
Sudah hampir seminggu hubungan Irvan dan Lianti renggang, soal perselingkuhan dan hamil bahkan aborsi pun ikut mewarnai gosip berakhirnya hubungan mereka berdua.
Dikeseharian Irvan kini terlihat sering bersama Luna, dan tak sedikit orang yang beranggapan kalau mereka sudah menjalin kedekatan yang bukan sekedar teman. Termasuk Arya yang notabene sahabat Irvan sendiri, " Van, apa benar kamu dan Luna sudah jadian? " tanya Arya mulai jengah dengan apa yang di dengarnya dan juga apa yang dilihatnya dari sikap Luna yang terkadang sok pamer kemesraan dan tak kenal tempat.
" Maaf mas bro, baiknya jangan ikut campur lagi. Aku mau dekat dengan Luna atau siapa pun itu bukan urusan kamu " jawab Irvan ketus dengan ekspresi yang sulit diartikan, lalu ia pun berjalan keluar kelas menghampiri Luna yang sudah menunggunya di depan kelas tanpa peduli pada Arya dan apa yang difikirkannya.
" Hmm kamu akan menyesal nantinya Van jika tau fakta yang sebenarnya, dan semoga saja Lianti masih sudih memaafkan kamu " gumam Arya dalam hati.
*
Seperti biasa keriuhan selalu mewarnai suasana kantin SMA 75 yang dipadati para siswa siswi di jam jam istirahat.
Lianti terlihat duduk dipojokan menikmati semangkok soto ayam dan sepiring nasi, ia duduk dengan santainya tanpa terganggu dengan mata mata sinis yang menatapnya dan mulut mulut tajam yang memperbincangkan dirinya.
Namun tak berselang lama ketenangan Lianti pun terusik tatkala dua sejoli yang lagi hangat diperbincangkan itu ikut muncul dikantin, " Selera makanku jadi hilang " gumam Lianti dalam hati melihat Irvan dan Luna duduk tak jauh dari tempatnya duduk saat ini.
Seketika itu pula Lianti meletakkan sendok dan bergegas berdiri setelah sebelumnya menyedot sedikit jus sirsak yang ada di depanya.
" Mau kemana? duduk aja, tenang ada aku " ucap seseorang yang entah sejak kapan duduk disamping Lianti.
" Kak Ari.. " Lianti agak terkejut dengan kehadiran kakak kelas dan sekaligus rekannya sesama pengurus Osis itu.
Ari tersenyum seolah memberi isyarat agar wanita itu kembali duduk tenang, dan entah kenapa Lianti pun langsung menurut saja.
" Thank you kak " Lianti menatap Ari serius.
" Lanjutkan makanmu, ada aku disini bersamamu " Ari lagi lagi tersenyum.
" Aku udah kenyang kak " ucap Lianti sambil meraih gelas jus sirsak didepannya, lalu disesapnya perlahan.
" Hmm mubazir tau, atau mau aku suapin ? " ucap Ari menggoda.
" Ih apaan sih kak, memangnya aku boca hehehe " Lianti tertawa.
" Ya udah, ayo makanannya dihabisin " Ari mulai menyesap kopi yang masih panas.
Sementara itu dimeja sebelah semasang mata elang sudah sejak tadi mencuri curi pandang seakan mengawasi mereka dengan ekspresi yang sulit diartikan.
__ADS_1
Seketika pemilik mata elang itu bangkit dari duduknya, " Lun, aku tinggal ke toilet dulu ya " ucapnya, lalu laki laki yang tak lain adalah Irvan bergegas keluar kantin.
**
" Drekkkk drekkk drekkk " phonsel Lianti berbunyi.
" Iya Ar, ada apa ? " Lianti menjawab telepon.
" Kamu ditunggu kak Ari diruang rapat, ada hal penting katanya " ucap Arya panjang lebar.
" Tunggu ya, ini bentar lagi selesai kok " jawab Lianti yang tetap sibuk dengan kertas kertas catatan tugas kimianya.
" Okey kalau gitu, biar aku sampein ke Ari. Selamat belajar nona Lia, pelan pelan aja biar ngak setres " keusilan Arya kembali kumat.
" Udah udah mau aku tutup, ini malah jadi lama kalau diajak ngobrol mulu " balas Lianti dengan candaan juga.
" Ya udah, By by " ucap Arya sebelum sambungan telepon terputus.
" Hal apa ya yang kak Ari mau omongin? " Lianti terdiam sejenak. Kemudian menggeleng gelengkan kepalanya, " Ih Kenapa malah mikirin kak Ari sih " ucapnya seolah memaki diri sendiri.
