
Awan meluncur ke kantor setelah bertemu ibu mertuanya, tak tahu mama Voni kemana setelah bertemu dengannya, kembali ke apartemen atau pulang. Selama menyetir, mata Awan terasa berkunang, dadanya sesak, ia juga sulit bernafas. Sebisa mungkin ia mentsabilkan menyetir agar tak menabrak dan sampai kantor dengan selamat.
Sesampainya di kantor, ia melihat didepan lobby banyak laki-laki tinggi berseragam putih lengkap dengan topinya. Awan masih mendengar mereka menyapanya, ia merasa ia memberikan anggukan kecil, tapi entah terlihat atau tidak. Awan hanya berjalan agar cepat sampai ke ruanganya.
Meski terlihat samar, Awan tahu jika didepanya adalah lift, dia hapal betul letaknya. Telapak tangannya menempel tombol segitiga berhadapan dan segitiga saling berlawanan. Awan memejamkan matanya kuat agar penglihatanya sedikit jelas, tombol segitiga berlawanan yang ia pilih. Alhasil beberapa kali ia menekan tombol itu, tak berfungsi sama sekali.
Awan yang mencoba tenang, agar orang-orang tak merasa curiga jika dia tengah merasakan penyakit yang memalukan baginya itu, terus menekan, sampai terasa kulit lembut seseorang menggeser pelan telapak tangannya ke tombol disampingnya. Hanya sekali tekan, terdengar.
Ting.
Tanda pintu sudah terbuka, Awan langsung berhambur masuk, dan menyandarkan tubuh di dinding lift, diikuti seseorang dibelakangnya, entah siapa? Awan tak perduli itu.
"Apa yang terjadi?" Wanita itu bertanya. Ia kenal suara itu.
"Andini," panggilnya lemah, seiring tubuh yang ia topang merosot kebawah dengan pandangan yang menggelap.
* * *
Arum sedang menyuapi Adithya dimeja makan, masih mengenakan baju cardionya. Rambutnya disanggul keatas menyisakan beberapa helai. Arum menoleh mendengar suara langkah mendekat.
"Loh, kok belum siap-siap, nggak masuk?" tanyanya pada Angkasa, karena sang suami bukannya memakai seragam, malah masih memakai kaos biasa dan celana pendek.
"Tiba-tiba aku nggak enak badan." Menjatuhkan pantatnya di kursi. Menatap Adithya. "Udah nambah berapa kali?"
Arum melanjutkan menyuapi Adithya dengan brokoli dan wortel. "Baru dua kali, Dad. Kalau sayur aku kasih banyak." Arum letakkan mangkuk bulat berwarna putih itu, lalu menghampiri sang suami yang terduduk lemah di kursinya.
Adithya juga bertubuh gembul seperti Arum, baru berusia delapan belas bulan, tapi bobot badannya hampir mencapai dua puluh kilogram.
"Barusan nggak papa," gumamnya meraba kening sang suami. "Sarapan juga banyak." Kulitnya merasakan suhu kulit suaminya lebih tinggi. "Airlangga tidur?"
Angkasa mengangguk. "Tiba-tiba aja," sahut Angkasa memejam menikmati tangan istrinya.
"Sudah ada gantinya?" khawatir kalau izin dadakan tidak ada pilot yang mau menggantikanya.
"Sudah, untung pak Mustafa mau masuk meski sedang cuti. Tadi mau izin Awan tapi belum diangkat."
Agak lega mendengarnya, meski Angkasa merupakan anak pemilik maskapai itu, tapi tak enak kalau izin dadakan.
"Aku selesaikan suapi Adithya sebentar, nanti aku ambilin obat." Berjalan menghampiri putra pertama mereka, melanjutkan menyuapi. "Pintar anak Mommy," membersihkan mulut Adithya dengan tissu basah. "Sekarang kita mandi ya."
Sebelum memandikan keduanya, berjalan ke kotak p3k mencari obat pereda nyeri,
"Habis ini tidur, istirahat."
"Terima kasih sayang. Maaf buat kamu kerepotan sendiri."
"Aku justru senang sibuk, biar banyak gerak. Sudah keliling rumah seharian juga timbangan ke kanan terus."
"Jangan terlalu dipikirin, aku kan nggak menuntut."
"Ya, tapi kalau lagi kumpul keluarga, aku dianggap kakak mama kamu, bukan istri kamu." Bibirnya maju, lalu masuk kedalam kamar anak-anak mereka.
Setelah Arum menghilang dibalik pintu, Angkasa kembali mencoba menghubungi Awan, namun Awan tak menjawabnya juga. Angkasa tiba-tiba kepikiran saudara kembarnya, meski sudah sebesar ini, dia masih bisa merasakan jika saudara kembarnya sedang merasakan traumanya kambuh.
"Tapi apa yang membuatnya kambuh lagi? Reini sudah tidak menuntutnya apa-apa?" Angakasa menerka.
__ADS_1
* * *
Andini tidak berani mengangkat panggilan dari Angkasa diponsel Awan, hingga panggilan itu berakhir. Jika dia menjawabnya, Andini yakin Angkasa akan bertanya kenapa sampai dia yang menjawab panggilanya.
