SERPIHAN HATI LIANTI

SERPIHAN HATI LIANTI
CEWEK SETRESSS


__ADS_3

Jam pelajaran di SMA 75 sejak tadi sudah dimulai, dikelas IPA 4 para siswa siswi terlihat sibuk mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru Matematika. Tapi berbeda dengan seorang Lianti yang nampak duduk terdiam tidak melakukan apa apa, ia sama sekali tidak focus.


" Kamu kenapa? sakit lagi? kok bisa gitu ya? " tanya Rara usil, sambil menepuk bahu Lianti.


" Eh ngak, ngak apa apa kok " ucap Lianti kaget.


" Kamu itu seenaknya aja ya? mau datang ya datang, mau ngak ya ngak. Bahkan datang dan cuma duduk nyantai tanpa ikut pelajaran pun bisa, memang sekolah ini milik nenek moyang kamu ya? " ucap Rara sinis tanpa mikir.


Lianti yang selama ini tak peduli sikap Rara pada dirinya entah mengapa mulai merasa terusik, " Ra, sebenarnya salah aku apa? kok sikap kamu selalu gitu ke aku? " ucap Lianti kesal.


" Ow udah pinter ngomong rupanya ya? mau tau salah kamu apa? iya mau tau? itu karena kamu merebut Irvan dari aku, faham? " ucap Rara sambil mencengram dagu Lianti, lalu dihempas dengan kasar.


" Ra, aku ngak pernah ngerebut siapa pun. Aku bisa jadian sama Irvan karena dia yang nembak duluan, jadi ngak bener kalau kamu nuduh aku ngerebut " Lianti yang sudah kesal dan tidak mau mengalah lagi dan juga karena moodnya hari ini memang kurang bagus.


" Banyak bacot kamu ya.." Rara yang sudah mengangkat tangan bermaksud menampar Lianti, seketika mengurungkan niatnya tatkala matanya tanpa sengaja melihat guru matematikanya berada di depan pintu kelas, " Saat ini kamu beruntung, asal tau ya..sejak dulu aku dan Irvan sudah dekat, tapi karena kamu terus menggodanya dengan gaya sok pintermu itu akhirnya dia menjauh dari aku " ucap Rara agak pelan namun sangat sinis penuh kebencian.


Lianti diam dan tak lagi membalas ucapan Rara, hanya pancaran matanya yang begitu mengisyaratkan kemarahan mendalam menatap punggung Rara yang pergi menjauh darinya.


" Hmm dasar setress " gumam Lianti dalam hati.


*


Sementara dikelas sebelah Luna yang sejak kemarin tidak terima dengan sikap Irvan, ia terus saja memaksa laki laki itu untuk bersamanya. Bahkan ia tak perduli dengan semua mata yang menatapnya aneh.


" Ih ngak tau malu deh sudah ditolak juga "


" Kasian deh loh, ngemis banget "


" Cantik cantik kok bego ya? "


" Idih maksa gitu "


Suara suara selentingan teman teman sekelasnya yang mulai mencemooh.

__ADS_1


" Van, aku mohon jangan kayak gini..aku sangat sayang sama kamu..aku rela ngelakuan apa aja asal kamu mau bersamaku " ucap Luna memelas.


Irvan hanya diam tak merespon, fikirannya saat ini hanya pada Lianti yang belum bisa ia hubungi apa lagi ditemui, " Hmm apa yang harus aku lakukan Tuhan, tolong pertemukan aku dengannya..aku mohon kabulkan doa hamba.." Irvan merafalkan doa dalam hati.


Arya yang baru saja masuk kelas langsung menghampiri Irvan dan menepuk bahunya, " Mas bro, bisa ngomong sebentar? " ucapnya sambil berjalan menuju bangkunya.


Irvan tersentak dari lamunannya lalu menoleh ke arah Arya, " Bro, kita ngomong di luar aja " kemudian ia pun merapikan buku dan segala benda miliknya yang tergeletak diatas meja. Setelah semuanya beres, ia pun berjalan keluar kelas melewati Luna tanpa menggubrisnya samasekali.


" Tunggu Van, aku mau ikut.." Teriak Luna ikut mengekori Irvan.


Dengan gerakan cepat, " Mau kemana kamu Luna? kami lagi ada hal yang harus dibahas dan ini urusan laki laki, kamu ngak boleh ikut " Arya menarik tas yang yang bertengger dipunggung Luna.


" Apaan sih, lepasin tangan sial kamu Arya..aku ngak ada urusan sama kamu " bentak Luna.


