SERPIHAN HATI LIANTI

SERPIHAN HATI LIANTI
NIKAH MUDA


__ADS_3

Dengan langkah sedikit lambat dan sangat hati hati Lianti berjalan menyusuri koridor sekolah, wajahnya yang terlihat pucat membuat beberapa orang menyapanya,


" Kamu kenapa? "


" Butuh bantuan ? "


" Kamu sakit ya? "


" Kamu pucat sekali "


" Baiknya pulang aja kalau sakit "


Lianti berusaha kuat dan tersenyum pada tiap orang yang menyapanya


" Ngak apa apa, terimakasih "


Beberapa dari mereka segera melanjutkan langkahnya, dan juga yang sengaja berbarengan dengan lianti, sampai terpisah di koridor kelas masing masing


" Lia.." ucap Arya terkejut saat melihat Lianti celingak celinguk di depan pintu kelasnya, dengan segera ia menghampiri


" Irvan belum datang, nanti ku sampaikan kalau kamu mencarinya " ucap Arya dengan sok taunya


Tiba tiba tubuh Lianti terhuyung dan hampir jatuh, namun dengan sigap di tahan oleh Arya yang berdiri di depannya,


" Ayo aku antar ke UKS, kamu masih belum sehat kan? kenapa sudah masuk sih? "


" Terimakasih Ar.., aku ngak apa apa, cuma sedikit pusing aja " ucap Lianti melepaskan tangan Arya di pundaknya


" Ngak apa apa gimana? orang kamu pucat gitu loh " Arya dengan nada ngototnya


" Aku balik ke kelas ya Ar.., tolong bilang ke Irvan, entai temui aku " Lianti pun berbalik dan melangkah


Arya terus memandang Lianti dengan cemas hingga wanita itu menghilang dibelokan kororidor sekolah, ia tau benar sikap sok kuat temannya itu yang selalu berusaha terlihat tegar walau sebenarnya sangat terlihat rapuh


Sejenak terdiam didepan kelas, Arya pun bergegas masuk kembali, sebuah tangan menepuk pundaknya, " Pagi bro..."


Arya berbalik melihat sosok pemilik suara bariton yang menepuk bahunya, " Eh yang dicari sudah datang, rupanya "


Laki laki yang tak lain adalah Irvan itu pun mengernyitkan dahi tanda tak mengerti dengan ucapan temannya itu


" Maksudnya mas bro? "


" Dicari Lianti noh, orangnya baru aja pergi.." ucap Arya tanpa basa basi

__ADS_1


" Seriusan ? " Irvan seakan tak percaya


" Ya elah, seriusanlah. mana mungkin boongan "


" Lia sepertinya masih sakit, pucet banget "


" Buruan sono samperin, mumpung belum bell masuk "


Arya terus merocos seperti emak emak


Irvan pun berlari ke kelas Lianti untuk menemui wanita itu, " Lia.." ia melambaikan tangan di jendela sambil memanggil Lianti dengan suara agak tertahan


Lianti langsung keluar kelas saat melihat Irvan, " Van, kita bolos aja yuk? " spontan ucapan itu keluar dari mulutnya


" Ngak salah dengar kan aku? " Irvan seakan tak percaya


" Ayo.." mendapat anggukan dari Lianti, tanpa fikir panjang lagi Irvan langsung menggenggam tangan kekasihnya itu. mereka pun bergandengan tangan menuju parkiran


Dan tak berselang lama mobil mewah yang di kemudikan Irvan melaju dengan cepat meninggalkan sekolah, " Kita mau kemana? " tanya Irvan tanpa menoleh dan tetap focus menyetir


" Kemana aja, ada yang mau aku omongin sama kamu.." jawab Lianti sambil menatap Irvan dengan raut wajah seakan berfikir, " Mmm..gimana kalau kita ke villa yang waktu itu? kan disana kita bisa ngobrol dengan bebas tanpa takut ada yang nguping " tambah Lianti


Lagi lagi Irvan dibuat terkejut, sekilas ia menoleh dengan tatapan tak percaya. " Hari ini Lia kok beda ya? " gumam Irvan dalam hati namun karena tidak ingin merusak suasa hati Lianti, Irvan pu tak mau bertanya lagi, " Okey..baiklah kita ke villa sekarang.." mobil pun akhirnya melaju ke arah puncak


Separuh perjalanan Lianti sudah tertidur, Irvan yang menyadari itu lalu menepi dan berhenti didepan sebuah mini market. Di tatapnya wajah pucat kekasihnya itu lalu turun untuk membeli beberapa perlengkapan dan obat obatan yang sekiranya nanti dibutuhkan melihat kondidi Lianti yang kurang sehat.


Kurang lebih satu jam, mobil dua sejoli itu pun sudah terparkir dihalaman villa megah keluarga Admaja.


