
Canggung, itulah yang kini dirasakan dua insan yang ada dalam mobil itu. Sang wanita yang ingin membuka suara terlebih dahulu jadi ragu karena pria tampan yang dulu selalu ramah dan baik padanya terlihat sangat dingin dan acuh, dia tak tahu apa salahnya, tapi si wanita jadi ikut diam selama perjalanan.
Dia tak tahu saja, jika lelaki yang duduk disebelahnya merasakan dag, dig, dug hanya duduk berdua dengannya. Ini pertama kalinya mereka berada dalam satu ruang kecil selama mereka saling mengenal, hingga dia sulit bernafas saat ini, baginya pasokan oksigen didalam mobil begitu sedikit, ingin menyapa terlebih dahulu, dia begitu gengsi.
"Capt," panggil Arum pada menyapa lebih dulu, menoleh pada Angkasa yang fokus menyetir.
"Dimana aku harus mengantar mu?" potong Angkasa bertanya, padahal dia sudah sangat tahu dimana alamat si wanita.
"Jalan Srikaya nomor 6," jawab Arum, tanpa mengalihkan pandangannya pada Angakasa. Arum mengulum bibir. "Capt-" panggilnya lagi, bingung mau memulai dari mana.
"Lain kali pasang seatbelt sendiri," potongnya tanpa menoleh pada Arum. Rahangnya mengeras, tanda dia tidak suka dengan adegan tadi.
"Aku,"
"Sejak kapan kalian berhubungan? Jangan mempermainkan perasaan saudara kembar ku jika hati mu masih terikat dengan laki-laki lain," ucapnya tegas, tanpa memberi Arum kesempatan bicara, tetap fokus pada jalan didepanya.
"Apa? Capt, kami tidak memiliki hubungan apa-apa." Arum coba menjelaskan, dia pikir ucapan Awan tadi hanya candaan saja.
Angkasa mencebik, bagaimana bisa yang satu menganggap calon istri, yang satu lagi mengatakan tidak ada hubungan apa-apa.
"Jangan coba mempermainkan perasaan orang lain." Lehernya ingin memutar menatap lawan bicaranya, tapi dia tahan.
"Capt, ini salah paham, saya tidak mempermainkan perasaan siapa-siapa," lirih Arum, bahunya melemah.
Angkasa enggan lagi menjawab, hatinya sudah cukup panas, entah harus berkomentar seperti apa dia pada Arum.
Mobil yang dikendarai Angkasa berhenti, mereka telah sampai didepan rumah Arum yang baru. Tapi Arum tidak sadar, masih menatap pada laki-laki yang kini bersikap dingin padanya.
"Kita sudah sampai," kata Angkasa memperingatkan, masih tak ingin menoleh, dia tahu Arum masih menatapnya.
Arum melihat sekeliling, ternyata benar mereka telah sampai, Arum menghela nafas, waktu mereka tadi habis hanya untuk saling diam, dia sendiri heran kenapa sekarang mendadak gugup bertemu Angkasa.
Dia juga tak curiga mereka cepat sampai, padahal yang mengantar tak banyak bertanya tentang alamatnya, Arum sendiri tadi tak menyebutkan alamatnya dengan lengkap. Tapi Arum nampaknya enggan turun, masih betah menatap laki-laki disebelahnya.
"Capt, boleh saya bicara sebentar?"
"Turunlah, aku tidak ingin ada salah paham jika kita terlalu lama didalam mobil. Aku rasa trauma mu juga belum sembuh total."
Arum memejamkan matanya, lalu membukanya.
__ADS_1
"Saya hanya minta waktu Captain sebentar, suster Andini telah merawat ku dengan baik, berkat Captain mengirimkannya untuk saya."
Arum sungguh ingin bicara pada Angkasa.
"Bagus kalau begitu." Angkasa masih bicara dingin.
Arum menunduk sebentar, kemudian memutar tubuh menghadap Angkasa.
"Terima kasih atas bantuan Captain selama ini, maaf saya tidak bisa membalasnya," katanya menatap Angkasa yang masih enggan menoleh kearahnya.
"Hemm."
"Bisa kita berteman, Capt?" kata Arum, lebih ke permintaan, dia sungguh ingin dekat dengan Angkasa, menebus kesalahannya dulu, entah mengapa sikap dingin Angkasa membuat Arum tidak nyaman. Karena Arum sadar, Angkasalah yang bisa membuat dia keluar dari lingkar hitam kehidupannya dan selalu menolongnya.
"Sudah selesai? keluarlah," usir Angkasa tak menanggapi ucapan Arum, hatinya ingin menahan, tapi tak tahu dengan cara apa.
Diusir dan merasa membuat Angkasa tak nyaman didekatnya, Arumpun mengangguk. Tiba-tiba matanya mengembun, padahal dia selama ini sudah begitu bersahabat dengan yang namanya diperlakukan dingin oleh siapapun.
Tapi yang melakukan ini Angkasa, Arum rasanya begitu sakit, sampai-sampai membuatnya kesulitan saat membuka seatbelt. Arum terus mencoba dan berusaha, dia bahkan sampai merutuki dirinya yang mendadak melankolis hingga melakukan hal sepele saja dia tak bisa. Namun pergerakan tanganya yang terus mencoba membuka seketika terhenti saat tangan besar itu membantunya.
