
Irvan melajukan motornya dengan kencang menyusuri jalan raya, rasa kesal yang memenuhi hati dan fikirannya membuat dirinya mulai egois,
" Ahhh dasar cewek.." teriaknya
" Memang nya aku dukun? dianggapnya bisa nebak apa yang dia fikirin? " umpatnya makin tancap gas.
Tiga puluh menit kemudian Irvan sudah tiba dirumah. setelah memarkir motor kesayangannya digarasi, ia pun masuk dan langsung menuju lantai atas dimana kamarnya berada,
" Apa aku coba telpon lagi aja kali ya?"
" Tidak..tidak, kenapa juga..kan dia yang ninggalin aku "
" Bodoh amat lah " pergolakan batin yang hebat, dan mulai egois
" Biarin aja lah "
Kemudian ia menghempaskan tubuhnya dikasur empuk miliknya, matanya sengaja dipejamkan untuk meredam rasa kesal yang sejak tadi menguasai hati dan fikirannya.
Mencoba untuk terus bertahan dengan egonya walau merasa gelisah dan sangat ingin tahu.
******************
Plash Back On
__ADS_1
Irvan melirik jam tangan yang melingkar ditangan kanannya, " kenapa Lia lama banget ya? apa mungkin ketiduran diruang Osis ? " gumam Irvan yang mulai bosan menunggu.
Suasana kantin sudah sepi, cuma Irvan yang masih terlihat disana dan beberapa orang petugas kantin yang sibut bersih bersih.
" Achhh ada apa lagi sih ini, kok nomornya ngak aktif gini? " ucap Irvan yang terlihat kesal.
Setelah menyelesaikan bill tagihan pesanannya tadi, ia pun meninggalkan kantin sambil berlari kecil menyusuri koridor menuju ruang Osis.
Namun sesampainya disana, ruangan itu nampak sepi tak ada siapa siapa di sana. " Sial.." cuma itu kata yang keluar dari mulutnya
Plash Back Off
****************
" Okey, satu jam lagi kita ketemu dicafe biasa " Tambahnya lagi sebelum memutuskan sambungan telepon.
Dengan malas Irvan bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah kamar mandi, dan beberapa saat kemudian terdengar guyuran air.
Tak berselang tiga puluh menit, Irvan sudah rapi dengan gaya santainya setelan kaos warna abu abu berkera dipadu dengan celana jeans selutut, tak lupa jaket yang juga senada semakin memancarkan aura ketampanannya.
" Mau kemana nak? " tanya mama Irvan, saat anaknya berjalan menuruni tangga dan berpakaian rapi.
" Mau ketemu emilia, mah " jawab Irvan, sambil berjalan menuju mamanya
__ADS_1
" Papa belum pulang ? " Irvan bertanya karena tidak melihat papanya diruangan itu
" Papa lagi ketemu klien penting, pulangnya agak malam " jawab mama Irvan sambil mengulurkan tangan ke arah anaknya yang minta salim, " Jangan larut malam pulangnya ya " kata mama Irvan lagi
" Iya mama ku sayang " ucap Irvan
setelah berpamitan pada mamanya ia pun keluar dan berangkat mengendarai motor kesayangannya.
*******************
Disisi lain, Lianti yang begitu sedih masih terus memikirkan apa yang akan dilakukannya setelah ini. kata kata Irvan yang itu seakan terekam benaknya.
" Dia ngak beneran sayang, dia cuma pura pura, dia selalu bohong, dia cuma manfaatin aku.."
" Lupakan dia Lia, lupakan..lepaskan dirimu dari rasa sakit ini, jangan berharap lagi "
ucapnya pada diri sendiri dan berulang ulang disela sela isak tangisnya.
Hingga malam hari Lianti mengurung diri di kamar, ia tak mau kalau orang tuanya melihat dirinya saat ini. Penampilannya begitu tak karuan seakan mewakili suasana hatinya saat ini, mata yang sembab, rambut yang sejak tadi tergerai kini terlihat kusut.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Author tetap semangat💪