arum tenang, dan pura-pura tidak tahu.


Andini yang tadi berdiri didepan etalase, memilih pindah didekat Arum. Dia merasa ketiga orang yang datang itu bukan orang baik.


"Kamu yang namanya Arum?" tanya salah satunya mendekati Arum, dan yang duanya menjaga pintu masuk. Tanganya ia letakkan diatas etalase, mencondongkan badan, wajahnya begitu dekat dengan wajah Arum.


"Iya," jawab Arum, sebisa mungkin menyembunyikan rasa takutnya.


"Berarti kamu anaknya Dikdik." Dia tersenyum menyeringai, bibir atasnya berkedut-kedut mengamati tubuh Arum dari atas hingga bawah. "Bayar hutang Dikdik," katanya semakin memajukan wajah seramnya mendekat pada Arum.


Arum otomatis memundurkan wajahnya.


"A-aku tidak tahu hal itu, jadi itu bukan urusan ku."


Brakkk


Laki-laki bertubuh tegap itu menggebrak etalase Arum, membuat Arum, Andini dan dua karyawan perempuan baru Arum berjengit kaget sambil memegangi dada mereka, untung etalase berbahan kaca itu tidak pecah yang bisa saja mengenai wajah mulus Arum.


"Kamu mau membayarnya atau tidak? Atau aku ratakan toko ini dengan tanah?" Ancamnya dengan suara tertahan tapi cukup mengerikan.


Arum dan Andini saling berpelukan takut. Arum menelan salivanya kasar, tapi dia memberanikan diri bertanya.


"Oke, berapa yang harus aku bayarkan?" Padahal Arum bisa mengatakan jika mereka pembohong, tapi Arum menghindari agar mereka tidak melakukan kekerasan, sedikitnya ada rasa trauma Arum mengenai hal itu.


"Dua ratus juta," jawabnya sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengah saling menempel.


"Aku tidak punya uang sebanyak itu, dari mana aku harus membayarnya?" kata Arum beralasan.


Arum melirik pada pintu masuk, ada beberapa orang yang ingin masuk, tapi tidak jadi karena pintu dijaga oleh dua orang teman pria itu.


"Itu bukan urusan ku, satu minggu lagi aku akan datang, dan uang itu harus ada. Kalau tidak? Kamu bisa membayarnya dengan cara lain." Laki-laki itu kembali memindai tubuh Arum dengan tatapan lapar ingin memangsa, membuat Arum bergidik takut.


"Kamu tahu maksud ku, bukan?"


Arum tak menjawab, sudah pasti Arum tahu apa yang dimaksudnya. Tapi kemudian Arum mengangguk kecil sebagai jawaban agar ketiga orang itu segera pergi dari tokonya. Dan benar saja, laki-laki didepan Arum itu tersenyum devil, lalu dia keluar mengajak kedua temannya yang tadi berjaga didepan pintu pergi.


Arum, Andini, dan kedua karyawan Arum bisa bernafas lega setelah kepergian ketiga laki-laki berpenampilan preman itu.


"Siapa mereka bertiga Nona? Kenapa menagih hutangnya pada Nona?" tanya Andini penasaran.

__ADS_1


"Entahlah, mungkin mereka bertiga suruhan papa tiriku," jawab Arum. Andini mengerutkan keningnya, mereka cukup bahaya dilihat dari penampilannya.


"Tadi mereka sempat mengancam Nona, Nona harus berhati-hati," kata Andini mengingatkan Arum.


"Iya." Arum melihat kedua karyawannya. "Kalian jangan khawatir, mereka tidak akan datang lagi." Arum berkata agar kedua karyawan yang baru masuk itu tidak takut lagi untuk kembali bekerja besok.


* * *


Pukul enam sore, Angkasa sudah mendarat dari penerbanganya. Dihari pertamanya kembali menjadi seorang pilot, tak ada kendala apapun, perjalananya lancar, dan pesawat-pesawat yang ia kendalikan dalam keadaan baik.


Angkasa begitu semangat kembali ke dunianya lagi. Para awak kabin yang lain juga menyambut Angkasa dengan hangat.


Tapi suasana kali ini berbeda, dimana tak ada lagi persaingan dingin seperti yang dulu pernah terjadi antara dia dan Alex.


"Ang, tunggu!" Panggil Reini berlari mengejar langkah panjang Angkasa. Angkasa berhenti sejenak, laku kembali melanjutkan langkahnya tanpa menunggu Reini.


"Ang." Panggil Reini lagi, kali ini Angkasa benar-benar memberhentikan langkahnya.


"Ada yang mau aku bicarakan sama kamu," kata Reini dengan nafas ngos-ngosan akibat mengejar Angkasa tadi.


