Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Melepas Rindu


__ADS_3

Sebagai ungkapan rasa syukur, Abian dan keluarga memanjatkan doa ditanah suci selama lima hari. Semua yang terjadi tanpa sengaja, karena tujuan awal mereka kesini bukan untuk itu. Dibalik musibah besar yang mereka hadapi, ada hikmah yang bisa dipetik.


Angkasa memanjatkan doa dalam kesempatan kedua untuknya ini, dia meminta kesehatan yang walafiat. Sebab, sehat walafiat iyalah sehat yang bermanfaat untuk keluarga dan orang lain. Dan memohon atas segala kesalahan yang telah ia perbuat, dan juga sang istri.


Banyak yang mereka beli sebagai oleh-oleh untuk kerabat. Tapi yang utama, hadiah paling banyak untuk baby boy yang baru mereka ketahui saat melakukan usg dirumah sakit tempat Angkasa dirawat. Angkasa sampai gemetar mendengar detak jantung anaknya untuk pertama kalinya.


Rasa syukur saja rasanya tak cukup untuk Angkasa mengungkapkan kebahagiaanya. Sebagai penebus waktu yang ia lewati, Angkasa sampai meminta Arum kemana-mana untuk duduk dikursi roda, takut istrinya itu kelelahan.


Dan kini mereka sudah berada dibandara untuk pulang ketanah air.


"Padahal aku bisa jalan sendiri loh, Bang." Akhirnya Arum memanggil Angkasa dengan panggilan sayang itu, atas permintaan Angkasa.


"Jika perlu pun, aku mau gendong kamu sampai tanah air." Arum tertawa lepas atas jawaban Angkasa. Dan pemandangan itu tak luput dari perhatian Delia.


"Aku dosa ya, Bi. Sempat mau memisahkan mereka." Delia mengusap lengan suaminya melihat tawa Arum dan Angkasa didepan mereka.


"Tidak sayang. Kamu nggak salah, wajar kamu melakukan semua cara sebagai bentuk rasa sayang seorang ibu pada anaknya." Abian selalu paling bisa membuat hati istrinya yang selalu ia cinta itu tenang.


Berbeda dengan saat berangkat, kali ini Arum memakan apapun makanan yang ada dipesawat. Seperti orang yang seminggu tidak makan, Arum tak ada kenyangnya mencicipi semua makanan yang ditawarkan.


Oma Amanda sampai berkali-kali mengusap ujung matanya.


"Dia kemarin tidak makan sama sekali, rasanya Oma ikut kenyang melihatnya," Amanda bicara pada Aira.


"Aira juga ikut merasakan kebahagiaan yang dirasakan kak Arum dan kak Angkasa, Oma."


"Semoga kebahagiaan selalu menyertai mereka."


"Semoga kebahagiaan juga selalu menyertai Oma." Aira menyandarkan kepalanya dibahu sang Oma.


"Buat Oma bahagia dengan menjaga kehormatan kamu," Amanda berpesan.


"Iya Oma. Aira janji."

__ADS_1


Awan yang melihat kebahagiaan Angkasa, ikut bahagia juga. Tapi ada yang mengganjal di pikiranya, Reini sempat mengirimkan pesan padanya untuk segera menikahinya setelah sampai di tanah air, seperti Angkasa dan Arum.


Apa dia sudah mantap memilih Reini sebagai pendamping hidupnya? Sedang ada banyak kebimbangan dihatinya.


Awan tak tahu saja jika Reini juga sudah menghubungi Delia, meminta agar Awan cepat melamarnya nanti.


* * *


Rasa lelah selama diperjalanan, seketika hilang saat begitu antusias keluarga besar menyambut kepulangan Angkasa.


Mereka sampai menangis haru dan memeluk Angkasa, tak menyangka jika Angkasa bisa pulang dan berkumpul bersama lagi.


"Alhamdulilah kita bisa bersama lagi, Ang. Kamu hebat bisa melewati semuanya." Denisa menangkup wajah sang keponakan dengan air mata yang berlinang.


"Semua atas doa-doa Tante dan yang lainya. Dan juga ada sepasang sayap Angkasa." Angkasa merangkul pinggang Arum, dan mengusap perut besar Arum.


Meladeni keluarga yang membesuk tak ada habisnya, Angkasa dan Arum diminta untuk beristirahat lebih dulu, sebelum besok mereka akan melakukan syukuran kehamilan Arum, sekaligus keselamatan Angkasa.


"Aku belum menyiapkan rumah untuk kita, maaf ya kita harus tinggal disini untuk sementara waktu." Angkasa memeluk Arum dari belakang. Menopang dagunya di pundak Arum.