"Bapak sudah bangun?" tanyanya saat Awan membuka mata. Andini beringsut duduk disebelah sofa tempat Awan dibaringkan.
Awan coba menetralkan pandangannya mendengar suara yang memanggilnya, ia menoleh. Wajah cantik Andini tepat berada didepanya menatapnya khawatir. "Apa yang Bapak rasakan?" Pandanganya terputus sebab Andini mengangkat lututnya untuk berdiri.
"Bapak tunggu disini, saya ambilkan air putih." Bicara formal sebab mereka dalam lingkungan kerja.
Awan bangun, ia melihat sekeliling ternyata dia berada didalam ruanganya, Awan kemudian mengerakkan kepalanya kekiri dan kekanan karena terasa pegal.
"Jam berapa sekarang?" Bertanya pada Andini yang berjalan mendekat.
"Jam sepuluh pagi," jawab Andini memberikan secangkir air putih. "Kalau tiga puluh menit lagi Bapak tidak bangun, saya akan bawa Bapak kerumah sakit."
"Siapa yang membawa ku kesini?" Meletakkan cangkir diatas meja.
"Juru bicara Bapak, dan sekretaris Bapak." Mengambil duduk dihadapan Awan. Ditatapnya Awan yang kini menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Siapa saja yang tahu?"
"Hanya sekretaris dan juru bicara Anda. Tapi tadi berkali-kali Angkasa coba menghubungi Anda." Awan mengangkat tubuhnya, mengecek ponselnya yang tergeletak diatas meja.
Tak ada panggilan atau pesan dari Reini. Sejak semalam mereka belum berkomunikasi sama sekali, hanya berpapasan sejenak saat Awan mengambil pakaian dilemari. Dia juga tak tahu keadaan Reini sekarang. Awan kembali merasakan dadanya yang sesak mengingat permintaan Reini, dan ucapan mama Voni yang mengizinkanya menceraikan Reini.
"Kamu butuh sesuatu?" tanya Andini tahu Awan seperti menahan sakit.
"Oksigen." Racau Awan memejamkan mata. Andini sudah tahu penyakitnya, jadi dia tak akan menyembunyikan hal ini pada Reini.
Awan mencekal tangan Andini yang ingin keluar, Andini melihat pergelangan tangannya yang dipegang Awan. Lalu ia kembali duduk atas permintaan Awan.
"Jangan temui Reini lagi," ucapnya membuat Andini tak paham, ia menatap Awan dengan alis saling bertaut. "Jangan minta dia untuk menyukai anak kecil, karena hal itu tidak akan terjadi." Andini masih meraba arah pembicaraan Awan, tapi satu hal yang sudah ia ambil kesimpulan jika Awan dan Reini tengah bermasalah.
Tapi Andini tidak ingin menyela, menunggu Awan mengungkapkan apa yang ingin ia katakan.
"Dan aku kini harus memilih dua pilihan yang sulit untuk ku pilih."
* * *
Diapartemen, setelah tadi Voni menemui Awan dan bercerita pada Awan, Voni menemui Reini. Voni menenggak segelas air putih hingga tandas, lalu duduk di pantry.
Menyadari Reini keluar kamar, dia buka suara.
"Mama sudah bicara dengan Awan. Mama juga mengizinkan dia untuk menalak kamu agar kamu bisa bebas, dan bertindak sesuka kamu." Duduk di
Reini dengan mata sembabnya membelalakkan mata. "Mama kok gitu?" Melangkah mendekat, duduk disamping mamanya. "Mama bukannya bantu Reini biar Awan mengizinkan Reini gabung sama Merak Airlines, kenapa malah Mama minta Awan menalak Reini? Mama mau anak Mama jadi janda?" pekiknya dengan airmata mengalir.
Voni menatap Reini dengan mata memerah, ditariknya nafas agar emosinya tidak terpancing untuk yang kedua kalinya. Cukup semalam ia melayangkan tangan dipipi mulus sang anak.
"Karena Awan berhak bahagia, berhak mendapatkan istri yang lebih baik, terlalu berharga waktunya jika harus menghabiskan waktu hidup bersama wanita yang pikiranya masih seperti anak SMP."
"Ma!" disentaknya mamanya. "Reini yakin Awan mengizinkan Reini. Kenapa Mama nggak belain Reini? Awan diam itu butuh waktu buat ambil keputusan, dan itu wajar, Ma. Kenapa Mama malah ngomong begitu sama Awan?"
"Reini nggak habis pikir, dimana-mana orang tua akan selalu membela anaknya meski anaknya salah sekalipun, tapi mama malah menginginkan Reini jadi janda. Mama waras nggak sih, Ma?"
__ADS_1
Sesak rasanya memiliki anak yang tidak sadar diri dan pembangkang seperti Reini, apalagi Reini membentaknya. Air mata Voni mengalir semakin deras, Voni sampai mencengkeram kain bagian dadanya.
