
Mentari mulai menampakkan diri di sebelah timur menggantikan pagi yang dingin, dan menghirup udara pagi ikut menyejukkan hati seorang irvan.
Setelah beberapa hari beristirahat di rumah, hari ini dengan bersemangat dan senyum penuh kebahagian irvan melangkah menyusuri koridor sekolah menuju kelasnya. kerinduannya pada lianti sudah sangat menggunung.
kedatangan lianti kemarin ke rumahnya seakan sedikit mencairkan ketegangan di antara mereka
" Ar..ar..kemaren lianti ngak kenapa napa kan? aku agak khawatir, sepertinya hari ini dia ngak masuk " ucap irvan dengan suara pelan nyaris berbisik pada arya
" Hmmm entar abis jam pelajaran pertama ini baru kita omongin lianti " jawab arya yang juga seperti berbisik.
Dan beberapa saat mereka berdua pun sudah focus pada pelajaran.
" Bro, kantin yukkk.." ucap irvan yang sudah berdiri di samping bangku dan menepuk bahu arya
" Duduk dulu van, ada yang mau aku omongin " arya menggeser duduknya agar irvan bisa duduk
__ADS_1
" Sebenarnya hari ini lianti masuk kok, tapi sudah ngak di sini lagi " ucap arya agak pelan
" Ini maksudnya gimana sih? kok aku bingung ya " irvan mengernyitkan dahinya
" Sejak kalian ribut hari itu dan lianti keluar ninggalin kelas ini, mulai saat itu dia ngak masuk lagi " terdiam sejenak
" Hmm lianti pindah kelas dan sekarang ada di kelas IPA 4 " lanjut arya
" Apa? kok kamu baru ngomong sekarang? kan kemaren kamu dan lianti ke rumah? " irvan terlihat kesal
" Maaf van, aku bukannya ngak mau ngomong soal itu ke kamu. tapi kemaren itu aku fikir fikir lebih baik kamu tau sendiri dan bertanya langsung penyebab pindahnya pada lianti " arya mencoba menenangkan irvan
Irvan berjalan tergesah gesah menyusuri koridor sekolah menuju ruang kelas IPA 4, ia tak menjawab bahkan tidak menghiraukan sapaan beberapa orang yang berpapasan dengannya.
Sesampainya di depan ruang kelas IPA 4, irvan langsung mengintip ke dalam kelas itu lewat jendela. di cari carinya sosok lianti diantara siswi siswi di kelas itu, dan akhirnya matanya tertuju pada wanita cantik yang duduk nyender dan bermain phonsel.
Tanpa buang buang waktu lagi irvan langsung menuju pintu dan masuk ke kelas itu lalu berjalan ke arah lianti, " Aku mau ngomong, ayo ikut aku sebentar " irvan langsung menarik tangan lianti untuk ikut keluar kelas
__ADS_1
" Ngak usah tarik tarik napa? malu tau di liatin orang orang " ucap lianti pelan karena salah tingkah namun tetap melangkah mengikuti irvan dan membiarkan tangannya tetap di genggaman irvan
" Malu kenapa? kita kan ngak ngapa ngapain? lagian biarin aja mereka pada tau soal hubungan kita..intinya bodoh amatlah dengan apa yang mereka firikin " ucap irvan cuek dan terus melangkah
" Memangnya mau ngomong apaan sih? ini juga, mau di tarik sampe kemana aku ini? " gerutu lianti yang mulai kesal
" Ruang osis, kita ngomong di sana " irvan menjawab asal
" Hah? kenapa harus ke ruang osis? " mata lianti membulat karena terkejut
" Tuh mata ngak usah pake melotot gitu juga kali " irvan mulai bercanda
" Kamu kan pengurus osis, ngak apa apa dong sekali kali pake ruang itu buat rapat sama pacar dan bahas soal hubungan asmara " irvan tersenyum
" Apaan sih? kita ngomong di kantin aja. entar di kirain ngapa ngain kalau berdua duaan di sana " lianti bergidik ngeri
" Baiklah tuan putriku sayang, kita ke kantin aja " irvan terlihat bahagia dan lianti hanya tersipu
__ADS_1
---------------------