Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Ajaran Yang Manjur


__ADS_3

Menyesal, Arum menyesali keputusannya yang begitu saja mau mengikuti perintah Angkasa untuk ikut dengannya. Kini dia seperti wanita yang terbakar api cemburu saat Angkasa meminta Andini yang duduk disebelahnya ketimbang dia. Dan berakhir dia yang diam seorang diri dibelakang, menyandarkan kepalanya dijendela, menatap hujan yang semakin lebat.


Tubuhnya terasa menggigil karena dingin, pengaruh hujan, serta pendingin mobil. Mau bilang pada yang punya kendaraan untuk mengecilkan pendinginya, tak enak, karena keberadaannya sendiri seperti tak dianggap.


Padahal itu hanya perasaannya saja.


"Nona Arum, bagaimana kalau kita ke supermarket saja? Benar kata Tuan Angkasa, jika kita harus kepasar, kita pasti akan kehujanan," tegur Andini.


Arum tersentak, saking tak fokusnya, Arum sampai tak mendengar apa yang dibicarakan Andini dan Angkasa.


"Iya, apa Sus?"


Angkasa melirik, apa yang dipikirkan Arum? Tahu Arum tak fokus.


"Nona belanja keperluan di supermarket saja, apa Nona mau?" ulang Andini ucapannya.


"Terserah, aku ikut saja," sahut Arum, suaranya terdengar bindeng, dia tak bisa berpikir apa-apa lagi. Entahlah, dia sudah cukup sesak, hanya hal sepele, padahal dia juga bukan siapa-siapanya Angkasa, kenapa juga Angkasa harus memperlakukannya spesial?


Angkasa sadar jika suara Arum berbeda, Andini pun sama.


"Nona sakit? Suara Nona terdengar berbeda?"


"Aku tidak apa-apa," sangkal Arum, bibirnya bergetar, karena kedinginan.


Angkasa melirik spion, wajah Arum terlihat pucat. Sontak kaki Angkasa menginjak rem mendadak.


Dia lalu memutar tubuhnya kebelakang cepat, melihat Arum. "Kamu yakin tidak apa-apa?" tanya Angkasa, wajahnya terlihat panik.


Arum menggeleng. Dia gengsi, langsung menegakkan duduknya pura-pura tak apa-apa, membuang muka tak ingin terlihat lemah di depan Angkasa. Astaga, kenapa dia harus bertingkah seperti ini?


Angkasa menatap Arum, memastikan jika Arum benar tak apa-apa, tapi Arum yang membuang muka padanya, membuat Angkasa kembali memutar tubuh kedepan, sempat melirik sekilas lewat spion, hatinya yang sejak awal melihat Arum sudah ada hati, yakin jika gadis itu tidak baik-baik saja, firasatnya.


Tapi tak ada yang bisa ia lakukan, memaksa Arum pun, dia takut jika Arum akan ketus seperti dulu, dan akhirnya menjauh. Ini dia sudah mulai ada celah untuk mendekat, tapi untuk memberi perhatian lebih, masih takut dan hati-hati.


Dia ingin mendekati Arum perlahan, dan menanyakan tentang hubungan Arum dan Awan. Dia tak ingin keduanya bersatu, sebab baik Awan dan Arum, hati mereka sudah terikat dengan yang lain.


Mobil Angkasa berhenti di depan lobby, setelah Arum dan Andini keluar, dia menjalankan mobil menuju parkiran.


Arum dan Andini mencari bahan roti yang Arum butuhkan, saat sedang memilih, Andini mendapat telepon, ternyata itu Angkasa yang menanyakan keberadaan mereka. Arum mendengus sebal dalam hati, mereka sampai saling menyimpan nomor satu sama lain.


Dia lupa, wajar jika Angkasa memiliki nomor Andini, karena Angkasa yang meminta Andini untuk mengobatinya dulu, agar dia tak memiliki trauma yang berkepanjangan.


Arum sudah selesai dengan belanjaanya, sudah ingin membayar, tapi Andini mengajaknya ke tempat makan yang terletak di area supermarket. Disana sudah Angkasa yang menunggu sambil memainkan handphone-nya.


Arum berhenti ditempat, melihat Angkasa dengan wajah tampan yang mempesonanya. Seketika itu pandangan Angkasa berpindah padanya menyadari kehadiran Arum dan Andini.


Arum seketika salah tingkah.


"Maaf, saya tidak bisa ikut makan. Saya harus segera pulang, hari sudah sore, mama saya menunggu." Arum tersenyum, menolak secara halus, karena dia sendiri bingung mengapa hatinya selalu merasa diremas melihat kedekatan Angkasa dengan Andini, dan dia tak mau lagi melihat adegan lebih romantis lagi.


"Kalian bisa lanjutkan saja acaranya, saya tidak apa-apa," lanjutnya, tanpa menunggu jawaban Angkasa dan Andini, Arum berbalik dan melangkah menuju kasir.


Saat belanjaanya selesai dihitung, Arum akan membayarnya, dengan uang recehan dia gunakan untuk membayar uang recehan. Saat sedang menghitung uangnya, dari belakang tubuhnya terulur tangan laki-laki memberikan kartu sebagai alat pembayaran.