Arum tertegun, refkeks menjauhkan tangannya, menatap wajah tampan yang kini jaraknya begitu dekat denganya, wangi parfum maskulin Angkasa membuatnya sampai menahan nafas, jantungnya berdetak cepat, apalagi posisi laki-laki itu seperti sedang memeluknya karena tangan yang satunya memegang bagian belakang kursi Arum, sedang tangan satunya membuka tali yang mengikat tubuh Arum.
"Terima kasih," lirih Arum, cepat ia keluar dari mobil Angkasa dengan suaranya yang terdengar serak.
Angkasa menelan ludah, menatap punggung yang membungkuk itu menjauh, dia mendesah, apa tadi dia tidak salah dengar jika Arum menangis? Dia yang dulu selalu perhatian pada Arum membuatnya peka apa yang terjadi pada gadis itu.
* * *
Awan tiba dirumah Reini, dia bertemu dengan Voni, mama Reini. Voni mengatakan jika sudah dua hari ini Reini terlihat murung, susah makan, dan sering mengurung diri dikamar. Setelah mengatakan itu pada Awan, lalu Voni keatas, menuju kamar anak semata wayangnya, memanggil Reini jika ada Awan yang datang menemuinya.
"Bilang sama Awan, Reini nggak mau ketemu siapa-siapa," kata gadis yang tidur terpelungkup, menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.
Voni mendekat, duduk diatas ranjang, mengusap kaki anaknya.
"Kalian lagi ribut? Biasanya kamu seneng ada Awan, terus minta Awan ajak kamu jalan-jalan."
"Awan sekarang sudah sibuk sama calon istrinya, Ma. Buat apa ngurusin Reini lagi."
"Kamu cemburu sama Awan?" tanya Voni, tersenyum jahil, padahal anaknya tak melihatnya.
__ADS_1
Reini seketika mengangkat kepalanya. "Siapa juga yang cemburu?" bibirnya cemberut.
"Kalau nggak cemburu, sana, temui dia." Tak ingin banyak beenegosiasi dengan anaknya, Voni beranjak, dan keluar kamar.
Tak lama Reini keluar menemui Awan. "Ngapain kamu kesini? Udah nggak sibuk sama calon istri kamu?" ketusnya pada Awan, duduk di sofa lain, melipat tangan didada.
Awan tak menjawab, mendekatkan wajahnya pada Reini, meneliti wajah Reini yang terlihat sembab, Reini memberingsutkan wajahnya kebelakang.
"Kamu habis nangis?" tanyanya, kembali mendaratkan pantat ke sofa panjang itu.
"Nggak usah sok perhatian, ngapain kamu kesini?" omelnya masih ketus.
"Mampir aja, kebetulan lewat."
Reini mendengus. "Kalo lagi nggak lewat, berarti gak kesini."
"Aku sekarang sibuk."
Voni datang membawakan minuman untuk Awan. "Oh ya, kata mama kamu, sekarang kamu kerja ya, Wan?" tanya Voni, dia ikut nimbrung, duduk disebelah Reini.
"Iya tante, demi calon istri Awan nanti."
"Oh ya, kamu udah mau nikah? Sama siapa?" Voni terkejut, melirik Reini yang wajahnya berubah pucat pasi.
"Sama wanita yang sudah menjungkir balikkan hati Awan," sahut Awan.
Reini mencelus, ia dubuat berpikir, sehebat apa wanita itu hingga membuat Awan jauh berubah seratus delapan puluh derajat, menjauh darinya, lebih sibuk dari biasanya, dan juga bisa membuat Awan mau bekerja, padahal setahunnya, Awan itu paling malas bekerja berbanding terbalik dengan Angkasa yang suka bekerja keras.
* * *
Malam hari, Arum menatap langit-langit kamar rumah kontrakanya, dia tidur hanya beralaskan kasur lantai. Disampingnya, mamanya sudah tidur membelakanginya.
Arum terus mengubah posisi tidurnya, matanya sulit sekali untuk diajak terpejam, dia terus memikirkan yang terjadi padanya, Angkasa yang kini berubah dingin padanya, dan ucapan jujur papanya.
"Iya, kamu memang bukan anak ku, Rum. Kamu anak dari laki-laki yang merupakan saudara kembarku, laki-laki tak bertanggung jawab itu kecelakaan sebelum hari pernikahannya dengan ibu mu. Dan melimpahkan tanggung jawabnya padaku."
"Sebenarnya bukan kamu tidak lulus sekolah pramugari, itu karena permintaan ku pada Alex, agar kamu membayar semua apa yang sudah aku berikan pada mu selama ini."
Air mata Arum menetes, antara sedih dan bahagia dia bukan darah daging dari laki-laki bejat yang suka main tangan pada wanita, namun mengetahui jika dia anak tanpa mahram, Arum begitu sedih. Itulah mengapa mamanya tak pernah jujur padanya perihal siapa papanya yang sesungguhnya, karena mamanya malu mengakui kesalahannya dimasa lalu.
__ADS_1