
Dikamar pasangan suami istri lawas, Delia dan Abian. Mereka bersiap ingin tidur, Delia baru selesai dengan rutinitas merawat wajahnya malam hari, Abian sedang menyelesaikan masalah perusahaannya yang sudah hampir rampung. Para pembelotnya, yaitu pendukung Axel, sudah ia beri gaji terakhirnya, sedangkan masalah dengan Axel, ia yakin Axel akan menghabiskan sisa usianya didalam jeruji besi.
Delia naik keatas tempat tidur, ikut duduk disebelah suaminya yang sedang memegang benda pipih keluaran terbaru.
"Hai," sapa Abian tersenyum pada istrinya yang sudah wangi. "Kamu wangi banget."
Delia tersipu malu, takut ketahuan jika dia sedang ada maunya. "Kamu masih lama?" tanyanya sedikit mengintip yang sedang dilakukan suaminya.
"Sedikit lagi," sahut Abian melanjutkan ketikanya, tak lama ia mengklik tombol turnoff untuk mematikan tablet yang sejak tadi menemaninya.
"Kenapa sih, senyum-senyum begitu? Mencurigakan," ia mencolek pinggang sang istri jahil.
"Nggak papa," kilah Delia, "emm, Bi. Kamu setuju nggak kalo aku jodohin Angkasa sama teman Denisa?"
Abian mengernyit. "Kenapa memangnya? Anak kita tampan seperti aku, nggak mungkin dia nggak bisa cari jodoh sendiri."
"Bukan begitu, aku tadi dengar Angkasa dan Awan sedang memperebutkan Arum, aku nggak nggak sreg aja sama Arum."
"Merebutkan Arum? Bukanya kata kamu, Awan suka sama Reini?"
"Iya, tapi nggak tahu kenapa tiba-tiba Awan suka sama Arum. Perkara Reini mereka nggak pernah ribut, kenapa Arum jadi rebutan mereka?" keluh Delia pada suaminya. "Arum dan Reini sama-sama cantik, tapi Arum yang aki dengar kan pernah ada hubungan sama Alex, berarti dia sudah nggak- virgin lagi donk," lirih Delia.
Sebagai ibu, wajar saja jika dia mengharapkan anak-anaknya mendapatkan pasangan yang baik untuk mereka.
Abian mengambil kedua tangan istrinya, digemggamnya.
"Sayang, kamu tidak boleh seperti itu, kamu perempuan, Arum juga perempuan. Dan kita punya anak perempuan. Perkara hati kita tidak bisa ikut campur. Aku yakin Awan dan Angkasa bisa mengambil keputusan yang baik, bisa memilih pasangan yang baik juga untuk mereka. Biarkan pilihan ada ditangan mereka, sebagai orang tua kita hanya bisa mendukung apa yang sudah menjadi keputusan mereka," kata Abian coba memberi pengertian pada istri tercintanya.
"Arum mungkin punya masa lalu yang tidak bagus menurut kita, tapi kita tidak tahu apa yang sudah dia alami selama ini. Kamu tahu berkat dia perusahaan terselamatkan, dia mengambil resiko tinggi selama ini, mungkin saja dia banyak tekanan dalam hidupnya yang kita tidak tahu."
Bahu Delia melemah tidak mendapatkan dukungan dari suaminya.
"Tapi kalau aku coba mengenalkan Angkasa sama teman Denisa, boleh? cuma ngenalin, perkara mereka cocok atau tidak, ya kita serahkanpada mereka saja," katanya masih kekeh dengan pendirianya yang berusaha menjodohkan Angkasa.
Abian hanya dapat menarik nafas. Ini istrinya minta izin, atau cuma memberi tahu?
"Terserah kamu saja, yang penting tidak memaksa Angkasa, kalau dia tidak mau, kamu harus menerima keputusan Angkasa."
__ADS_1
Delia tersenyum semringah, dia yakin akan perjodohannya.
"Dua hari lagi acara ulang tahun si kembar, aku akan bawa gadis itu di acara ulang tahun mereka nanti, sekaligus membuat pertunangan Awan sama Reini. Aku mau mereka nikahnya barengan," kata Delia begitu antusias.
"Loh, bukannya kata kamu tadi Awan dan Angkasa memperebutkan Arum, itu artinya Awan menyukai Arum, kenapa kamu malah maunya Awan sama Reini tunangan?"
Delia mesuh-mesuh. Abian hanya menggeleng kecil.
"Jangan sampai hati kamu tertutup dengan apa yang belum tentu kebenarannya, tidak mungkin juga kan kamu menanyakan ke-vir-"
Eumppphhh
Bibir Abian dibungkam oleh bibir istrinya. "Kamu nggak boleh sebut itu," katanya. Tapi kemudian Abian menarik tengkuknya, melùmat bibirnya dalam, hingga ciuman panas pun tercipta, dan berakhir membuat adonan cucu.
* * *
Lain ibu, lain lagi yang dilakukan.
Setiap manusia punya masa lalu, tapi tidak semua sadar akan kesalahannya.
