Sepasang Sayap Angkasa

Sepasang Sayap Angkasa
Kehilangan


__ADS_3

Arum terbangun, tak merasakan pelukan sang suami. Arum membalikkan badan, ia mendapati sang suami duduk disofa dekat jendela balkon sedang memainkan ponsel.


Pemandangan pagi yang membuat jantung Arum berdegup tak normal, dimana Angkasa hanya mengenakan kaos putih, dan celana boxer putih yang memperlihatkan sesuatu yang menonjol diantara pahanya.


"Kenapa dia suka sekali pakai pakaian seperti itu, sih?"


"Good morning," Angkasa meletakkan ponsel, menyadari istrinya sudah bangun. "Sini," melambaikan tangan, meminta istri menghampirinya.


Dengan bibir mengerucut, Arum menurut, turun dari tempat tidur, maunya sih dia yang disamperin. Tapi malah dia yang diminta menghampiri suaminya.


"Duduk disini." Angkasa menarik tangan Arum saat Arum akan duduk disebelahnya, hingga Arum terduduk dipangkuanya dengan posisi membelakangi Angkasa. Seketika Arum tersentak, merasakan ada yang mengganjal dibawah sana.


Kumbang jantan milik suaminya yang ia belum pernah lihat bagaimana bentuknya? Apa memakai topi? Atau wig? Semalam sudah merasakan nikmatnya kumbang jantan suaminya, tapi kok ya masih bikin gugup. Arum ingin mengubah posisi duduk tapi Angkasa menahanya.


Jujur Arum tak nyaman duduk posisi seperti ini, tapi dia juga suka. Arum menggigiti bibirnya menghilangkan gugup.


"Apa kabar anak daddy, sudah lapar? Mau makan apa?" Dengan santai bertanya seraya mengecupi kecil leher Arum, mengacuhkan Arum yang gugup luar biasa.


Yang bertanya kali yang lapar? Lapar mau makan ibunya.

__ADS_1


"Tidur kamu nyenyak sayang?" mengeratkan pelukan dibawah perut Arum sambil jemarinya mengusap-usap perut sang istri, menduselkan kepala diceruk Arum, menikmati aroma tubuh Arum di pagi hari.


Arum belum menjawab, tapi Angkasa bicara lagi.


"Pasti tidur kamu nyenyak, sampai digigitin nyamuk nggak kerasa."


"Memang semalam ada nyamuk?" Arum memiringkan kepala untuk bisa melihat wajah tampan suaminya.


"Iya, nyamuk jantan yang nakal." Angkasa berpindah mengusap lehernya. "Banyak sekali jejaknya."


"Masa? Tapi semalam aku nggak merasa di gigit loh." Belum menyadari nyamuk yang dimaksud.


"Kamu terlalu nyenyak tidurnya, jadi nggak berasa saat digigit. Mau ditambahi nggak gigitanya?" Tanpa izin, Angkasa mencium dalam leher Arum dan menambah koleksi gigitan nyamuk dilehernya. Arum terbelalak menyadari yang dilakukan Angkasa.


Angkasa terbahak. "Abang, sayang. Baru sekali kemarin dengar kamu panggil aku abang." Angkasa menekan tombol disamping sofa, membuat sofa itu berputar otomatis, dan kini berpindah menghadap jendela yang memperlihatkan pemandangan halaman yang terdapat landasan helikoper beserta satu helikopter.


"Woahhh."


"Kamu orang pertama yang aku kasih lihat pemandangan ini, Sayang. Bahkan Awan juga tidak bisa melihat ini meski kamar kami berdampingan."

__ADS_1


"Kenapa bisa begitu?" Arum berganti posisi jadi miring, mengalungkan tangan dileher Angkasa agar tidak jatuh.


"Dia fobia ketinggian, jadi dia tidak suka melihat ada helikopter. Baru belakangan dia mau bergabung diperusahaan ayah, demi seseorang."


"Apa yang membuatnya takut ketinggian?"


"Aku tidak bisa memberi tahu mu. Aku hanya bisa memberitahu mu, jika Awan takut ketinggian." Arum mengangguk, tak memaksa Angkasa bercerita lebih lanjut tentang Awan.


"Heli itu aku beli dari hasil uang tabungan ku selama menjadi pilot di Amerika. Aku akan mengajak mu menaikinya kapan-kapan."


"Aku tunggu saat itu."


"Sekarang kita menaiki yang lain dulu. Sebelum dibawah ramai tamu berdatangan." Angkasa membawa Arum ketempat tidur, merebahkan istrinya perlahan.


"Aku belum mandi." Arum menutup wajah dengan kedua telapak tangan, malu.


"Tidak masalah, nggak mandi seminggu pun, aku nggak masalah." Angkasa menyingkirkan tangan Arum, menunduk, menempelkan bibir mereka. Arum melenguh saat ciuman itu semakin dalam, namun mereka harus terganggu sebab ponsel Arum terus berbunyi.


"Aku angkat dulu." Angkasa berdecak kesal, sebab harus menahan sesuatu yang mulai bangun.

__ADS_1


Angkasa menatap Arum yang mengangkat panggilan itu, terlihat wajah istrinya berubah. Lalu Arum menatapnya dan berkata.


"Ayah Dikdik sudah tidak ada."


__ADS_2