__ADS_1


"Bayarnya pakai ini saja, mba," ucap laki-laki yang suaranya membuat degup jantung Arum berdetak cepat. Arum menoleh kebelakang, Angkasa berdiri tepat dibelakangnya. Dia tak sadar jika tadi Angkasa mengikutinya dari belakang.


Tubuh Arum dibuat membeku saat tubuh kekar itu menempel dipunggungnya.


Disaat bersamaan, Angkasa balas menatapnya, jarak wajah mereka begitu dekat, pandangan mereka saling mengunci.


"Ehem, Pak. Silahkan masukkan pin-nya," ucap penjaga kasir, membuat mereka tersadar. Angkasapun maju, melakukan apa yang diminta kasir, menekan angka pada alat pembayaran.


Arum terpaksa kembali memasukan kembali uangnya kedalam dompet.


"Pasti pengantin baru, ya mba. Bawaannya mau mesra-mesraan terus," icap seorang wanita dibelakang Arum dengan senyum menggoda.


"Bu-bukan," jawab Arum. Dia tersipu malu.


Didepan Angkasa yang tak sengaja mendengarnya menarik senyum simpul, andai itu benar terjadi?


"Jangan malu-malu, kalian pasangan yang serasi, aku jadi iri, suami mu tampan, dan kamu cantik." Arum hanya membalas dengan senyuman.


Dia melihat Angkasa sudah selesai membayar, kemudian Arum melangkah maju, ingin mengambil belanjaanya, tapi sudah dibawa Angkasa lebih dulu.


Tak ingin berdebat, karena sadar ini di tempat umum, Arum memilih mengikuti langkah Angkasa dari belakang. Saat sudah sepi dan ditempat parkiran, Arum ingin mengambil alih belanjaanya dari tangan Angkasa.


"Biar saya yang bawa sendiri, Capt," pinta Arum sambil mengimbangi langkah panjang Angkasa. Angkasa bergeming, terus melangkah menuju mobilnya. Lalu meletakkan kantong belanjaan di bangku belakang. Setelah selesai dia membuka pintu penumpang bagian depan.


"Masuk," perintahnya pada Arum.


"Bukanya suster Andini yang didepan," tolak Arum, "loh, suster Andini mana?" Arum baru menyadari Andini tak ada bersama mereka.


"Dia sudah pulang lebih dulu," jawab Angkasa.


"Pacarnya, mungkin," jawab Angkasa asal Padahal dia meminta Edward menjemput Andini.


Apa? Pacar? Hati Arum menjadi senang, jika Andini dijemput pacarnya, berarti mereka tidak memiliki hubungan apa-apa.


* * *


Mobil Angkasa sampai didepan rumah Arum, jam menunjukkan jam lima sore, tapi hari terlihat sudah gelap. Sepertinya akan kembali turun hujan.


Arum turun dan mengucapkan terima kasih pada Angkasa. Kali ini dia bisa membuka sabuk pengaman sendiri, meski tadi gugup didalam mobil cuma berdua dan saling diam.


Saat akan mengambil kantong belanjaannya, kembali Arum keduluan oleh Angkasa. Tak bisa menolak, karena Angkasa hanya diam dengan wajah datarnya.


"Bisa Captain tunggu sebentar, saya masakkan mi instan dulu, Captain tadi tidak jadi makan, pasti Captain lapar." Arum memejam, menggigit bibirnya setelah mengatakan itu, dia begitu gugup. Kemudian menatap Angkasa yang diam, Angkasa sedang menimang tawaran Arum. Kemudian dia mengangguk.


Arum tersenyum senang, menarik tangan Angkasa untuk masuk kedalam. Angkasa melihat tanganya yang dibawa Arum, semudah inikah Arum melakukan kontak fisik dengan lelaki?


* * *


Semangkuk mi rebus sudah Angkasa habiskan tanpa tersisa, habis hujan, momen yang pas disajikan oleh wanita yang sebenarnya ia suka sejak pandangan pertama, rasanya berbeda dengan yang mamanya buatkan, yang ini lebih enak dibanding buatan mamanya.


Nining yang tadi ikut makan bersama, sudah masuk kedalam kamarnya, tadi Nining sempat mengobrol dengannya sebentar, Nining tadi mengira Angkasa adalah Awan. Nining memang menunggu kedatangan Angkasa, ingin mengucapkan terima kasih, dia juga belum sempat mengucapkan terima kasih sebelumnya pada Angkasa yang telah menyelamatkan dia dan Arum.


Angkasa melihat sekeliling, rumah Arum tidak ada apa-apanya, diapun hanya duduk beralas tikar, dia baru tahu kehidupan Arum yang sebenarnya. Jika Awan benar mencintai Arum dan ingin menjadikan Arum sebagai istrinya, dia tidak mungkin membiarkan Arum hidup apa adanya seperti ini.

__ADS_1


Angkasa memejamkan matanya, mencoba mendamaikan hatinya, yang memikirkan banyak hal tentang Arum.


