SERPIHAN HATI LIANTI

SERPIHAN HATI LIANTI
TUAN ADMAJA


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang saat pintu ruangan meeting di kantor Admaja grup terbuka lebar. Nampak tuan Admaja berjalan keluar beriringan dengan rekan bisnisnya sesama pengusaha sembari berbincang bincang, " Terimahkasih atas kepercayaan tuan pada perusahaan kami " ucap laki laki paruh baya yang tak kalah berwibawa nya dari tuan Admaja.


" Iya terimakasih kembali, soal kontrak tertulisnya silahkan lanjut dengan asisten saya. Permisi.. " jawab tuan Admaja dan dibalas senyum dan anggukan oleh rekan bisnis tuan Admaja.


" Mari, ikut saya tuan " ucap Bram, mempersilahkan, kemudian ia dan perwakilan perusahan rekanan itu menuju ruang kerjanya.


Sementara tuan Admaja bergegas berjalan menuju ruangannya, mengingat putranya sedang menunggunya di sana.


Sesampainya di depan pintu, " Hmm.." tuan Admaja berhenti sejenak, menarik nafas dan di hempasnya perlahan sebelum membuka pintu.


" Ceklek.." bunyi hendel pintu.


Tuan Admaja melangkah masuk, ruangan yang tampak sepi membuatnya agak kecewa. Pandangannya mengitari tiap sudut di ruangan itu mencari putranya yang di fikirannya sedang menunggu dirinya, sesaat matanya tertuju pada pintu kamar pribadinya disudut ruangan itu, ia pun bergegas berjalan ke arah pintu itu. Saat berjalan melewati belakang sofa, " Dasar anak nakal.." ucapnya sembari menggeleng gelengkan kepala dan tersenyum begitu pandangannya tanpa sengaja melihat sosok yang dicarinya sejak tadi sedang tertidur lelap di sofa.


Kemudian tuan Admaja menuju meja kerjanya dan meraih gagang telpon, " Yuni, tolong pesan makan siang.. Saya mau makan diruangan dengan putra saya " tuan Admaja menelpon sekertarisnya.


Setelah meletakkan gagang telepon kembali, tuan Admaja pun menghempaskan bokongnya dikursi kebesarannya. Sejenak ia memandang putranya kemudian bersender memejamkan mata sebelum membuka laptop dan mulai memeriksa email yang dikirim Bram asisten pribadinya.

__ADS_1


Berselang 30 menit, " Tokk tokk tokk " pintu diketuk dari luar.


" Masuk.." jawab tuan Admaja sedikit pelan, seketika ia mengangkat wajah memandang putranya sejenak untuk memastikan kalau tidur putranya tak terusik dengan suara ketukan pintu itu.


Setelah pintu terbuka 3 orang wanita masuk dengan membawa nampan di tangan, " Permisi tuan " ucap salah seorang wanita yang bernama yuni.


" Husss, jangan kencang kencang ngomongnya putraku lagi tidur. Letakkan dimeja itu saja " tuan Admaja meletakkan jari telunjuknya dibibir sebelum berucap.


Yuni sekertaris tuan Admaja seketika terkesima melihat sisi lain bos nya yang sangat berbeda dari sikap yang sering dilihatnya di kantor, " Tuan Admaja yang begitu berwibawa dan ditakuti, ternyata sosok ayah yang begitu lemah lembut " gumamnya dalam hati.


" Kalau sudah selesai, kalian boleh kembali bekerja " ucap tuan Admaja yang membuat sekertarisnya itu tersentak dan tersadar dari lamunannya, " Oiya Yun, tolong kensel jadwal pertemuan saya sore ini dengan perwakilan dari perusahaan prima perkasa. Minta mereka menunggu kita menjadwal ulang " tambah tuan Admaja lagi.


" Hmmm kamu sudah berapa tahun ikut saya Yun? kenapa baru hari ini saya mendengar pertanyaan bodoh macam itu dari kamu? " tuan Admaja menjawab santai, namun sangat tajam terdengar ditelinga seorang karyawan seperti Yuni.


" Mamaaf tuan, baiklah saya akan kabari perkilan perusahaan prima perkasa secepatnya..permisi.." Yuni benar benar gugup dan secepatnya undur diri dari ruangan bosnya itu.


Setelah 3 orang itu keluar dan pintu kembali ditutup, tuan Admaja pun bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan menuju sofa, " Irvan..Irvan..van, ayoo bangun " ucapnya sembari mengacak acak rambut putranya.

__ADS_1


Irvan seketika membuka mata namun kesadarannya belum terkumpul, ia menatap heran wajah papanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Kemudian memejamkan mata lagi.


" Hey bangun kamu nak, kita makan siang dulu. papa sudah lapar banget ini " ucap tuan Admaja kembali mengusik putranya.


Irvan pun mulai tersadar dan mengingat kalau saat ini ia tidur diruangan papanya, " Papa sudah disini? meetingnya udah selesai pah? " tanyanya asal.


" Ini papa sudah disini, sekarang bangun dan cuci muka dulu sana. Setelah itu temani papa makan " ucap tuan Admaja lembut.


Irvan pun bangkit menuju kamar mandi yang berada di ruangan itu, tak berselang lama sudah kembali lagi dan duduk di sisi papanya yang sibuk dengan phonselnya.


" Pah, aku minta maaf..." ucapan Irvan yang langsung dipotong oleh tuan Admaja, " Sudah sudah, baiknya kita makan dulu. Papa sudah lapar banget nih " ucap tuan Admaja dan diangguki oleh Irvan.


Dan mereka pun makan dengan lahapnya tak ada percakapan, hanya terdengar suara sendok yang beradu dengan garpu di atas piring.


---------------------------


BERSAMBUNG

__ADS_1


**Lagi lagi author minta maaf kalau belum bisa up tiap hari🙏


Terimakasih buat semua pembaca atas doa nya buat kesembuhan author dan tetap setia menunggu kelanjutan kisah SERPIHAN HATI LIANTI🙏🥰🤩**


__ADS_2