"Aku mau jengukin baby boy, boleh?" Bertanya sambil mengecup leher Arum, membuat Arum kegelian.


"Emang kamu nggak kecapean?" Pertanyaan yang menunjukkan lampu hijau. Suara Arum pun terdengar parau, dan mengundang nafsu yang sudah diubun-ubun minta langsung disalurkan.


"Untuk masalah menghisap madu, kumbang tidak pernah ada kata capek atau lelah." Angkasa memutar tubuh Arum menghadapnya. Bibirnya seperti vakum yang langsung menyedot bibir Arum sampai dalam.


Arum menyambutnya dengan senang hati. Akhirnya, perintah untuk istirahat mereka gunakan untuk melepas rindu dan memadu kasih. Kali ini berbeda dengan yang pertama, mereka sudah dalam ikatan yang halal.


Dengan perlahan, Angkasa memaju mundurkan pinggulnya takut mengganggu yang didalam, Angkasa masih sempat mengalami kesulitan sama seperti saat pertama, ditambah ada yang hidup didalam sana. Hingga baru dua puluh menit, rahang Angkasa sudah mengetat tanda dia sudah sampai dipuncaknya dan menumpahkan laharnya didalam milik sang istri, dan dia merasakan milik sang istri yang berkedut dan menjepit miliknya dengan begitu kuat, Angkasa juga dapat merasakan hangatnya cairan milik sang istri yang keluar bersamaan dengan miliknya.


"Terima kasih sayang." Angkasa jatuh disamping tubuh sang istri. "Aku tidak menyakiti mu dan anak kita 'kan?"


Arum menggeleng, dia malu untuk menjawabnya. Angkasa menarik kepala Arum ke dadanya.

__ADS_1


"Aku janji akan selalu menjaga kalian, dan akan lebih berhati-hati lagi."


"Jangan janjikan apapun. Karena aku tidak butuh itu, aku cuma ingin kamu tetap sehat dan ada bersama kami."


"Iya, iya." Angkasa mengecup puncak kepala Arum.


"Jangan tidur dulu, kita langsung mandi. Setelah bersih dan suci, baru kita tidur." Tahu istrinya sudah ingin memejamkan mata, Angkasa membopong Arum ke kamar mandi dan meletakkanya di buth-up. Angkasa ikut masuk didalamnya, membantu membersihkan tubuh Arum.


Tak ada ritual lanjut ronde kedua, sebab Angkasa tahu Arum kecapean. Tak butuh waktu lama, ia membawa sang istri kekamar, setelah tadi mengeringkan tubuh istrinya, Angkasa hanya memakaikan Arum kimono, dan tidur berdua dengan Angkasa yang memeluk Arum dari belakang.


Kamar pengantin baru yang baru saja melakukan malam kedua itu, begitu tenang dan damai. Berbadan dengan kamar sebelahnya.


"Jadi kamu sekarang ragu sama perasaan kamu?" Reini meminta ketegasan keputusan dari Awan.


"Iya." Awan menjawab jujur.


Reini tertawa kecewa. "Gila ya. Emang begini apa kelakuan buaya? Setelah dulu ngejar-ngejar, sampai memperalat Arum buat bikin aku cemburu, kini aku di campakkan begitu aja?"


"Maaf."


"Kamu pikir cuma dengan maaf bisa menyelesaikan semuanya? Tahu begitu seharusnya dari awal aku memang nggak harus kasih kamu kesempatan. Kamu pengecut, Wan." Air mata Reini tumpah. Awan tak bisa melihatnya.


"Aku bukan laki-laki seperti yang kamu inginkan, Rein."


"Alesan." Hati Reini begitu hancur. "Apasih yang bikin kamu berubah? Karena permintaan ku buat jadi pilot?" Reini menatap Awan yang menggeleng. "Seharusnya itu bisa dibicarakan baik-baik, Wan. Aku juga bisa ngerti kok kalau kamu emang nggak bisa. Tapi jangan menpermainkan hati aku."


Sungguh Reini kecewa berat pada Awan. "Aku tahu kamu suka aku dari kita sekolah, aku pikir emang kamu cinta sama aku, tapi nyatanya kamu cuma penasaran. Kamu nggak ubahnya penjahat hati, Wan. Kamu laki-laki paling kejam yang aku kenal."


Sadar melukai hati Reini, Awan ingin memeluk Reini, tapi Reini menolak.


"Oke, kita menikah Rein. Aku minta maaf telah menyakiti mu."


Plakkkk

__ADS_1


"Dasar cowok plin-plan."


__ADS_2