
Awan sangat senang mendengar istrinya mau hamil anaknya.
"Apa Rein? Apa aku nggak salah dengar 'kan? Coba ulangi lagi kata-kata kamu barusan," ujarnya meminta sang istri untuk mengulang ucapanya. Saking tidak percayanya dia.
"Heem, aku mau hamil, Wan. Anak kita." Reini tersenyum menyakinkan.
Awan menarik lagi tubuh polos sang istri dalam dekapanya. Ia memejam, mengucapkan rasa syukur.
"Makasih ya, kamu mau sabar selama ini." Reini meneteskan air mata. Dia sadar kesalahanya.
"Nggak, kamu yang sabar. Kamu mau bertahan dengan seorang suami yang tidak tegas seperti ku."
Kenapa dia selalu merasa bersalah?
"Kamu bicara apa sih? Aku tahu yang beruntung dapat suami kayak kamu. Sabar, mau menuruti apa kata istrinya." Mengusap air mata, melepaskan pelukan, menatap mata sang suami yang berkaca-kaca. "Kalau bukan kamu yang jadi suami aku, mungkin aku udah ditinggalin dari dulu."
"Mana mungkin aku ninggalin kamu, Rein. Gila kali, kamu itu cinta dan wanita pertama buat aku."
"Makasih atas semua cinta tulus kamu, Wan."
"Apa kita akan mencoba membuatnya lagi? Yang semalam kita sama-sama nggak sadar."
"Kayaknya, kita ulang sekali lagi. Apa jadinya anak kita kalau bikinya aja nggak sadar?"
"Namanya bayi Amanahseiya."
"Itu cewek apa cowok?"
"Kayaknya dua-duanya cocok." Keduanya terkekeh sejenak, lalu terdiam sesaat. Sebelum akhirnya Awan memajukan wajahnya, menempelkan bibir mereka.
Awan menarik tubuh Reini, melingkarkan kaki Reini keatas tubuhnya.
"Kamu yang diatas ya," ucap Awan mengubah posisi Reini berada diatas tubuhnya.
"Siap komandan, kamu harus pasrah dibawah kendali ku."
Awan merentangkan tanganya pasrah, membiarkan Reini menggoyangkan pinggulnya dengan jari lentiknya yang membuka kancing kemejanya dengan gerakan sensual yang menggoda, Reini terlihat begitu seksi dimata Awan saat ini. Tak berhenti sampai disitu, Reini juga menarik lepas ikat pinggang suaminya, dan melepaskan pengait celananya, Awan sampai meneguk ludahnya kasar.
"Susah, celana kamu sempit," keluh Reini. "Ularnya terlalu gede, kecilin sedikit dulu bisa nggak?" Reini menatap sang suami.
Awan yang tak sabaran, menegakkan tubuhnya. Membantu istrinya membuka pengait yang sulit dilepaskan. Tanpa mengubah posisi, Awan menarik turun kain terakhir yang menutupi miliknya yang sudah menegang. Lalu mengikat tinggi-tinggi rambut sang istri.
"Sekarang lakukan tugas kamu, Rein." Bisiknya sensual menggigit telinga Reini. Reini melanjutkan tugasnya, dengan sekali percobaan, ia berhasil. Kepala keduanya sampai tertarik kebelakang saat tubuh mereka kembali menyatu.
"Kamu nggak papa kan, begini?" Memastikan kenyamanan sang istri. Reini mengangguk, lalu mulai melakukan tugasnya.
Diluar, tepatnya di daun pintu kamar mereka, empat pasang telinga sepasang suami istri tengah menempel mencuri dengar.
"Nggak ada suara-suara berantem, Pi. Berarti aman," ujar Denisa ikutan suaminya kepo terhadap hubungan keponakan mereka.
"Tapi Papi dengar suara lain."
"Apa?" Denisa mengangkat dagunya.
"Pakai stetoskop kamu, pasti lebih jelas." Daniel menempelkan alat milik istrinya di gagang pintu, Denisa seperti dikomando, meletakkan earpieces ditelinganya.
"Aku nggak denger apa-apa."
"Coba kamu dengerin baik-baik."
Ahhhhhh, Rein. Ahhhh
Suara samar saling bersahutan itu membuat Denisa merinding. "I see, Pi. Kamu berhasil. Ayo kita pulang." Ajaknya menarik tangan sang suami.
