
Tujuh bulan berlalu.
Arum mengusap perutnya yang kini sudah terlihat membesar, dia berdiri didepan jendela kamar yang ia tempati dilantai dua. Kamar yang disediakan Amanda. Yah, pada akhirnya Arum tinggal dirumah itu atas permintaan Amanda. Awalnya Nining tidak mengizinkan Arum tinggal disana, sebab dia juga kesepian jika tidak ada Arum.
Nining memang marah saat mengetahui Arum berbadan dua, tapi bukan berarti dia tak menerima kehadiran cucunya. Namun penjelasan mama Amanda tentang kondisi Angkasa, membuat Nining akhirnya mengizinkan Arum tinggal dirumah nenek dari laki-laki yang merupakan ayah dari bayi yang dikandung Arum.
Dari atas Arum melihat kedatangan Awan. Ini masih pagi, dilihatnya Awan datang membawa banyak belanjaan ditangannya, apa yang laki-laki itu bawa, Arum tak tahu.
Sejak kedatangan Reini waktu itu, Arum paham apa yang dimaksud Reini. Arum sebenarnya tak mau menghindar saat bertemu Awan, dia tak memiliki rasa apa-apa pada Awan, Arum juga tidak berpikiran jika akan merebut Awan dari Reini meski nanti Angkasa akan meninggalkanya untuk selamanya, Arum berjanji tidak akan mencari pengganti Angkasa. Tapi justru Awan yang menghindarinya, laki-laki yang merupakan kembaran calon suaminya itu menghindarinya karena Awan tak ingin perasaan salah yang tiba-tiba muncul itu semakin tumbuh dan berkembang, tapi Arum tak tahu jika Awan memiliki rasa padanya.
Awan merutuki hatinya yang begitu mudah dan selalu menyukai wanita yang mencintai Angkasa. Sebisa mungkin Awan mengubur perasaan itu dalam-dalam, dia menyibukkan diri dengan bekerja dan bekerja, sampai Awan menjadi kandidat direktur utama yang akan menggantikan Abian nanti.
Setelah Angkasa dipindahkan ke Arab Saudi untuk kesembuhanya, Abian tidak pernah kembali, alhasil kursi direktur kosong. Tak ada yang menggantikan posisinya, Awan tak serta merta bisa begitu saja mengambil alih, harus melalui prosedur dan persetujuan dari berbagai pihak, meski perusahaan milik keluarganya. Jadi Awan bekerja keras, membuktikan pada semua orang jika dia layak menggantikan posisi sang ayah.
Arum sendiri, selama tujuh bulan ini. Dia dibuat sibuk dengan berbagai kegiatan, Amanda sengaja membuatnya sibuk, Amanda juga selalu memintanya menemani ke yayasan yatim piatu yang wanita itu kelola. Amanda juga terkadang masih aktif dengan geng sosialitanya yang berjumlah tiga orang. Kadang-kadang hal itu membuat Arum pusing, karena diantara mereka ada yang sudah pikun, tapi cukup menjadi hiburan tersendiri untuk Arum, hingga membuatnya kadang tak sempat terpikirkan Angkasa yang tak ia tahu kabar dan keberadaannya.
Toko roti Arum yang kini sudah berkembang dan memiliki tiga cabang, membuat Arum sibuk harus bolak-balik mengecek toko rotinya, masih ada didalam kota, hanya saja letaknya cukup berjauhan.
Selama tujuh bulan ini, meski serapat mungkin keluarga Abian menyembunyikan Angkasa. Lama-kelamaan Arum merasa aneh, setiap Arum menjenguk Angkasa dirumah sakit, dokter selalu mengatakan jika kini Angkasa tidak bisa dijenguk terlebih dahulu. Arum mendapati kejangggalan demi kejangggalan, dimana dia tidak pernah melihat keberadaan Delia maupun Abian disana, meski hanya berpapasan.
Dimana mereka? Apa yang terjadi sebenarnya? Ada apa dengan Angkasa, Arum bertanya-tanya dengan dada yang mulai sesak, hingga membuatnya sampai mual.
* * *
Dirumah sakit Dubai, Arab Saudi. Yang menjadi rumah sakit terbaik disana.
Abian dipanggil oleh dokter yang menangani Angkasa.
"Silahkan duduk, Pak," ucap dokter laki-laki yang memakai
"Tuan, saya sudah mengatakan ini yang ketiga kalinya. Jika anak Anda sudah tidak merespon apa-apa lagi. Kecuali ia bertahan karena alat yang menempel ditubuhnya," ucap sang dokter yang merupakan asli orang Arab, bicara dengan bahasa inggris yang fasih.
Abian diam mendengar laporan itu, tubuhnya lemas saat mendengarnya. Ia keluar dari ruang dokter, berjalan gontai menghampiri sang istri yang menunggu diruang rawat Angkasa. Ruang yang sama dengan ditanah air. Satu kamar, tapi terpisah dengan ruang Angkasa.
"Maafkan kami, Tuan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Sejak awal anak Anda dibawa kesini, keadaannya memang sudah tidak tetolong. Tapi saya berusaha semaksimal mungkin dan tetap berhusnudzon atas keajaiban Tuhan."
__ADS_1
Kata itu terngiang ditelinga Abian. Jadi anaknya tak bisa diselamatkan?
Abian menghapus embun dimatanya saat membuka pintu ruangan. Dimana Delia baru saja selesai makan, tersenyum menatap suaminya yang baru datang.
"Sudah selesai makanya?" Abian duduk disisi Delia, mengusap rambut istrinya yang belum memutih.
"Udah. Kamu dari mana?" Tidak tahu jika suaminya baru dari ruang dokter, sebab tadi Delia sedang dikamar mandi saat dokter memanggilnya.
