Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Ungkapan Hati Angkasa


__ADS_3

Seketika hening. Setelah pengakuan Awan semua yang berada disana kompak menatap Awan meminta penjelasan. Juga dengan kedua wanita yang ingin ia jadikan istri itu terkejut dengan mulut menganga menatap Awan.


Si pembuat onar nyengir sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal persis model sampo anti ketombe.


Hingga kemudian Rendy, yang telah membesarkan anaknya dengan penuh kasih sayang layaknya malika, melayangkan protesnya.


"Yang benar Awan, kamu pikir aku akan memberi restu? Berani-beraninya kamu melamar anakku dengan dua wanita sekaligus," ucap Rendy marah. Voni yang duduk disebelahnya memegangi tangan suaminya menenangkan.


"Wan, kamu apa-apan sih sayang?" tegur Delia dengan suara tertahan. Matanya mendelik, tak percaya atas pengakuan anaknya ini


"Ya, gimana lagi ya, Ma? Awan mencintai keduanya," sahut Awan tak berdosa. Semakin membuat Rendy tak terima, Delia juga sama, matanya semakin melebar seperti ingin copot.


Sedang Abian hanya bisa menggaruk pelipisnya, dia pusing.


Daniel si pemberi ide hanya terkikik geli dengan kelakuan Awan, sungguh semua diluar naskah yang sudah ia buat bersama Awan.


"Kamu apa-apaan sih, Pi? Ini lagi keadaan gawat loh, bukan lucu," omel Denisa suaminya.


"Kita hitung mundur sayang, kita nantikan kejutan selanjutnya," ujarnya masih dengan kekehan yang semakin geli.


Daniel menghitung mundur dengan jarinya, akankah apa yang ia ceritakan pada Angkasa kemarin akan digunakan keponakannya itu? Dan sekarang, bagi Daniel hal ini lebih menantang dan seru, dimana Delia tiba-tiba menjodohkan Angkasa dengan wanita yang Daniel tahu, memiliki hubungan baik, baik dengan Arum ataupun dengan Angkasa. Ini diluar dugaan, Daniel menikmati ini, seperti sedang menonton serial Turki yang akhir-akhir ini sering di tonton Denisa.


Sepuluh ...


Sembilan ...


Delapan ...


Tujuh ...


Enam ...


"Oke, Awan sudah memutuskan pilihannya. Sekarang Angkasa akan menjawab permintaan Mama yang ingin menjodohkan Angkasa dengan suster Andini," Angkasa yang tak kuasa lagi melihat tangan putih Arum terus digenggam Awan buka suara.


Angkasa kemudian melangkah mendekati Awan, mengambil tangan Arum yang sejak tadi di genggam Awan secara paksa.


"Maaf, Ma. Angkasa tidak bisa menerima perjodohan Mama. Angkasa memilih Arum untuk menjadi ibu dari anak-anak Angkasa, wanita yang akan memberi cucu untuk Mama."


Angkasa berucap tegas, lalu menatap Arum disebelahnya yang sejak tadi hanya diam terpaku menatapnya, Arum tak tahu harus apa dan bagaimana? Ini begitu membingungkan untuknya.


"Angkasa kamu yakin dengan pilihan, kamu?" tanya Delia ingin anaknya yakin atas pilihannya. Jujur dia kecewa atas penolakan Angkasa.


"Angkasa yakin, Ma, Yah. Angkasa yakin atas pilihan Angkasa saat ini."


Angkasa menatap Abian dan Delia bergantian. Abian mengangguk, artinya dia tidak masalah dengan pilihannya, sedangkan Delia dia masih diam.


Tanpa kata-kata lagi, Angkasa membawa Arum keluar.


"Tunggu disini," pinta Angkasa setelah mereka berada diluar.


Angkasa berjalan menuju garasi, mengambil motor sport tua milik Abian dulu, tapi masih sangat bagus dan terawat. Lalu Angkasa membawa Motor itu, memberhentikan motornya didepan Arum. Angkasa turun, memakaikan helm dikepala Arum tanpa permisi.


"Ini kebetulan malam minggu, kita jalan-jalan, ya?" ucapnya tersenyum. Arum hanya diam, tak mengangguk atau mengiyakan. Karena walau tanpa jawabanya juga Angkasa pasti mengajaknya keluar.


"Aku memakai dress," ucap Arum saat Angkasa sudah menyalakan kontak motornya, Arum merasa akan kesulitan naik motor gede ini, terlebih nanti akan terangkat, berbeda dengan motor matik ojol tadi.

__ADS_1


Angkasa memperhatikan dress bunga pemberiannya yang memang hanya sebatas lutut. Dia kemudian melepaskan jas miliknya.


