
Sambil menahan tangis yang ingin pecah, Arum terus berlari mencari ruang dimana Angkasa berada.
Satu jam yang lalu, Angkasa baru saja dari rumahnya mengantarkannya pulang, tak lama Angkasa pulang, memang turun hujan. Tak berselang lama Arum mendapat telepon, dari nomor Angkasa, saat dia menjawab panggilan itu, bukan suara Angkasa, tapi suara orang lain dari pihak kepolisian yang mengabarkan jika pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan. Arum dihubungi, karena nomor panggilan yang sering dihubungi adalah Arum.
Arum harap nomor yang menghubunginya ini salah sambung, tapi saat ia memastikan nomornya, benar ini nomor calon suaminya.
Yang membuat Arum makin tak tenang, tadi pihak polisi sempat mengabarkan, jika salah satu korban kecelakaan itu ada yang meninggal ditempat, dan tidak dikenali wajahnya, Arum diminta segera hadir untuk memastikan siapa korban.
Innalillahi.
Mendapat kabar itu, Arum tak menunggu hujan berhenti, dia langsung memesan taksi. Rasanya seperti mimpi, Arum harap korban yang meninggal ditempat bukan Angkasanya.
Diperjalanan Arum sempat menghubungi Awan, mengabarkan jika Angkasa mengalami kecelakaan agar Awan mengabari keluarga yang lain dan memberi tahu dibawa kerumah sakit mana.
"Sus, dimana ruang korban kecelakaan yang dibawa kesini?" Bertanya pada salah satu perawat wanita saat sampai dirumah sakit.
"Yang tabrakan antara truk tronton sama mobil sedan ya, Mba?" Arum mengangguk. "Kalau korban yang meninggal sudah dibawa ke ruang jenazah, dua korban lagi yang mengalami kritis, sedang ditangani di ruang operasi."
"Dimana ruang operasinya, Sus?"
"Mari saya antarkan." Arum mengekor perawat itu dari belakang.
Sepanjang menuju ruang opera, Arum meremasi jemarinya berdoa, berharap sang kekasih baik-baik saja.
Ruang pertama yang ia lihat, bukan Angkasa. Dan dinyatakan meninggal dunia sebelum sempat dilakukan tindakan karena kehabisan darah. Diruang kedua yang ditunjuk perawat wanita itu, disanalah Arum menemukan Angkasa baru selesai ditangani.
"Bagaimana keadaan korban, Dok?" tanya Arum cemas.
"Anda dari pihak keluarga korban?" Arum mengangguk cepat.
"Mari ikut keruangan saya." Kini Arum berpindah mengikuti langkah dokter laki-laki yang berusia sekitar setengah abad yang rambutnya sudah dipenuhi warna putih.
Sampai diruang dokter, sampai detik itupun Arum belum bisa menitikkan air mata sama sekali, dia bahkan seperti tidak bernafas. Ponselnya berbunyi nyaringpun tak membuat Arum sadar dari dunianya.
"Maaf, Bu. Sejak tadi hape Anda berbunyi, apa tidak sebaiknya dijawab terlebih dahulu?" ucap Dokter menyadarkan Arum.
"Hah?" Cepat Arum mengambil hape yang ada didalam tasnya. Itu dari Awan, yang menanyakan keberadaan Arum. Tak lama panggilan berakhir, Awan bersama Delia, Abian dan Andini datang.
"Bagaimana keadaan Angkasa? Kenapa kamu baik-baik saja?" Delia menghampiri Arum, terlihat wajah cemas dari wanita yang telah mengandung Angkasa selama sembilan bulan itu. Delia tak tahu jika kecelakaan terjadi saat Angkasa dalam perjalanan pulang.
"Begini Bu. Biar saya jelaskan keadaan pasien saat ini." Pandangan Delia berpindah ke dokter yang menangani Angkasa menunggu penjelasan, Arumpun sana demikian.
"Dua orang saja cukup, yang ada disini." Dokter menatap yang lain, meminta agar yang lain cukup menunggu diluar saja.
__ADS_1
"Saya ayahnya, saya berhak tahu atas apa yang terjadi," Dokter itu menatap Arum dan Delia. "Mereka berdua wanita yang sangat berharga dalam hidup anak saya, jadi biarkan mereka tetap disini." Abian tahu cara menjaga perasaan keduanya.
Dokter itu mengangguk.
"Jadi begini," Arum, Delia harap-harap cemas menunggu penjelasan Dokter, tanpa sadar tangan mereka saling menggenggam menguatkan. Abian juga sama, tapi dia terlihat lebih tenang.
"Sebenarnya jika dilihat dari luar, tidak ada luka serius pada pasien, tapi ... Luka dalam kepala bagian kananya cukup parah dan mengalami keretakan." Dokter menatap ketiganya bergantian.
Ngilu Arum mendengarnya, tanpa terasa.
Tes.
Butir kristal itu lolos juga, cepat-cepat Arum menghapusnya. Delia juga sama, mendengar itu hatinya langsung berdenyut, ia mengambil tangan Abian yang ada dibahunya. Pintu ruang dokter terbuka, seorang perawat laki-laki datang memberikan hasil rontgen Angkasa tadi. "Terima kasih," ucap dokter, dan perawat tadi berlalu pergi.