Kemudian mencoba kembali focus pada tugas kimia yang harus segera dikumpulkannya.
Sementara dikelas sebelah Irvan dengan wajah masam hanya duduk diam karena tak bisa focus dengan pelajaran, benaknya terus dibayangi kejadian dikantin saat melihat Lianti duduk dengan laki laki lain sambil tersenyum bahkan sesekali tertawa bahagia.
" Apa yang mereka omongin ? "
" Kenapa Lia tak sedikit pun melirikku? "
" Lia tertawa lepas, seakan aku tak ada ditempat itu "
Berbagai pertanyaan muncul dikepala Irvan.
Kemudian Irvan tersentak dari lamunannya, " Ngak bisa, Lia ngak boleh jadian dengan laki laki itu…" ucapnya sambil mengepalkan telapak tangan kanannya.
Tanpa berfikir panjang lagi, Irvan pun mengambil phonselnya dan menghubungi Arya, " Tutttt tutttt tuttt "
Hingga panggilan ketiga pun Arya tetap tidak menjawab, " Kenapa ngak dijawab? " Irvan terlihat kesal.
__ADS_1
" Ting " tiba tiba suara notif terdengar dari phonsel Irvan, " Ada apa mas bro? aku lagi diruang Osis nih " tertera pemberitahuan chat dari Arya.
Secepat kilat Irvan pun menjawab, " Apa hubungan Lia dengan kak Ari? " tanya Irvan tanpa basa basi.
" Lah kok tanya aku? noh tanya langsung sama yang bersangkutan " jawab Arya sambil mengirim foto Lianti dan Ari sedang ngobrol berdua diruang rapat Osis, yang diambilnya secara diam diam.
Melihat itu Irvan bak kebakaran jenggot, ingin marah tapi pada siapa? ingin menyusul ke ruang Osis, tapi saat ini dirinya dan Lianti sudah renggang walau tanpa kata pisah. Sejujurnya ia masih sangat mencintai Lianti, namun hasutan Luna soal penghianatan dan aborsi membuatnya meredam rasa itu.
" Kamu kenapa Van? " sapa Luna yang sudah duduk disamping Irvan.
" Eh, Aku aku..ngak apa apa kok Lun " Irvan tersentak kaget.
" Ada masalah lagi dengan cewek berengsek itu? " selidik Luna menatap Irvan.
" Ngak kok, aku cuma capek aja. Oiya entar aku ngak bisa anterin kamu pulang, aku ada janji dengan teman siang ini " Irvan mencoba bersikap biasa, ia malas meladeni pertanyaan pertanyaan Luna yang bisa saja membuatnya bertambah kesal.
" Hah, kok gitu? aku mau ikut aja " jawab Luna dengan nada protes.
" Lah mau ngapain ikut? " tanya Irvan heran.
" Biar sekalian kenalan dengan mereka kan? " Luna menjawab dengan nada mulai ketus.
" Hmm maaf Lun, kali ini aku ngak bisa.. " Irvan menarik nafas dan membuang kembali dengan kasar.
" Kenapa Van? apa aku kurang cantik ketimbang cewek sialan itu? " Luna mulai emosi.
" Stop, kamu bisa ngak sih ngak ngebahas Lianti? otakku sudah dipenuhi oleh dia sampai aku ngak bisa mikir lagi ini..tolong ya" Irvan ngerocos tanpa sadar.
" Apa? kamu bilang apa Van ? jadi ternyata cewek murahan itu yang buat kamu sejak tadi seperti ini dan ngak bisa focus ? " teriak Luna marah.
" Cukup Luna.. aku sudah pusing kepalaku seakan mau meledak, jangan nambah nambah lagi..aku ngak mau berdebat. Pergilah, aku mau sendiri " Irvan mencoba tetap tidak terpancing emosi.
" Ngak, aku ngak mau pergi. Dan aku minta sekarang juga hilangkan cewek sialan itu dari fikiran kamu " Luna semakin kesal.
" Okey, kalau begitu aku yang pergi " Irvan pun berdiri, lalu meraih tas dan jaketnya sebelum keluar meninggalkan kelas tanpa peduli pada Luna dan semua mata yang tertuju padanya.
----------------------------------
__ADS_1
BERSAMBUNG
MAAF BARU BISA UP LAGI, BEBERAPA WAKTU LALU ADA MASALAH DENGAN AKUN NT AUTHOR. TAPI ALHAMDULILLAH SUDAH BISA TERATASI😇🙏