"Kayaknya obat semalaman masih pengaruh deh, Mi."
"Enggak ya. ************ aku sakit," teriak Denisa menolak.
"Bahasa kamu, Mi. Nggak ada yang lebih sopan." Dan saat mereka berbalik, ternyata mereka sudah menjadi tontonan para pelanggan hotel yang lain. Mereka menatap heran Daniel dan Denisa didepan pintu.
* * *
Lima bulan berlalu, Awan dan Reini baru saja pulang dari berbulan madu.
Masalah Reini yang keluar dari Merak Airlines memang mendapat denda, juga belum lagi kecurigaan mereka masuknya Reini yang diduga menjadi mata-mata untuk mencari kelemahan Merak Airlines.
Namun semua telah diselesaikan Angkasa juga Abian.
"Awan sudah pulang dari dua hari yang lalu, kan? Kenapa dia belum masuk kantor juga?" tanya Abian pada Angkasa.
"Katanya dia sakit, Yah."
"Kita jenguk kesana, mungkin itu alasan dia saja," ujar Abian. "Tapi jangan beri tahu dia kalau kita mau kesana."
Wajar Abian curigaan dengan anaknya, sebab setelah Awan dan Reini berbaikan. Awan jadi sering bolos, ia seperti remaja jatuh cinta, yang hanya ingin berduaan selalu dengan istrinya.
__ADS_1
"Iya, Yah. Tapi Angkasa jemput Arum dan anak-anak."
Yang menjadi korbannya, anak dan istri Angkasa, dia jadi memiliki waktu sedikit untuk keluarganya. Arum sampai mendiaminya beberapa hari ini, sebab Angkasa pergi pagi pulang pagi. Angkasa harus menggantikan posisi saudara kembarnya yang sering bulan madu.
"Yasudah, jemput anak istri kamu. Ayah juga mau jemput Mama." Angkasa mengangguk. Melihat jam dipergelangan tanganya.
"Rekor untuk lima bulan ini, pulang jam lima sore." Menghela nafas lega. "Semoga besok bisa libur, Arum nggak ngambek lagi."
Dia sampai tidak menyadari jika istrinya sedang senang bukan main. Arum melompat riang tatkala melihat jarum timbanganya mengarah ke kiri. Lalu naik ke timbangan digital, menunjukkan angka lima puluh lima.
Bel rumahnya berbunyi, Arum memanggil pembantu meminta tolong dibukakan.
"Selamat sore, Tuan." Suara pembantunya yang menyapa membuat Arum yang sedang duduk disofa memutar kepalanya.
"Nggak mungkin bang Angkasa. Ini bahkan belum adzan subuh," ujarnya tak percaya. Namun saat sosok itu datang menghampiri, dengan jas dilengannya, membuat Arum mengucek mata.
Angkasa tersenyum. "I'm home. My Wife."
"Tumben." Arum masih jutek.
"Semoga penderitaan kita cepat selesai, Sayang. Mereka sudah pulang berbulan madu." Menjatuhkan tubuhnya di sofa, disebelah Arum.
"Bulan madu kok tiap bulan," sungut Arum. "Untung saja timbangan ke kiri, jadi aku lagi baik hari ini sama kamu. Kenapa sih nggak bilangin aja, kalau kamu ada keluarga juga yang harus diperhatiin?"
Angkasa sampai memerhatikan penampilan Arum. Astaga, dia sangat merasa bersalah, saking tidak perhatianya, sampai tidak menyadari jika tubuh istrinya sudah kembali normal, dan bertambah cantik. Angkasa terpesona.
"Aku cantik, udah nggak kaget."
Angkasa terkekeh. "Tapi ada hikmah dibalik semua ini, kan sayang? Kamu makin cantik, badan kamu kembali normal."
"Gombalan kamu, basi. Yaudah, aku mau ganti pakaian anak-anak. Kamu juga mandi. Nggak pake lama, baju nanti aku siapin." Beranjak ke kamar anaknya.
Angkasa memperhatikan istrinya yang berjalan dari belakang, Arum kini makin bawel dan galak. Tapi dia senang dicerewetin Arum, cerewetnya Arum adalah obat lelahnya, dibandingkan didiami beberapa hari seperti kemarin. Angkasa merasa di beri beban berton-ton kayu dipundaknya.