Arum keluar dari dapur setelah membereskan bekas mereka makan tadi. Dia ikut duduk disamping Angkasa.


"Kenapa tadi Captain tidak jadi makan dengan suster Andini?" tanyanya.


"Kenapa kamu mau tahu?"


Arum terdiam. "Ini uang belanja tadi Capt, terima kasih tadi sudah membayarkan," dia mengembalikan uang Angkasa yang tadi sempat membayarkan belanjaanya.


"Ambil saja."


"Saya tidak bisa berhutang budi, Capt. Jadi terimalah, saya sudah terlalu banyak berhutang budi pada orang lain."


"Jadi kamu merasa tidak membutuhkan bantuan orang lain, atau tidak membutuhkan uang dari ku, tapi lebih memilih bantuan dari laki-laki lain?"


Arum terdiam, tidak mengerti apa yang dimaksud dari perkataan Angkasa.


"Maksud Captain apa? Saya hanya tidak-"


Angkasa berdiri begitu saja, Arum tidak bisa melanjutkan ucapanya.


"Beri saja uang itu pada orang yang lebih membutuhkan jika kamu tidak mau menerima uang dari ku, atau merasa berhutang budi padaku," ucap Angkasa membelakangi Arum. Dia lalu keluar dari rumah Arum.


Arum makin tak mengerti, bukan berarti dia tidak mau menerima bantuan Angkasa, hanya saja dia tidak ingin menggantungkan hidupnya lagi pada orang lain, berujung dia yang merasa berhutang budi, dan akan melakukan apa saja demi membalas hutang budi tersebut.


Diapun melepaskan kepergian Angkasa dengan berbagai pertanyaan bercocol didalam hatinya.


* * *


"Sebenarnya, apa hubungan kamu dengan, Arum?" Angkasa tak dapat menahan lagi, dia harus menanyakan hal ini langsung pada Awan.


"Aku lihat, kamu begitu khawatir waktu aku kasih tahu kaki Reini tergelincir," lanjutnya.


"Terus apa hak kamu ingin tahu, hubungan aku dengan Arum, hubungan ku dengan Reini?" Awan balik bertanya, mengundang emosi Angakasa, yang menurutnya Angkasa mudah sekali tersulut emosi saat ia membahas perihal Arum.


"Jawab saja, karena aku tidak tahu, kamu atau Arum yang dipermainkan disini. Aku tahu kamu begitu mencintai Reini, dan Arum masih begitu mencintai laki-laki itu (Alex)."


"Reini cinta pertama ku, sedang Arum masa depan ku,"


aku jatuh hati sejak pandangan pertama dengan Arum, dia wanita mandiri yang tidak neko-neko. Masalah Arum masih terikat hati dengan pacarnya yang nggak ada akhlak itu, itu urusan mudah, wanita tupe midah jatuh cinta, sentuh sedikit tepat dihatinya, dia akan tebang melayang,"


jawab Awan santai, dia merebahkan tubuhnya, melirik Angkasa yang berdiri, terlihat begitu menggebu menunggu penjelasan lanjut darinya.


"Jadi maksudnya apa? Lepaskan salah satunya, jangan sakiti mereka," katanya menasihati. "Reini sepertinya sudah menunjukkan kalau dia cemburu, tahu kamu sudah ingin menikah."


"Nggak ada maksud apa-apa, aku cuma berusaha aja, mana tahu diantara keduanya bisa jadi jodoh aku. Benar kata kamu, Reini mulai cemburu aku dekat dengan wanita lain. Dengan Arum, aku jatuh hati sejak pandangan pertama dengan Arum, dia wanita mandiri yang tidak neko-neko. Masalah Arum masih terikat hati dengan pacarnya yang nggak ada akhlak itu, itu urusan mudah, wanita tipe makhluk mudah jatuh cinta, sentuh sedikit tepat dihatinya, dia akan tebang melayang," jawabnya kembali melirik Angkasa yang hidungnya sudah kembang kempis.


"Kata Om Daniel, kita bisa memilih dua diantara wanita yang ingin kita jadikan istri, pilih salah satu yang terbaik, nggak papa dekati keduanya. Jadi aku ingin memperistri Arum dulu, karena sepertinya Arum mudah didekati, setelah itu aku akan nikahi Reini kalau dia mau jadi istri kedua."


"Egois, kamu tidak bisa melakukan itu, ingat ibu kita wanita, kamu juga punya adik wanita, jangan coba sakiti mereka."


"Kan aku bilang kalau Reini mau jadi istri kedua, terima kasih loh, jebakan kamu tadi, aku jadi tahu isi hati Reini yang sebenarnya, bukan kakinya yang tergelincir, tapi hatinya."

__ADS_1


Awan tersenyum menatap langit-langit kamarnya setelah mengatakan itu, melihat ekpresi wajah kembaranya yang sudah terbakar api cemburu, dan membayangkan yang belakangan ini, Reini cemburu berat diantak perhatian seperti dulu.


Ajaran Om-nya memang manjur.


__ADS_2