"Naik dulu," perintahnya, mengulurkan tangan membantu wanitanya naik. Arum menurut saja, menerima uluran tangan Angkasa, sambil berpegang pada pundak Angkasa. Setelah Arum duduk, Angkasa memberikan jasnya, untuk menutup sedikit paha Arum agar tak terlalu terlihat.


Arum berpegang pada kedua sisi kemeja Angkasa setelah jas Angkasa rapih menutup kakinya.


"Nanti kamu jatuh kalau begitu," ucap Angkasa memberi tahu. Lagi-lagi tanpa meminta izin, dia menarik tangan Arum, melingkarkan di pinggangnya. Awalnya Arum tersentak dan kaget, tapi dia menurut, tak menolak sama sekali.


"Kalau begini, kita sampai Amerika juga aman," katanya menepuk kedua punggung tangan Arum dengan senyum manisnya. Sebelum akhirnya Angkasa menarik gas, mulai melajukan motornya keluar gerbang rumah besar milik ayahnya. Sepanjang perjalanan, keduanya diam.


Arum tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana? Dia sekuat tenaga mengontrol debar jantungnya yang sudah tak karuan, tapi percuma, jantungnya semakin berloncatan. Apalagi Angkasa yang sesekali menoleh kebelakang sambil tersenyum, diselingi dengan mengusap punggung tangannya dengan begitu lembut, menggenggamnya, membuat pori-pori Arum terbuka, aliran darahnya berdesir hebat.


Angkasa juga sesekali memperbaiki jas yang menutupi kakinya, mengusap kakinya yang dingin, entah karena grogi karena tubuh yang saling menempel, atau karena cuaca malam?


Tapi Arum menikmatinya, untuk menolak perhatian kecil ini rasanya amat sayang. Dia juga menurut saja, saat tangan lebar Angkasa menarik punggungnya untuk semakin maju. Arum merasakan nyaman, ditambah belaian angin malam yang menyentuh kulitnya.


Arum mengeratkan pelukanya, menempelkan kepalanya di punggung tegap laki-laki yang yang terasa nyaman ini. Angkasa membalas dengan mengusap-usap lembut punggung tangannya, memberikan kehangatan.


Sepuluh menit perjalanan, motor Angkasa memasuki perumahan elit, dan berhenti di sebuah rumah besar yang Arum tak tahu milik siapa? Arum turun, cekatan Angkasa melepaskan helm milik Arum, lalu miliknya.


"Kita dimana?" tanya Arum, melihat sekeliling, rumah ini memiliki taman yang cukup luas, namun belum ditumbuhi tanaman apapun.


"Dirumah kita." Dengan entengnya Angkasa menjawab, menggandeng tangan Arum untuk naik melalui tangga indoor rumah yang berada disamping rumahnya, Arum mengikuti langkah Angkasa dari belakang.


Setelah sampai dibalkon, Angkasa melepaskan genggamannya, ia berdiri menghadap laut, kedua tanganya berpegang pada pembatas, menatap pemandangan didepanya, hamparan pesisir pantai yang diperluas untuk membangun gedung pencakar langit, juga beberapa bangunan rumah. Arum ikut melakukan hal yang sama, dengan pikiran kosong.


Lama mereka saling diam.


"Maaf untuk sifat ku padamu beberapa hari lalu."


Kemudian Angkasa memutar tubuhnya menghadap Arum.


"Rum, aku bingung untuk memulainya dari mana? Tapi_ apa yang tadi aku katakan, aku ..." Angkasa menjeda kalimatnya, kembali menelan ludah, melipat bibirnya menjadi segaris sebelum mengungkapkan isi hatinya. Menarik nafas panjang.


"Aku bersungguh-sungguh, aku ingin kamu menjadi teman hidup ku, menjadi ibu dari anak-anak ku. Apa kamu mau, Rum?" Angkasa mengambil kedua tangan Arum.


Arum tidak langsung menjawab, ini kedua kalinya dia mendengar itu dari bibir Angkasa, berarti Angkasa tidak main-main. Hatinya sudah pasti senang dan terharu di minta begitu oleh laki-laki sesempurna Angkasa, dengan Angkasa Arum merasa diperlakukan seperti wanita.


Bibir Arum bergetar, setitik air jatuh dari matanya begitu saja tanpa diminta.


Angkasa mengusap pipi Arum yang basah, dia tak tahu kenapa Arum menangis, tapi dari tatapannya, seperti banyak luka yang pernah Arum pikul.


"Jadilah wanita ku seutuhnya, Rum. Aku menyukai mu sejak pertama aku melihat mu." Pinta Angkasa, dia menarik tubuh Arum dalam dekapanya, membuat mata Arum semakin banjir tanpa ada kata yang keluar dari bibirnya, tubuh Arum bergetar dalam dekapan hangat Angkasa.


