Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Permintaan Nining


__ADS_3

"Nak Angkasa, jika memang kamu sangat mencintai anak Ibu, maka nikahilah dia sekarang, jangan ditunda lagi atau menunggu, kalian sudah terlalu jauh melangkah. Ibu takut ada badai lagi."


Perkataan mama Arum membuat Angkasa menghela nafas panjang. Mama Arum sudah tahu jika Arum dengannya sudah melakukan itu, bukan Arum yang memberitahu pada mamanya, tapi mama Arum tak sengaja mendengar obrolan mereka saat ditelepon.


Tapi jika pernikahanya dilakukan secara mendadak, apakah mama Delia tidak akan menaruh curiga? Bagaimanapun Angkasa akan tetap menjaga nama baik Arum, yang terjadi diantara mereka, murni kesalahanya.


"Katakan saja pada orang tuamu, jika banyak bahaya yang mengancam Arum, termasuk Axel. Contohnya semalam, orang-orang itu mau menyakiti Arum."


Itu solusi yang diberikan mama Arum pada Angkasa semalam, mereka mengobrol berdua setelah Arum tidur. Tanpa Angkasa ketahui ketakutan Nining tentang masa lalunya, dia tidak ingin Arum mengalami hal yang sama.


Sedang saat ini, Nining pergi lebih dulu kerumah sakit untuk menjenguk Dikdik yang akhirnya dirawat dirumah sakit, laki-laki itu saat ini kritis.


"Apa menurut kamu ini nggak terlalu cepat? Kenapa kita harus menikah hari ini juga?" Suara Arum menyadarkan Angkasa dari lamunanya.


Ya, mereka memang sedang dalam perjalanan menuju kerumah keluarga Angkasa, untuk meminta izin dan restu dari Abian dan Delia. Entah Angkasa tak tahu, orangtuanya akan merestuinya atau tidak?


"Aku terlalu khawatir ninggalin kamu sendiri kalau aku lagi kerja," Angkasa menoleh, menggenggam tangan Arum, belum mengatakan jika Dikdik kritis karenanya. "Jika kita sudah menikah, kamu bisa tinggal untuk sementara waktu dirumah sama mama sampai waktu benar-benar aman, jadi aku tenang. Ada yang jagain kamu. Dirumah aman, banyak penjaga."


Angkasa tak mengatakan jika ini permintaan mama Arum.


Arum sendiri diam, menggigit bibirnya, jujur dia senang ingin dinikahi Angkasa secepat ini, tapi ada rasa takut juga dalam hatinya. Takut dituduh yang tidak-tidak, tapi memang itu pada kenyataannya. Ya Tuhan, Arum dihantui rasa bersalah yang mendalam.


"Bagaimana kalau keluarga kamu tidak merestui?" Arum sungguh takut dia tidak diterima keluarga Angkasa.


"Kan aku sudah pernah bilang, mama aku sudah merestui hubungan kita."


"Tapi bukan untuk sekarang juga 'kan?"


"Keadaan yang memaksa, Rum."


Taksi yang membawa mereka berhenti tepat didepan pagar tinggi kediaman orang tua Angkasa. Pagar rumah itu terbuka otomatis.


"Langsung masuk saja, Pak." Perintah Angkasa pada supir. Dan dijawab iya oleh sang supir.


Dada Arum makin berdebar cepat, ini pertama kalinya ia bertemu keluarga Angkasa setelah mereka menjalin hubungan. Turun dari taksi Angkasa langsung menggenggam tangan Arum, mengatakan "Everythink it's oke."


Telah sampai didepan pintu rumah, Arum menahan tangan Angakasa untuk berhenti. "Aku takut." Melampirkan wajah pucat yang dipenuhi keringat dingin.


"Serahkan semua dengan ku." Memberikan senyum menguatkan, mengusap punggung tangan Arum yang berada dalam genggamannya.

__ADS_1


Pintu terbuka, rumah nampak sepi, mungkin Delia sedang tidur siang cantik.


"Pada kemana, Bi?" tanyanya pada asisten rumah tangganya.


"Ndoro besar dikamar, Ndoro Tuan barusan pulang, katanya tidak enak badan." Angkasa mengangguk, mempersilahkan Arum menunggu diruang tamu.


"Buatkan jus mangga yang segar untuk Arum, Bi." Pintanya sebelum pamit ke kamar Delia. Entah kenapa Angkasa tiba-tiba ingin minuman segar.


"Aku ke kamar mama sebentar ya."


* * *


Tok tol tok.


"Ma, ini Angkasa." Menunggu, dan tak ada jawaban. Didalam sana, sedang ada yang olahraga siang, jadi menunggu olahraganya selesai baru akan membukakan pintu.


Lima menit menunggu tapi pintu belum dibukakan. "Bi, benar mama sama ayah ada didalam?" Angkasa bertanya lagi memastikan.