"Ini hasil rontgen-nya." Menunjukkan pada Delia, dan Arum. "Setelah kami periksa, maka kami putuskan akan melakukan operasi sekarang juga, tapi karena keretakan dan susunan saraf banyak yang rusak, kemungkinan berhasil fifty-fifty."
"Ya Tuhan." Delia membekap mulutnya.
"Dan jika operasi berhasil, kemungkinan pasien juga akan mengalami koma yang cukup lama. Dan kami tak bisa menentukan kapan akan sembuhnya."
Delia memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Tante," Arum panik, Delia pingsan. Abian memanggil Awan agar membawa Delia keruang perawatan, sedang Abian meneruskan pembicaraanya dengan dokter.
* * *
"Bagaimana keadaan mama?" Abian menghampiri ruang dimana Delia dirawat setelah urusan dengan dokter selesai.
"Mama nggak papa, Yah. Mudah-mudahan sebentar lagi siuman."
Abian menghela nafas.
"Biar Ayah yang jagain mama, kamu ke ruang operasi saja ajak Arum, dan Andini. Angkasa akan segera dioperasi." Awan mengangguk, mengajak Arum dan Andini ke ruang dimana Angkasa dioperasi.
* * *
Sepanjang menunggu operasi, baik Arum, Awan, dan Andini tak ada yang membuka suara.
Arum, dia tak tahu tentang perasaanya sekarang, rasanya campur aduk, sedih, takut kehilangan, merasa bersalah, bercampur menjadi satu. Awan yang berdiri sambil melipat tangan akhirnya menghampiri Arum yang duduk berdua dengan Andini.
Awan yang hendak mengambil tangan Arum, namun cepat Arum menarik tanganya.
"Angkasa tidak suka kalau ada orang lain melakukan hal itu." Tatapan hancur sangat terlihat diwajah Arum.
__ADS_1
Awan paham itu. "Dia akan baik-baik saja, percaya padaku."
Bukan kalimat menenangkan yang bagus, tapi berhasil membuat mata Arum berair.
"Kenapa ini terjadi padanya, Wan? Dia sudah banyak melakukan hal untuk ku." Suaranya terdengar serak dan tak jelas. Arum tak sanggup membayangkan jika Tuhan mengambil Angkasa darinya.
"Karena dia laki-laki hebat dan kuat, makanya dia harus menjalani ini."
Arum menggeleng. "Seharusnya aku yang megganikan posisinya disana, bukan dia. Banyak yang membutuhkanya, sedang aku? Apa yang bisa aku lakukan didunia ini?"
Pintu terbuka. Dokter dan seorang perawat keluar.
Arum, Andini dan Awan sontak berdiri.
"Bagaimana keadaan saudara saya, Dok?"
Dokter itu membuka maskernya sebelum menjawab. "Alhamdulillah operasinya berhasil. Tapi seperti yang sudah saya jelaskan tadi, pasien akan mengalami koma yang tak diketahui kapan sadarnya."
Arum menelan ludah, setidaknya masih ada kesempatan untuk berharap pada sang pencipta, memanjatkan doa agar diberikan kesempatan menghirup udara yang sama.
Angkasa dipindahkan ke ruang ICU vvip. Satu jam dipindahkan Angakasa baru bisa dijenguk. Arum menjadi orang pertama yang bisa menjenguk Angkasa, karena Delia masih belum siuman.
Melangkahkan kakinya perlahan diruangan yang dingin itu, Arum menatap wajah Angkasa yang pucat, wajahnya terpejam dalam damai, banyak alat yang menempel ditubuhnya. Arum tak tahu jika alat-alat itu dilepaskan, apakah Angkasa masih bisa bertahan atau tidak?
Ruang itu hening, hanya terdengar suara ekg. Arum mendudukkan pantatnya pada kursi didekat pembaringan Angkasa. Disini tangisnya baru bisa pecah.
Arum mengambil tangan Angkasa, menciumnya.
Hiks hiks
"Aku tahu kamu kuat, aku tahu kamu bisa melewati semua ini. Kata-kata saudara kembar kamu benarkan begitu? Dia paling tahu apa yang kamu rasakan sekarang."
Arum kembali mencium tangan yang terasa dingin itu. "Cepat bangun, Ang. Kamu punya hutang janji sama aku, janji akan membawa ku ke pelaminan."
* * *
Diruang lain.
Delia bukan belum siuman, tapi dia sedang menyalahkan dirinya sendiri.
"Apa ini hukuman untuk aku karena telah menghalangi niat baik mereka, Bi? Andai aku mengiyakan permintaan Angkasa, mungkin hal ini tidak akan terjadi."
Abian memeluk istrinya. "Jangan menyalahkan diri kamu. Pasti ada yang ingin Tuhan tunjukkan dari peristiwa ini, Tuhan tidak pernah salah dalam menguji umatnya. Apa yang kamu lakukan sudah benar, sebagai seoarang ibu, kamu hanya ingin yang terbaik buat anak-anak kita."
__ADS_1
Tapi, tetap Delia menyalahkan dirinya, dan menyesali keputusannya.