Setelah semua rapih, Angkasa merangkul pinggang istrinya menuju mobil. "Nanti aku bilang langsung aja ya sama, Reini. Jangan bulan madu terus. Kamu yang gantiin yang kasihan, jadi nggak ada waktu untuk keluarga."
"Iya, bilang saja sama Reini." Angkasa juga lelah, menjadi direktur, tidak sefleksibel menjadi pilot. Meski kadang keluar kota, namun saat sudah pulang, tak harus dipusingkan lagi dengan pekerjaan.
Namun harapan tinggal harapan, Arum hanya bisa berangan-angan saja untuk bicara dengan Reini untuk menyudahi bulan madu mereka yang tidak penting itu. Saat tiba disana, sudah ada mama Delia dan ayah Abian. Dan Awan benar-benar sakit.
"Howek, howekk." Baru saja meletakkan pantatnya di kursi, Awan sudah harus kembali berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.
"Sayang, ya ampun. Dari tiga hari ini begini terus." Reini menyusul suaminya.
"Dudah, Ma." Sahut Reini dari dalam kamar mandi.
Arum memutar bola mata malas. "Kamu tespack kali, Rein. Itumah Awan ngidam."
"Apa?" Semua yang ada disana menatap Arum bersamaan, Reini yang mendengar ucapan Arum juga sampai berdiri diambang pintu.
"Abang beliin alatnya. Aku yakin Reini hamil," ujar Arum mencebikkan bibirnya. Sumpah bukan dia tidak senang Reini hamil, tapi dia kesal karena suaminya harus menggantikan posisi Awan untuk sementara waktu.
"Mama sampai tidak kepikiran kesana, karena Mama pikir Reini masih mau belum hamil, atau...." Voni berpikir jika anaknya akan mendapat karma karena dulunya Reini takabur, dan tak ingin hamil. Voni menutup mulut tidak percaya.
"Semoga saja ya, Von. Kita sudah menunggu ini dari lama." Voni mengangguk.
* * *
Menunggu Angkasa keluar membeli alat tes kehamilan di apotik rasanya sangat lama, padahal apotik tidak jauh dari rumah Awan, tapi hampir satu jam Angkasa belum kembali.
"Astaga, kemana nih orang. Ditelepon juga nggak diangkat." Gerutu Delia mondar-mandir menekan ponselnya.
Arum sebagai istrinya juga khawatir, meski sudah lama, trauma kehilangan itu masih ada.
Suara interkom pintu Awan membuat yang ada disana menoleh kaearah pintu.
Aira datang dengan wajah cemberutnya. "Kirain Angkasa, si bebek goreng ternyata," ujar Awan.
"Kenapa, nggak suka aku datang?" Sungutnya tak terima.
"Pantas saja kuliah nggak selesai-selesai, kerjaanya pacaran terus." Angkasa mengikuti Aira dari belakang. "Kamu nggak diperhatiin Kakak, seenaknya ya?" Marah Angakasa.
"Kalian kan sibuk sendiri sama urusan kalian, mana ada yang perhatian sama aku." Aira mengeluarkan emosinya.
Angkasa sudah ingin kembali menjawab adiknya, tapi Arum segera mencegahnya. "Bang, mana tespeknya, udah ditungguin dari tadi."
"Eh iya, ini."
"Banyak amat?" ujar Reini melihat isi plastiknya.
"Biar lebih abdol."
Reini langsung masuk ke kamar mandi ditemani Awan.
"Kamu jangan lihatin, nanti kalau udah keluar hasilnya, baru aku kasih tahu." Reini meminta Awan untuk membelakanginya. Pria itu pun berbalik.
__ADS_1
Harap-harap cemas Awan dan Reini menunggu hasil tes itu. Tangan Reini sampai gemetaran saat memasukkan alat itu kedalam wadah yang menampung air seninya.
"Wan, maaf yaa," suara Reini terdengar lemah. Awan tahu hasilnya, dia membalikkan badan menatap sang istri.
"Its okey. Kita coba lagi dilain waktu."
Reini berhambur ke dada sang suami. "Maafin aku atas semua ini
"Ssttt, Rein. Jangan menyalahkan diri kamu." Reini menyerahkan hasilnya. Mata Awan yang sudah berkabut menahan tangis menajamkan penglihatanya.