"Sudah selesai buat adonanya?" tanya Nining menghampiri Arum di dapur, dapur sederhana yang hanya ada meja kompor, satu oven, kulkas, dan beberapa perkakas dapur yang hanya Arum butuhkan.
"Sudah, Ma," jawab Arum menoleh kebelakang, Nining berdiri disampingnya.
"Kamu semangat sekali, padahal Mama nggak ada bantuin kamu."
"Keinginan Arum hidup berdua sama Mama sudah tercapai. Jadi, apalagi yang Arum pikirkan?"
Nining tersenyum getir, padahal keinginan anaknya hanya sederhana. Dia dulu terlalu bucin pada Dikdik hingga dibutakan mata hatinya, hingga mengesampingkan kebahagiaan anak semata wayangnya, bahkan membiarkan laki-laki yang bukan ayah kandung dari anaknya itu, melakukan kekerasan pada Arum.
Dia ibu yang paling beruntung memiliki anak sekuat Arum, mau dipaku bagaimanapun, Arum tetap berdiri tegak pada pendirianya. Hanya saja Arum sempat bengkok saat ditancapkan pada tembok hati Alex, hingga hidupnya semakin tak terarah. Tapi sepertinya Arum tidak lagi tertancap dihati Alex, seseorang telah mencabutnya dari sana.
"Besok bangunin Mama ya, Mama mau bantuin kamu bungkusin dan buka toko."
"Nggak usah, Ma. Mama istirahat aja, Arum nggak mau Mama kecapean."
"Mama dari kemarin sudah istirahat saja, kamu kemana-mana sendiri, ngelakuin apa-apa sendiri. Punya Mama seperti tidak punya Mama."
__ADS_1
Arum menutup tempat adonan dengan plastik wrapping. Arum terlihat sangat seneng dengan perubahan mamanya yang ingin membantunya dan berbicara padanya, entah apa penyebabnya?
"Mama bener mau bantuin Arum?" Nining mengangguk.
"Kalau begitu sekarang kita istirahat," ajak Arum membawa bahu sang mama ke kamar.
Langit-langit kamar menjadi pemandangan bagi setiap orang yang sedang memikirkan apa yang akan mereka ungkapkan satu sama lain. Arum dan Nining masih kaku untuk memulai pembicaraan, sebab memang selama ini mereka jarang mengungkapkan isi hati mereka dari hati ke hati.
Helaan nafas terdengar keluar dari alat pernapasan mereka, keduanya saling pandang dan tersenyum menyadari yang mereka lakukan.
"Ada yang ingin Mama ungkapin?" tanya Arum lebih dulu.
Nining tersenyum, kembali pada langit-langit kamar. Kemudian untaian kata demi kata ia ungkapkan, cerita awal jika dia hamil diluar nikah, ayah kandung Arum yang lebih dulu meninggalkan mereka disaat mereka belum sah secara agama ataupun negara, cinta dan keinginan besar tidak menjamin seseorang bisa bersatu, jika sang pemilik raga tidak merestui.
"Mama malu mengakui ini, Rum. Maafkan Mama," lirih Nining dengan air mata yang tak terbendung. "Kamu menjadi korban atas keegoisan Mama. Andai Mama memiliki semangat sehebat kamu, mungkin Mama memilih membesarkan kamu seorang diri, tapi Mama terlalu pengecut, takut tak memiliki rejeki yang mencukupi. Padahal setiap makhluk yang bernafas, memiliki rejekinya masing-masing, tapi mana tergoda oleh kilaunya dunia
Meski sudah tahu kenyataan itu dari Dikdik, tapi Arum tak bisa membendung derasnya air mata, mendengar pengakuan itu dari mamanya sendiri.
Dia sudah memaafkan mamanya.
"Rum, maukan kamu memaafkan Mama yang tidak jujur dari awal sama kamu? Mama juga takut kamu sedih saat sekolah, teman-teman kamu punya papa, sedangkan kamu tidak. Mama tidak bisa menjawab pertanyaan kamu, Rum."
Arum menoleh kesamping, dimana Nining juga menoleh kearahnya. "Arum sudah memaafkan Mama sejak Arum tahu, jika Arum cuma punya Mama," jawab Arum. Keduanya berpelukan.
"Dari pengalaman Mama, Mama harap kamu jangan mengulang kesalahan yang sama, Rum. Takut jika jodoh kita bukan orang yang kita mau. Dan Tuhan merencanakan yang lain."
Arum mengangguk, mengusap pipi dan matanya yang basah, kemudian menghapus air mata mamanya. Nining terguguh Arum melakukan itu untuknya.
* * *
Pagi hari, saat Arum sedang sibuk dengan bungkusan rotinya, Arum kedatangan tamu tak diundang.
"Benar ini atas nama, Ibu Citra Arum Pratiwi?" tanya seorang kernet truk itu.
"Benar saya sendiri," jawab Arum.
"Maaf, Bu. Kami dapat amanah untuk mengirimkan barang-barang ini kerumah Bu Arum," katanya menunjukkan surat jalan pada Arum. Mata Arum terbelalak saat membaca satu demi satu nama barang yang datang.
__ADS_1