"Aku akan selalu melindungi mu, Rum. Jangan menangis." Arum masih bisu, bibirnya tak mampu mengeluarkan kata sepata pun.


Dia harap ini bukan mimpi.


* * *


Didalam mobil dua pasutri yang sedang dalam perjalanan pulang.


"Aku udah curiga ada campur tangan kamu sejak awal," ucap Denisa menuding suaminya yang duduk dibalik kemudi.


"Ini mengingatkan ku dengan adegan, my stepbrother nembak kamu, iya gak, Mi?" sahut Daniel menoleh istrinya sekilas, "tapi ini versi sasetnya," sambungnya. Daniel terkekeh.

__ADS_1


"Mas Ricko." Denisa memanasi, menyebut nama Ricko dengan jelas. Muka Daniel langsung berubah masam, padahal laki-laki itu sudah bahagia juga dengan hidupnya. Tapi masih saja ada rasa cemburu.


"Tapi hasilnya baik buat mereka kan?" Dia mengalihkan perasaanya yang mulai kacau hanya gara-gara hal sepeleh.


"Besok jangan lupa ke kampus, Danish kembali dituduh melecehkan teman wanitanya." Denisa mengingatkan.


"Ya, aku tahu, Danish sudah cerita," sahut Daniel. Dia dan anaknya memang sedekat itu, apapun masalah mereka, orang pertama yang mereka cari adalah papinya.


"Cewek-cewek itu terlalu terobsesi sama dia," Daniel menghela nafas, "aku berencana memindahkan dia keluar negeri, apa kamu setuju?"


Denisa langsung menatap suaminya dengan tatapan tak setuju.


"Aku nggak mau jauh-jauh dari anak-anak ku. Apalagi jauh, kita semakin nggak bisa melindungi mereka."


"Iya, tapi kasihan juga nasib dia disini, sebentar-sebentar dipanggil pihak kampus, lama-lama aku menggunakan kekuasaan ku buat nutup mulut mereka."


Denisa diam, memikirkan saran suaminya untuk memindahkan Danish kuliah diluar negeri.


* * *


Lain lagi dengan pasangan Abian dan Delia. Kedua pasangan yang tetap harmonis meski usia pernikahan mereka yang tak lagi muda, Abian sedang menenangkan istrinya yang menangis.


"Udah donk sedihnya. Biarkan Angkasa dengan pilihannya," ucap Abian. Ikut duduk disamping Delia yang duduk diujung tempat tidur, memegangi kedua pundak Delia, memberi pijatan kecil.


"Aku sedih, Bi. Nggak ada yang dukung aku, mama Amanda juga nggak dukung aku. Sebagai ibu kandung Angkasa, aku merasa nggak bisa jadi ibu yang bisa memberi pilihan yang baik buat anaknya. Insting aku memilih pasangan untuk anak kita nggak sebaik mama."


Delia mengingat kata-kata mama Amanda yang mengatakan, jika Aura yang dimiliki Arum, tidaklah buruk. Delia merasa tidak ada ikatan batin yang kuat dengan anaknya.


"Aku tahu, kamu sudah berusaha memberikan yang terbaik buat anak kita. Tapi biarkan saja dengan pilihannya, Angkasa sudah dewasa, bisa menentukan yang baik, atau buruk untuknya."


"Aku cuma nggak mau Angkasa menjalani hubungan dengan wanita yang memiliki masa lalu yang buruk, Bi. Aku takut Angkasa akan banyak terluka."


Abian menarik kepala Delia untuk menyandar dipundaknya.


"Kalau tidak begitu, Angkasa tidak akan menjadi dewasa. Terluka, menangis, itu hal yang wajar dalam proses pendewasaan, jika tidak seperti itu, Angkasa tidak akan tahu cara mengatasi masalah."


"Gitu ya, Bi?" Delia mendongak untuk menatap wajah suaminya. Abian mengangguk.


Pintu kamar mereka diketuk. Abian berdiri untuk membukakan pintu.


"Ada apa, Bi?" Ternyata Bibik yang mengetuk.


"Saya menemukan ini tadi, Den besar. Tidak tahu punya siapa?" Bibik memberikan amplop putih pada Abian.


"Oh ya. Terima kasih ya, Bik."


"Apa, Bi?" tanya Delia menekan ujung matanya yang basah.


"Apa?" Abian mengendikkan bahu, kembali duduk disamping istrinya. Lalu membuka isi amplop tersebut.


* * *


Ditempat lain.


Seorang gadis yang baru saja sampai dirumahnya, mencari barang miliknya yang hilang.

__ADS_1


"Astaga, dimana amplop itu? Perasaan tadi ada dalam tas," ucapnya pada diri sendiri mengacak isi tasnya.


__ADS_2