"Apa ini, Rein? Garis dua?"
Reini mengangguk dalam dada suaminya. "Terima kasih, Rein." Mengecup kepala Reini, Reini dapat merasakan basah diatas kepalanya.
Awan menangis?
"Awan, Rein. Ngapain sih lama banget, hasilnya apa?" Delia mengetuk pintu kamar mandi.
"Sebentar, Ma."
"Hasilnya apa?" Voni ikut teriak.
Ceklek, terbukanya pintu serasa mereka baru saja menahan sakit perut mau melahirkan. Lega.
"Apa, Rein?" Reini dan Awan diberondong pertanyaan dari Delia dan Voni.
Dengan mata berkaca-kaca, Awan menunjukkan hasil tes istrinya.
"Alhamdulilah ya Allah." Voni mengucap syukur. Anaknya terlepas dari hukuman atas sifatnya dulu. Namun didalam hatinya mengingat sang suami yang tak lagi bersama mereka.
"Kita akan mendapat cucu, Rend. Anak kita sekarang hamil," gumam Voni dengan linangan air mata kesedihan. Bahagia bercampur sedih.
Angkasa dan Arum yang menyaksikan, ikut menitikkan air mata bahagia. Abian tapi tak ingin ikut larut.
"Kamu bertemu adik kamu dimana? Ang?" tanyanya mengalihkan keadaan. Tak dipungkiri jika dia memang kurang memperhatikan anak bungsunya yang seharusnya mendapat perhatian lebih, sebab Aira anak perempuan mereka satu-satunya.
Namun masalah Angkasa, beralih ke masalah Awan, belum lagi masalah perusahaan, Abian jadi kurang perhatian dengan anak perempuannya.
"Didepan apotik, lagi berantem sama cewek, rebutan cowok."
Ini bukan pertama kalinya Abian mendapatkan laporan seperti ini. Waktu itu juga mendapat laporan dari Daniel jika Aira mempacari laki-laki yang sama dengan Dara.
"Anak ayah kemarin nggak jadi wisuda, kapan jadinya wisudanya?"
Abian tak memarahi, menyadari dia kurang perhatian pada Aira.
"Minggu depan," jawabnya ketus.
"Anak ayah dasar. Orang normal kuliah empat tahun, ini enam tahun. Buang-buang uang." Sengit Angkasa.
Angkasa juga baru tahu jika ternyata Aira kuliah sampai enam tahun. Ia mendapat laporan dari Arum.
"Yang penting kan lulus. Buat apa kuliah cepet-cepet, nggak diburu-buru juga kan?"
Astaga, begini nih kalau tidak merasakan mencari uang sendiri. Jika diteruskan, akan jadi perdebatan panjang, Abian sekarang jadi pandai mengalihkan pembicaraan.
"Selamat ya, Rein, Wan. Semoga rumah tangga kalian semakin langgeng, dan semakin harmonis." Menyalami Awan dan memeluknya.
"Terima kasih, Yah. Ini semua berkat Ayah. Kalau saja Ayah tidak melarang Awan buat mengakhiri pernikahan ini, mungkin kami tidak sampai ke titik yang sekarang."
"Itu sudah tanggung jawab Ayah."
"Selamat ya, Rein. Semoga anak dan ibunya sehat." Arum juga memberi selamat. Jujur dia senang, tapi sedih karena suaminya akan melakukan banyak meeting.
"Terima kasih my brother. Aku kuat setelah tahu hal ini. Besok aku mulai aktif lagi di kantor."
"Yakin?"
"Iya, masa mau jadi ayah malah malas-malasan kerja. Juga sudah nggak ada lagi acara bulan madu, bulan madu."
"Aku senang dengernya, semoga sehat selalu ya, Wan." Arum jujur, tak bisa membohongi hatinya.
Hahahaha, gelak tawa pecah melihat ekspresi senang Arum. Mereka tahu, meski Arum tak gamblang mengungkapkan perasaannya, tapi dari raut wajahnya, serta cerita Abian jika Angkasa sering berdebat dengan Arum hanya karena Angkasa sering pulang larut.
Berbeda dengan Aira, dia tak ikut menikmati eouporia kebahagiaan sang Kakak.
.
.
.
.
...《TAMAT 》...
__ADS_1