" Irvan Irvan tunggu " teriak Luna panik karena Irvan sudah berbelok dan tak terlihat lagi " Ini gara kamu brengsek, lepasin ngak ? " Luna terlihat sangat marah, wajahnya sampai memerah.


" Uppsss sorry, aku kan cuma kasih tau kalau kami lagi ada urusan. Ngak pake marah marah gitu juga kali " ucap Arya, dengan santainya ia melepas pegangannya pada tas Luna sambil tersenyum.


" Awas kamu ya.." ucap Luna menatap tajam pada Arya, sebelum berlari mengejar Irvan.


Arya pun merogo kantong mengeluarkan phonselnya, " Ar.. maaf tadi aku tinggal, sekarang kamu kemari..aku tunggu dipelataran masjid sebelah sekolah ya " ucap Irvan tanpa basa basi.


" Mak lampir masih ngejar kamu tuh? " ucap Arya dengan cirikhas bercandanya.


" Nah itu dia masalahnya bro, aku juga heran sama wanita itu..kok nemplok mulu padahal udah aku bilang ngak pengen lebih dari teman..Udah buruan kesini " ucap Irvan sebelum mengakhiri panggilan telponnya.


**


Arya seketika berbelok arah dan tidak jadi mengambil motornya saat melihat Luna diparkiran sekolah, " Dasar cewek setress " umpatnya, ia kembali ke koridor dan berjalan ke samping kantin sekolah dimana terdapat pagar pembatas antara masjid dan sekolah.


Dengan gerakan hati hati Arya memanjat tembok yang tingginya kurang lebih sama seperti ukuran tinggi badannya, " Brakk " Arya pun melompat dan mendarat mulus dihalaman samping masjid dengan sedikit berjongkok.


Setelah kembali berdiri Arya pun bergegas mengitari halaman masjid mencari keberadaan Irvan. Seketika matanya tertuju pada mobil mewah yang terparkir dihalaman dibelakang " Ow ngumpet disini rupanya, dikejar mak lampir ya hahaha " canda Arya saat sudah berdiri disamping Irvan yang duduk santai di dalam mobilnya menikmati alunan musik jaz.

__ADS_1


" Masuk bro " ucap Irvan.


Arya pun memutar ke arah pintu sebelah pengemudi, setelah masuk mobil ia mencari posisi duduk yang enak sebelum memulai ngobrol.


" Kita cabut ke warkop aja ya Ar.." seketika Irvan menghidupkan mesin mobil.


" Tunggu mas bro, aku mau kasih tau kalau Lia sudah masuk hari ini. Orangnya masih dikelas noh " cegah Arya.


" Beneran Ar? Lia udah masuk? " tanya Irvan dengan ekspresi bagia dan ingin memperjelas apa yang ia dengar.


" Beneranlah, masa iya bohongan? " jawab Arya asal.


" Maaf, bukan gitu maksudnya. Ini efek bahagia.. mas bro hahaha " Irvan pun tertawa bahagia.


" Iya iya ngerti " ucap Arya manggut manggut seirama musik di dalam mobil itu.


" Kalau gitu, kamu balik ke sekolah dan pulangnya usahakan bareng sama Lia. Kita ketemu di warkop x atau kalian tentuin tempatnya dan nanti kirim aja lokasinya " ucap Irvan begitu bersemangat.


" Baiklah kalau gitu, aku usahain bawa Lia buat kamu. Tapi kalian jangan ribut saat bertemu, omongin baik baik dan jelasin pelan pelan tanpa emosi " Nasehat Arya seolah berpengalaman.


" Thank you bro, kamu memang kawan yang paling ngerti gimana hubungan aku dan Lia " Irvan terlihat serius.


" Santai mas bro, kalau gitu aku balik sekarang aja..takutnya Lia keburu pulang " Arya bergegas turun dari mobil Irvan.


" Okey mas bro " ucap Irvan singkat, " Eh tunggu, hati hati ya..jangan sampai kepergok Luna " ucap Irvan mewanti wanti Arya.


----------------------------------


BERSAMBUNG


Mohon maaf buat para pembaca, karena beberapa waktu lalu sempat libur menulis. Itu dikarenakan Author kurang lebih seminggu di Rumah Sakit🙏🙏


Dan seperti yang sudah sudah dengan ini Author juga lagi lagi promosi novel ke 2, " AKU BUKAN SIMPANAN " yang berkisah tentang ketabahan istri seorang pelaut..INGIN TAHU KISAH LENGKAPNYA ?..yukkk dikepoin👇

__ADS_1



__ADS_2