SERPIHAN HATI LIANTI

SERPIHAN HATI LIANTI
MEMBAWA KABUR


__ADS_3

Siang hari yang begitu panas seolah ingin membakar seantero jagat dan isinya, namun tak menyurutkan tekat seorang irvan untuk menunggu lianti di depan gerbang sekolah, bukan tanpa alasan semua ini di sebabkan karena sudah hampir seminggu usahanya untuk bertemu lianti samasekali tak membuahkan hasil. wanita itu terus menghindar dan tak mau bertemu.


" Achh..kenapa panas sekali hari ini ya? " gumam irvan sesekali mengusap peluh yang bercucuran membasahi wajah tampannya. berusaha bertahan dengan segenap harapan kalau hari ini ia harus bicara dengan lianti dan mengngakhiri salah faham di antara mereka.


Irvan tak perduli lagi walau kulitnya yang putih mulai memerah karena terbakar terik matahari.


Satu jam berlalu SMA 75 sudah mulai sepi, rombongan siswa siswi yang keluar dari gerbang tak lagi tampak disana namun tak menyurutkan tekat seorang irvan yang masih saja tetap berdiri tak jauh dari gerbang. mata elangnya tak lepas menatap gerbang mengawasi tiap sosok yang melangkah meninggalkan sekolahnya, sesekali di usapnya wajahnya yang sudah basah oleh peluh.


" Drettt..dreeet..dreett.." phonselnya berdering


" Iya Ar.." ucap irvan setelah menggeser tombol hijau pada layar phonselnya


" Kamu masih nunggu lianti di depan ? " tanya arya


" Masihlah, aku ngak mau terus terusan kayak gini..lia ngak boleh ngindar dari aku kali ini "


" Keren mas bro hehehe.."


" Rapat Osis sudah selesai, siap siap ya mas bro.. tuh target baru akan keluar ruangan " arya memberi informasi tuk menyemangati irvan


" Thank you ar.., doain ya moga lianti luluh hatinya dengar penjelasanku " irvan seakan minta dukungan pada arya


" Pasti masbro.., aku akan membantu sebisaku.." jawab arya sebelum mengakhiri panggilam telponnya


*******************


Irvan berjalan ke arah pos satpam yang berada di bagian dalam samping gerbang, ia dengan sengaja bersembunyi di sana agar lianti tak menghindar saat melihatnya dari jauh.


Tak berselang beberapa saat lianti pun sudah terlihat berjalan seorang diri dari dalam sekolah ke arah gerbang, " Kita harus ngomong, jangan menghindari aku lagi " ucap irvan yang tiba tiba sudah berdiri di depan lianti. " Ikut aku, tolong..." tambahnya sambil menarik tangan lianti yang sudah di genggamnya.


" Ada apa lagi sih ? "


" Aku lagi buru buru nih.."


Lianti terlihat kesal dan berusaha melepas tangannya dari genggaman irvan, namun tetap ikut melangkah

__ADS_1


" Ngak..ngak akan aku lepas, kamu ikut aku sekarang "


" Udah cukup beberapa hari ini kamu bersikap kayak gini ke aku "


Irvan makin mempererat genggamannya dan terus berjalan keluar gerbang menuju mobilnya yang terparkir di seberang jalan


" Mau di bawa kemana aku ? " tanya lianti dengan nada sedikit tinggi


" Masuk li..." ucap irvan saat pintu mobil sudah di bukanya, seolah tak peduli dengan kekesalan lianti


" Aku ngak mau.." lianti menatap irvan tajam


" Erika lianti, pleace.." penekanan ucapan dan isyarat mata irvan seakan tak mau di bantah lagi


" Hmm dasar gila, main paksa aja.." gerutu lianti, lalu ia pun masuk mobil


Irvan tersenyum melihat lianti yang sudah duduk manis dan tidak lagi memberontak, pintu mobil pun di tutupnya lalu berlari memutar ke arah pintu mobil di sisi sebelah.