"Mama rasa papa kamu memberi kita makanan dan uang dari hasil yang halal, Rein. Tapi kenapa kamu tumbuh jadi anak yang seperti ini?" Voni terguguh, "hancur hati papa kamu, andai kamu tahu sejak semalam dia tidak tidur," cerita Voni dengan terisak.
"Dia rela pergi pagi pulang malam, dengan sepenuh hati dia membesarkan kamu dari jerih payahnya. Perjuanganya demi kita bersama-sama sampai sekarang itu tidak mudah. Mama tahu rasanya seperti apa berpisah, tidak enak. Tapi demi kebaikan bersama, Mama rasa ini keputusan terbaik untuk kalian."
"Kebaikan bersama siapa? Mana ada berpisah demi kebaikan bersama? Mama mau lihat Reini hancur?"
Voni memegangi tangan anaknya, suara isakanya semakin terdengar.
"Belum terlambat, Rein. Sadarlah jika memang kamu mau berubah. Sebelum semuanya terlambat."
"Yang terlambat itu kesadaran Reini, Ma. Kenapa Reini terus terpenjara di Airlangga Airlines, tanpa mencicipi tempat lain, jadi Reini nggak penasaran sama tempat lain diumur Reini yang sekarang."
"Maka kamu harus siap sama resikonya, Rein. Kamu siapkan mental kalau Awan nggak bisa menunggu kamu."
* * *
Bukan Awan yang tidak mau menunggu, tapi kedua orang tua Reini. Malam harinya Voni dan Rendy bertandang ke kediaman besanya.
"Ada apa ini, Von?" tanya Delia kebingungan sebab wajah Voni dan Rendy yang terlihat tidak baik-baik saja.
Abian juga begitu, merasakan jika sahabat mereka sedang ada masalah.
"Maafkan kami, Abian, Delia." Rendy yang bicara, menatap Abian dan Delia. "Jika kisah anak-anak kita tidak semenarik kisah kita dulu."
Delia dan Abian saling pandang, lalu menatap Rendy, menunggu apa yang akan Rendy jelaskan selanjutnya.
"Kedatangan kami kesini, kami ingin pamit," ujar Rendy menjeda sejenak, mengeluarkan surat pengunduran dirinya sebagai salah satu direksi Airlangga Airlines. Abian menatap amplop coklat itu dengan hati bertanya-tanya.
"Reini, anak kami ingin keluar dari Airlangga Airlines, dan bergabung dengan Merak Airlines."
"Loh, tidak apa. Tidak masalah bukan?" Abian tidak mempermasalahkanya sama sekali. "Jangan karena Reini menantu kami, dia tidak boleh pindah ke tempat lain. Sah-sah saja bukan? Kenapa jadi kamu harus mengundurkan diri seperti ini?"
"Karena Reini istri, Awan, Abian," jawab Voni. "Seharusnya Reini cukup fokus dengan rumah tangganya, bukan dengan hidupnya lagi. Apalagi setelah apa yang menimpanya, tapi ternyata anak kami belum dewasa. Sebagai orang tua kami menyadari salah kami dalam mendidiknya, kami bertanggung jawab untuk semuanya."
Tangan Delia saling meremas, yang ia pikirkan sekarang, Awan. Bagaimana anaknya, apakah menerima keputusan Reini?
"Jangan kalian pikirkan terlalu serius, biarlah ini menjadi urusan anak kita," ujar Abian menenangkan. "Tugas istri memang mengurus rumah tangga, tapi bukan tanggung jawabnya. Biarlah nanti aku yang bicara dengan Awan agar memberikan pengertian pada Reini, jangan sampai ada penyesalan dikemudian hari."
Abian tahu betul Rendy dan Voni, dia tahu jika kedua sahabatnya ini rela jika Awan nanti memilih melepaskan Reini, tapi mereka tak mampu mengucapkanya padanya.
Voni dan Rendy merasa lega, tapi mereka tetap tidak bisa menutupi rasa malu atas sifat kekanakan anak mereka.
"Tapi Ren, kalau kamu memang sudah lelah bekerja, ajukan saja pensiun pada Awan. Airlangga Airlines pasti akan membayar pesangon yang semestinya, jangan sungkan karena sekarang yang menjadi direktur adalah menantu mu. Dan kita berbesan."
Delia yang tadi sempat emosi atas keputusan Reini, setelah mendengar pengertian Abian kini sedikit mencair.
Ya, memang apa salahnya jika Reini ingin bekerja ditempat lain? Di luar sana juga banyak wanita yang sudah berkeluarga keluar masuk dari satu pekerjaan, ke pekerjaan lain. Jangan hanya Reini istri dari seorang laki-laki kaya, tapi tidak bisa menikmati hidup, dan beroksplor ditempat lain.
Delia mampu berpikir luas dan memandang lebih luas lagi. Diusianya yang setengah abad, sepertinya dia harus masih belajar tentang kehidupan dari anaknya. Tidak semua masalah bisa diatasi dengan emosi.
* * *
Diapartemen, Reini menunggu kepulangan Awan harap-harap cemas. Dia memandangi teleponya yang sepi, tak ada pesan, tak ada panggilan dari suaminya.
__ADS_1
"Aku harap kamu bisa memberi ku kesempatan lagi, Wan."