Abian diam sejenak, menarik nafas dalam sebelum menjawab.
"Kita sudah berusaha sebaik mungkin. Tapi mungkin kuasa Tuhan yang lebih baik." Berkata sambil tersenyum dan masih mengusap rambut Delia dengan kelembutan.
Delia yang sedang membersihkan bibirnya dengan tissu memperlambat gerakanya, menatap sang suami yang tersenyum, senyum penuh luka.
"Tuhan lebih sayang pada anak kita, sayang. Perjuangan kita selesai sampai disini."
Air mata Delia jatuh begitu saja.
"Enggak, Bi. Aku yakin anak kita bisa bertahan." Abian menarik kepala istrinya kedalam dadanya.
"Aku juga berharap demikian, sayang. Tapi sudah saatnya kita ikhlas, kita sama saja menyiksanya jika memaksakan Angakasa dengan alat-alat itu ditubuhnya." Mengecup puncak kepala Delia, dan menumpuhkan dagunya disana.
Hampir setengah jam Delia menumpahkan kesedihanya didada Abian. Delia mengangkat kepalanya, mendongak menatap sang suami.
"Aku mau mendatangkan Arum kesini, Bi. Aku yakin Tuhan masih memberi ku kesempatan menebus dosa ku. Dan Angkasa juga. Aku yakin Tuhan maha baik yang masih memberikan kesempatan untuk umatnya bertaubat."
Abian berpikir sejenak, dia tidak yakin. Tapi Abian tidak ingin mengecewakan sang istri.
* * *
Kembali ke Tanah Air.
Jam menunjukkan pukul sembilan malam, Arum baru saja mengobrol dengan Nining lewat sambungan telepon, menanyakan kabar tentang dirinya dan anaknya.
"Kamu sudah USG, anaknya perempuan atau laki-laki?" Ini bukan pertanyaan pertama dari Nining, dari usia kandungan Arum empat bulan, Nining selalu bertanya tentang hal itu.
__ADS_1
"Belum, Ma. Nanti saja kalau ayahnya sudah bangun. Arum ingin yang mengetahui langsung jenis kelaminya ayahnya sendiri."
Nining tersenyum getir. 'Ayah?' Pantaskah hal itu disematkan pada seorang pasangan yang belum menikah. Dan satu lagi, Nining pesimis atas kesembuhan Angkasa yang dia tahu, kondisinya sampai saat ini belum ada kemajuan sedikitpun.
"Ma." Panggilan Arum. "Mama masih disana?"
"Eh, iya sayang. Ada apa?"
"Selama tujuh bulan tinggal disini, Arum tidak pernah bertemu Angkasa dan kedua orangtuanya. Apa Mama tahu sesuatu, Ma? Setiap Arum ingin menjenguk Angkasa, dokter bilang jika ruangan Angkasa harus steril, tak boleh ada yang mengunjungi. Tapi Arum rasa itu bohong, Arum rasa ada yang disembunyikan dari Arum."
"Mama tidak tahu, sayang. Apa kamu pernah bertanya pada Oma Amanda?"
"Arum sungkan mau bertanya." Padahal selama ini Arum penasaran bukan main. Ingin sekali ia menanyakan hal itu pada Amanda, tapi sempat Arum bertanya, Amanda sudah lebih dulu mengatakan.
"Kamu jangan berpikir yang macam-macam ya, pikirkan saja tentang kehamilan kamu, anak kamu terjaga nutrisinya. Jangan memakirkan keadaan Angkasa, Angkasa sudah ada yang menangani dengan baik."
"Yasudah Nak kalau begitu. Apapun itu Mama yakin itu yang terbaik untuk kamu dan anak yang ada didalam kandungan kamu. Sekarang kamu istirahat, sudah malam. Jangan lupa minum vitamin hamilya."
Arum mengangguk, sungguh sebuah keberkahan yang begitu besar, Nining kini perhatian dan menyayanginya. Hubunganya dengan Nining layaknya hubungan anak dan ibu yang normal dan harmonis. Dulu jangankan perhatian, menanyakan Arum sudah makan apa belum saja Nining tidak pernah.
Yang Nining lakukan dulu, hanya menyiapkan makanan untuk Dikdik, dan melayani Dikdik.
Saat Arum sudah menutup tubuhnya dengan selimut, dan mematikan lampu utama menggantiya dengan lampu tidur, pintu kamarnya diketuk.
Tok Tok Tok
"Arum, ini Oma. Kamu sudah tidur?"
"Belum Oma." Arum beranjak, membukakan pintu. "Masuk, Oma."
Wanita tua yang jika naik keatas lantai dua selalu ditemani art-nya itu masuk.
Amanda duduk dibibir ranjang dengan tangan yang selalu mengusap punggung tangan Arum. Awalnya dia berbasa-basi, lalu menceritakan semua kebenaran yang selama ini ditutupi.
"Tolong kuatlah. Kami tidak bermaksud menyembunyikan ini dari mu. Tapi kami tidak mau kamu terpikirkan keadaan Angkasa, tapi mengganggu kesehatan kehamilan mu." Amanda berucap dengan suara bergetar, dengan mata yang sudah basah.
__ADS_1
"Besok, kita bersama-sama pergi kesana untuk melihat Angkasa yang terakhir kalinya, berdoalah agar ada keajaiban untuk Angkasa dan kebahagiaan kalian."
Arum tak tahu harus berkata apa? Dia juga tak tahu saat ini dia masih bernafas atau tidak? Rasanya dunianya runtuh, yang terasa saat ini, hanya perutnya yang tiba-tiba kram, dan sedikit melilit.