" Seat belt nya di pasang, sayang.." irvan tersenyum dan meraih tali sabuk pengaman disisi kiri lianti saat sudah duduk di kursi pengemudi


Lianti hanya diam dan membiarkan irvan dengan semua yang di lakukannya, mimik kesal yang tadi menghiasi wajah cantiknya sudah tak nampak lagi. rasa sayang dan kerinduannya pada irvan ternyata jauh lebih kuat dari rasa benci dan marahnya


Mobil pun perlahan melaju membawa dua sejoli yang tenggelam dalam fikiran masing masing


*************


Hampir dua jam perjalan mobil yang di kemudikan irvan memasuki halaman sebuah vila


" Selamat datang tuan muda.." seorang lelaki setengah baya berlari menghampiri irvan begitu turun dari mobil


Irvan langsung menempelkan jari di bibirnya sambil melirik ke dalam mobil dimana lianti tertidur dengan pulasnya


" Pak arbi, tolong siapkan segala sesuatunya buat kami " ucap irvan agak berbisik


" Baik tuan muda.." jawab pak arbi pelan, lalu berjalan masuk ke dalam villa

__ADS_1


Irvan melepas seat belt yang di gunakan lianti dan perlahan dengan sangat hati hati di angkatnya tubuh wanita yang di cintainya itu keluar mobil. " Kamu benar benar lelah sayang..tidur dan beristirahatlah " ucapnya begitu lianti sudah di baringkan diatas kasur empuk di salah satu kamar di villa itu. satu kecupan mendarat di kening lianti sebelum irvan berlajan keluar kamar dan menuju kamar sebelah untuk membersihkan badannya yang sudah terasa lengket dan juga beristirahat sejenak menunggu lianti bangun.


Irvan tiba tiba terbangun saat terdengar suara ribut ribut dari luar dan kamarnya di ketuk dengan keras, " Iya iya, tunggu sebentar " mencoba mengumpulkan kesadarannya dan melirik jam di pergelangan tamgannya yang menunjukkan pukul lima sore. " Hmm aku tertidur cukup lama rupanya "


ia pun bangkit dan berjalan ke arah pintu dan membukanya


" Aku ingin pulang, sekarang.." ucap lianti yang sudah berdiri di depan pintu dengan wajah tak ramah


" Kita ngak mungkin turun sekarang, kabut mulai turun..sangat beresiko.." irvan mencoba menjelaskan


" Maksud kamu apa, bawa aku kesini? " lianti benar benar kesal


" Loh sudah ku bilang, kita harus ngomong..disini kamu ngak mungkin ngindarin aku kan? " irvan mencoba tak terpancing emosi juga


" Tapi ngak harus nginap juga kali..ini sama aja kamu membawa aku kabur " ucap lianti dengan sedikit teriak


" Ow gitu ya? bagus dong. jadi setelah ini kita langsung dinikahkan, bukan? " jawab irvan tersenyum penuh kemenangan


" Idih dasar gila, belum juga lulus sekolah mikirnya udah kejauhan gitu.." omel lianti


" Asal bareng kamu erika liantiku sayang, aku sih nikah muda juga ngak apa apa..hahaha " irvan tertawa lepas


" Ih apaan, noh sama luna..kan udah tunangan juga " ucap lianti


Sejenak irvan terdiam mendengar kata kata yang terucap dari bibir mungil lianti, " Hmm aku ngak ada hubungan apa apa sama luna, kamu salahfaham soal itu " menarik nafas dan menghempaskan dengan kasar " Malam itu aku hadir di pesta ulang tahunnya semata mata ungkapan rasa terimakasih karena luna banyak membantuku di kelas..kamu tau sendiri gimana aku sejak kamu pindah kelas kan? "


" Ya elah, kan kamu ngak ada bantahan saat luna dan orang tuanya ngomong gitu di depan semua orang..malah sepertinya kamu sangat menikmati pesta malam itu " cibir lianti


" Ngak..ngak kayak gitu, kamu boleh tanya arya kalau ngak percaya..aku ninggalin pesta itu karena merasa risih dengan ucapan omong kosong mereka..bahkan aku bolak balik nyariin kamu " arya terus mencoba menyakinkan lianti


" Tapi luna dan orang tuanya..." ucapan terlianti menggantung dengan nada penekanan irvan


" Stop lia, pleace..ini soal kita berdua..jangan bahas mereka lagi..ngak penting "


Lianti terdiam, matanya mulai perih karena menahan genangan bening yang mulai tumpah perlahan membasahi kedua pipinya, " Sudahlah, aku balik ke kamar pengen mandi.."

__ADS_1


" Baiklah, kamu bersih bersih dulu lalu kita makan malam..oiya baju buat kamu sudah aku siapin di kamar..eh satu lagi, jangan lupa telpon dan kabari mami "


Lianti tidak menjawab, ia cuma mengangguk dan berjalan menuju kamar


__ADS_2