Tak dapat menolak, karena ada yang ingin Angkasa bicarakan juga pada Reini, akhirnya mereka duduk berdua di coffe shop yang ada dibandara.


"Oke, aku akan bicara sekarang," gadis itu tahu keinginan Angkasa, dia menghela nafas.


"Ang, bisakah kamu ajak Awan untuk latihan penerbangan, atau rayu Awan biar mau ikut sekolah penerbangan, gitu?" kata Reini.


"Memang kenapa? Rein, kamu orang paling tahu Awan, bukan? kalau Awan tidak bisa ketinggian."


"Iya, aku tahu. Tapi bisakan Awan melawan ketakutanya itu? Apalagi demi aku."


Kening Angkasa terlihat belipat mendengar perkataan Reini. Jadi penyebab Awan kemarin kambuh karena permintaan Reini?


"Aku rasa kamu tidak perlu memaksakan kehendak mu, dan memaksa Awan untuk melakukan itu, Rein. Kamu tahu, akibat ulah mu ini, Awan hampir saja pergi dariku untuk selamanya?"


"Itu karena Awan tidak didampingi, coba kalau didampingi, aku yakin Awan bisa melawan ketakutanya."


"Rein, diluar sana banyak laki-laki pilot yang mau dengan kamu, tanpa kamu harus memaksa Awan melakukan itu, tinggalkan dia, jika memang kamu tidak mencintainya." Angkasa berdiri, dia harap Reini cukup paham dengan apa yang dikatakannya.


Angkasa tak ingin berlama-lama berdua dengan Reini, takut dia akan kelepasan dan meluapkan kekesalanya karena Reini terlalu memaksakan kehendak.

__ADS_1


Reini yang ditinggalkan kesal, bicara pada Angkasa sama saja percuma, dia masih berpendapat, jika Awan banyak dukungan dari orang-orang disekitarnya, Awan pasti bisa sembuh.


* * *


Mobil yang mengantar Angkasa berhenti didepan toko Arum. Hari sudah gelap, tapi Arum masih berada di tokonya. Angkasa melihat wajah kekasihnya sedang serius menekan tombol pada kalkulator sambil tertunduk, Arum terlihat begitu serius, dan terlihat amat cantik dimata Angkasa.


Mendorong pintu kaca, Angkasa mendapat sambutan dari karyawan Arum yang belum mengenal Angkasa.


"Selamat malam," sapa keduanya. Mereka terpaku dengan ketampanan Angkasa. Angkasa membalas dengan senyuman manisnya, langsung berjalan menghampiri Arum yang belum menyadari kehadirannya.


"Selamat malam, apa masih ada roti srikaya disini." Mendengar suara yang tak asing, Arum jadi mendongak.


"Hei."


Kedua karyawan Arum yang baru ingin menghampiri Angkasa, seketika terdiam, saat Angkasa dan Arum berpelukan didepan mereka. Mereka sampai melongok melihat pemandangan yang membuat iri setiap wanita yang melihatnya.


"Kenapa belum pulang sudah malam?" tanya Angkasa membelai wajah sang kekasih.


"Pengen lembur saja, lagian aku suntuk berada dirumah."


"Dua karyawan mu cukup membantu, kan?" Arum mengangguk. "Kita keluar makan malam kalau begitu, aku lapar." Angkasa menggandeng tangan Arum, mengajaknya keluar.


"Aku alan keluar sebentar, aku titip toko," pesan Arum pada kedua karyawannya untuk menjaga tokonya terlebih dahulu.


* * *


"Bagaimana hari ini?" tanya Arum, menatap wajah tampan Angkasa yang duduk dihadapannya. Angkasa balas menatapnya, senang ditanya seperti itu oleh Arum, berarti dia diperhatikan oleh wanita yang disukainya.


"Menyenangkan, penerbangan ku semua lancar, tak ada kendala apapun. Bagaimana toko hari ini?" tanyanya balik.


"Ada sedikit masalah, tadi pagi ada tiga orang yang datang."


* * *


Mendengar laporan dan cerita Arum, Angkasa bergegas untuk melihat cctv yang ia pasang di toko. Melihat rekaman tadi pagi, membuat Angkasa mengepalkan tangannya kuat karena marah, sebab laki-laki itu berani menyentuh wanitanya sampai menggebrak etalase.


"Aku akan menyalinya, dan akan melaporkan ke kantor polisi, ini tindak kekerasan dan penipuan," ujar Angkasa. "Kalau bisa, seminggu kedepan, jangan buka toko terlebih dahulu, aku takut terjadi sesuatu padamu."


"Tidak apa-apa, aku akan tetap buka. Mereka datang seminggu lagi, dan hari itu aku tidak akan buka toko."

__ADS_1


"Aku akan meminta orang untuk berjaga di toko."


__ADS_2