"Iya, belum lama masuk. Mungkin sedang tidur siang, Den. Ndoro Tuan abis dikeriki tadi." Angkasa jadi galau, dan malah menambah hatinya yang semakin tak sabar ingin tahu respon Abian dan mamanya.


"Mama mungkin lagi tidur. Aku coba telepon sebentar."


"Yah, ada yang ingin Angkasa sampaikan, ini penting. Ayah sama mama bisa keluar sebentar nggak?"


"Tunggu lima menit."


Lebih dari lima menit, Delia dan Abian keluar dengan wajah segar dan rambut basah. Delia sempat terkejut melihat keberadaan Arum.


"Tante," Arum berdiri, mencium punggung tangan calon mertuanya.


"Ayah sakit apa?" Angkasa bertanya pada Abian dulu sebelum mengatakan yang mengejutkan.


"Hanya kecapean, tapi sudah mendingan." Angkasa menatap kedua orangtuanya bergantian.


"Ada apa?" Delia merasa curiga. Ditambah Angkasa mengenggam tangan Arum.


"Angkasa, minta tolong nikahkan Angkasa dan Arum sekarang, Ma."


"Apa?" Delia dan Abian memekik bersamaan, tubuh mereka menegang.

__ADS_1


* * *


Meski telah mengatakan alasannya kenapa Angkasa meminta dinikahkan dengan Arum hari ini juga, tetap Delia tak mengizinkan.


"Arum wanita, Mama juga wanita. Jadi Mama ingin Arum tetap diperlukan layaknya ratu sehari. Meski mendadak, Mama tetap akan merayakan pernikahan kalian, walau tidak digedung atau hotel mewah. Kita harus melalui tahapan proses lamaran, Mama tidak mau adanya pernikahan sirih. Kita harus mengurus surat-suratnya dulu," ucap Delia tadi mencoba menenangkan hatinya yang ingin meledak.


"Pulanglah dulu, Rum. Beritahu mama kamu kita akan datang besok melamar kamu. Baru setelahnya kita akan rundingkan kapan hari pernikahan akan dilaksanakan."


Arum diam memikirkan kata-kata Delia tadi.


"Tante ingin kita feting-feting baju pengantin, kita tidak bisa melewatkan momen seumur hidup sekali ini. Nanti kamu menyesal jika tidak mempersiapkan pernikahan dengan matang lebih dulu."


"Hei, kenapa diam saja?" Angkasa bertanya pada Arum, sejak masuk dalam mobil mengantarkan Arum pulang, Arum lebih banyak diam. Arum hanya menggeleng. "Jangan pikirkan apapun, mama bukan tidak merestui, hanya ingin pernikahan kita dirayakan."


"Aku malu sebagai perempuan, seperti tidak ada harga dirinya." Itu yang Arum nilai tentang dirinya.


"Bukan kamu yang minta untuk dinikahi sekarang, kan? Tapi aku yang terlalu memaksakan."


Arum diam, menatap luar jendela, matanya memanas, pandanganya mulai mengabur, tetap saja kadang perempuan yang disalahkan dalam hal seperti ini.


"Kamu tidak hamil kan, Rum?" Pertanyaan Delia tadi cukup terngiang ditelinga Arum. "Jika memang tidak hamil, tahan sebentar ya, rayu Angkasa. Tante ingin Angkasa dan Awan nikah barengan, jadi Tante harus bicara dulu juga dengan keluarga pihak pacar Awan."


Sampai dirumah Arum, Angkasa menjelaskan pada Nining jika besok orang tuanya akan datang melamar, pernikahan mereka tidak bisa dilaksanakan hari ini juga.


Mau bagaimana lagi, Nining hanya pasrah pada keadaan.


"Aku pulang dulu, tolong jangan banyak pikiran. Besok aku akan datang pagi-pagi sekali sama mama." Angkasa mengecup kening Arum lama, seperti akan berpisah lama.


"Kamu hati-hati." Arum memeluk tubuh Angkasa erat.


* * *


Belakangan cuaca di ibukota tak menentu, kadang hujan turun tiba-tiba dengan begitu deras, BMKG telah menghimbau jika beberapa hari kedepan akan hujan lebat diikuti petir dan guruh.


Seperti hari ini, hujan tiba-tiba datang dengan begitu lebat, menyebabkan beberapa ruas jalanan licin dan pemandangan didepan hanya dapat terlihat jelas dengan jarak 10 meter.


Hingga kecelakaan antara mobil sedan dan truk tak bisa terelakkan lagi, jalanan menjadi macet.


Satu orang dinyatakan meninggal ditempat, dan dua orang lagi dlarikan kerumah sakit dalam keadaan kritis.

__ADS_1


__ADS_2