" Lia..Lia..kita sudah sampai " Irvan mrmbsngunkanLianti dengan mengelus elus pucuk kepala wanita itu


Lianti perlahan membuka matanya dan senyum manisnya seketika mengembang saat melihat laki laki tampan yang ia cintai juga tersenyum padanya, " Maaf aku ketiduran " ucapnya


" Ngak apa apa sayang, ayo kita turun.." Irvan pun membantu Lianti melepas seat betl sebelum ia keluar dari mobil lalu berlari mengitari mobil untuk membukakan pintu buat Lianti


" Aku mau kesana " tunjuk Lianti ke arah samping villa yang penuh dengan hamparan kebun bunga yang terlihat indah


Mereka pun duduk berdampingan digazebo yang terdapat dikebun bunga itu, " Van, gimana pendapat kamu soal nikah muda? " tanya Lianti membuka obrolan


Irvan mengercitkan dahinya seakan berfikir, " Kenapa obrolannya kesana? kamu ngak kenapa napa kan Li? " Irvan meraih tangan Lianti dan mengecupnya perlahan


" Ngak apa apa kok, aku cuma pengen tau pendapat kamu doang soal itu " senyum manis itu kembali menghiasi wajah cantik Lianti


" Hmm gimana ya, kalau menurut aku sih nikah itu butuh kesiapan. Bukan cuma dari segi materi tapi juga dari kesiapan mental " Irvan terdiam sejenak, " Intinya sih aku ngak siap untuk nikah muda.."

__ADS_1


Mendengar ucapan itu Lianti seketika bungkam, apa yang ingin dibicarakan seolah tersendat ditenggorokan. Karena sejatinya ia sudah tahu jawaban Irvan atas apa yang ingin disampaikannya


Lianti mengelus perut ratanya, " Maaf ya nak, ibu ngak berdaya " gumam Lianti


" Kamu lapar? kalau gitu, ayo kita masuk ke villa " Irvan salah penafsiran melihat Lianti mengelus perutnya


Mereka pun masuk ke dalam villa, Irvan sebelumnya sudah memerintahkan pelayan untuk menyiapkan makan siang,


perut Lianti tiba tiba mual mencium aroma ikan yang di hidangkan diatas meja. Sambil menutup mulut dengan kedua telapak tangannya ia pun berlari ke kamar mandi yang tak jauh dari ruang makan itu lalu, " Hweee..hwweeee " Lianti pun terduduk lemas setelah muntah


" Kamu ngak apa apa kan? " tanya Irvan yang ikut menyusul Lianti


" Ngak apa apa kok, mungkin masuk angin aja " dalih Lianti agar Irvan tidak curiga


" Aku ngak suka bau ikan itu, tolong singirin aja dari meja " tunjuk Lianti saat dituntun Irvan kembali ke ruang makan


Dengan segera Irvan meminta pelayan untuk membawah ikan itu kembali ke dapur dan akhirnya mereka pun makan dengan hikmat, hanya suara denting sendok dan garpu yang beradu diatas piring


Sehabis makan, Irvan bermaksud mengajak Lianti jalan jalan menyusuri hamparan perkebunan, namun ditolak dengan alasan ingin istirahat.


Menjelang sore baru Lianti keluar kamar dan menghampiri Irvan yang sibuk dengan phonselnya, " Pulang yuk.." ucapnya


Irvan mendongak lalu meraih tangan Lianti, membimbingnya untuk duduk disebelahnya, " Kok pulang sih? kan katanya mau ngomong? "


" Ngak jadi, aku mau kita pulang aja " ucap Lianti sambil menunduk


" Kenapa sayang? ngomong aja, disini cuma ada kita berdua. Besok pagi baru kita pulang " Irvan mencoba membujuk Lianti


" Iya deh, aku balik ke kamar aja. kalau pulangnya baru besok " Lianti bergegas meninggalkan Irvan


" Lia.., aku kangen " tiba tiba Irvan memeluk Lianti dari belakang


Sekucur tubuh Lianti meremang tatkala hembusan nafas Irvan terasa hangat menerpa kulit leher Lianti


" Apaan sih Van? jangan gini gini deh, entar bisa kebabblasan lagi loh "


Irvan yang mulai berhasrat seakan tidak ingin dihentikan, ia pun beraksi menggerayani tubuh dan memciumi tengkuk Lianti penuh gairah, " Sayang, aku pengen " ucapnya dengan nafas memburu


" Van udahan, entar kalau hamil gimana? ngak mau nikah muda kan? " Lianti mencoba menghentikan Irvan, yang seakan mulai dikuasai nafsu


Namun Irvan benar benar tak bisa lagi membendung hasratnya, ia butuh pelepasan, " Ngak sayang, aku bakal buang diluar. aku udah tahu biar ngak hamil " Irvan sudah benar benar tak bisa membendung hasratnya


Seketika Lianti melotot mendengar ucapan Irvan, ia tersadar dengan kondisi tubuhnya yang sudah berbadan dua saat ini. Berbalik dan dengan sekuat tenaga didorongnya tubuh Irvan hingga diantara mereka ada jarak. " Lianti pun berlari ke kamar dan menguncinya dari dalam "

__ADS_1


---------------------------------------


BERSAMBUNG


__ADS_2