
Lianti terbaring lemas diatas kasur king size dengan tubuh hanya ditutupi selimut, mata sembabnya sedari tadi menatap langit langit kamar yang menjadi saksi pembuktian cintanya pada laki laki yang saat ini tertidur pulas disampingnya.
" Auwww, achhh "
Lianti meringis saat bangkit, sekucur tubuhnya terasa remuk dan bagian kewanitaannya teramat nyeri.
Dengan perlahan dipungutinya satu persatu pakaian miliknya yang berserakan dilantai, lalu ia pun berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya walau dengan langkah tertatih tatih.
Berselang tiga puluh menit, Lianti keluar dari kamar mandi dengan pakaian sudah kembali melekat ditubuhnya. Berjalan ke arah nakas meraih phonselnya dan bermaksud segera meninggalkan kamar mewah itu, namun seketika langkahnya terhenti saat matanya menatap tubuh polos laki laki yang telah menggaulinya dengan brutal dalam keadaan mabuk karena pengaruh minuman keras, ia berdiri mematung disamping tempat tidur menatap Irvan dengan mata nanar.
" Kenapa ini terjadi lagi? aku memang bodoh karena terlalu mencintaimu.." guman Lianti sambil mengusap air bening yang tanpa komando sudah kembali membasahi pipi mulusnya.
" Achhhh sudahlah, toh semua sudah terjadi.." diusapnya kedua pipi dan matanya, kemudian memalingkan wajah kearah lain mencoba menenangkan diri sebelum melangkah ke arah pintu kamar dan pergi begitu saja.
****************
Sesampainya dirumah Lianti buru buru masuk kamar, ia tak ingin dicecar pertanyaan oleh maminya saat melihat kondisinya yang tak karuan saat ini, karena itu bisa memicu kecurigaan dan kekhawatiran wanita yang melahirkannya itu.
Di dalam kamar didepan cermin yang cukup besar ditatapnya pantulan dirinya yang berantakan dengan sikapnya yang begitu gelisah memikirkan apa yang sudah terjadi.
Tiba tiba, " Kamu wanita kotor, menjijikkan.." ucapnya dengan amarah menunjuk gambaran dirinya didalam cermin
__ADS_1
" Aachh aku benci dengan semua ini.." dikoyaknya baju dan segala yang dipakainya hingga robek dan beberapa kancingnya terpental entah kemana
Kemudian ia berlari ke kamar mandi lalu menyalakan shower dan duduk dibawah guyuran air, " Aku benci tubuh ini, aku benci..." teriaknya sambil memukul mukul tubuhnya sendiri.
Air matanya yang terus mengalir seakan menyatu dengan dengan derasnya air yang jatuh dari shower.
Hampir dua jam lamanya lianti tak bergeming dibawah guyuran air, hingga ia mulai tak tahan saat tubuhnya menggigil kedinginan. diraihnya handuk dari dalam laci yang ada diruangan itu, kemudian ia bangkit mematikan keran shower lalu keluar menuju tempat tidur setelah melilit tubuhnya dengan handuk, direbahkannya tubuh lelahnya serta berusaha mencari kehangatan pada selimut lembut yang ada diatas kasur agar ia bisa tertidur dan sejenak melupakan beban fikiran yang sudah benar benar membuatnya tidak bisa tenang dan membuat dadanya terasa sesak.
***************
Sementara di tempat lain irvan yang baru terbangun dan masih berusaha mengumpulkan kesadarannya tiba tiba tersentak tatkala tangannya meraba kesisi kanan dan menyadari kalau sosok wanita yang tidur bersamanya sudah tak ada lagi disana, dengan cepat ia bangkit menuju kamar mandi untuk membersihkan diri
Berselang beberapa saat Irvan pun keluar kamar dan sudah terlihat rapi, " Bro, aku jalan dulu ya.." teriaknya yang ditujukan pada Adit, kawannya yang tinggal dirumah itu namun entah ada diruangan mana saat ini.
Mobil mewah yang dikemudikan oleh Irvan melaju dengan kecepatan tinggi menyusuri jalan ibu kota
" Tuttttt..tutttt..tutttt..." nada sambung terdengar dari phonsel saat Irvan mencoba menghubungi Lianti
" Siaalll.." phonsel pun dibuang ke jok samping dengan kasar, Irvan merasa kesal karena beberapa panggilan telponnya tak mendapat respon dari Lianti.
Laju mobil mulai melambat dan akhirnya terparkir didepan rumah Lianti, Irvan memutuskan untuk turun setelah berulang kali menghubungi Lianti namun hasilnya tetap sama.
__ADS_1
" Permisi mbak, Lianya ada? " tanya Irvan pada pelayan yang kebetulan membuka pagar
" Oh den Irvan, tunggu ya den..ini taktaro situ dulu.." ucap pelayan itu dengan aksen kedaerahannya sambil meletakkan kantong kresek dibak sampah. dan dibalas dengan senyuman oleh Irvan
Kemudian, " Mari den silahkan masuk.." Irvan berjalan dibelakang pelayan itu memasuki pintu utama. " Silahkan duduk dulu den, sebentar takpanggilin non Lia dikamarnya "
ucapnya sopan meninggalkan Irvan diruang tamu menuju lantai dua
" Tokkk..tokk..tokk..non..non Lia.."
pintu kamar terus diketuk, namun tak ada respon dari yang empunya kamar.
Pelayan itu pun kembali menemui Irvan, " Maaf den, sepertinya non Lia lagi istirahat dan tak mau diganggu.."
" Hmm terimakasih ya mbak, tolong sampaikan aja kalau aku datang "
" Permisi.."
irvan pun pamit dan pergi dari rumah lianti
--------------------------------
__ADS_1
BERSAMBUNG....