SERPIHAN HATI LIANTI

SERPIHAN HATI LIANTI
EKSEKUSI PENJEBAKAN


__ADS_3

" Aku tinggal bentar ke toilet ya " irva yang sudah selesai dengan ritual makannya, bergegas keluar ruangan setelah pamit pada emilia. namun bukan toilet yang ia tuju melainkan naik ke lantai paling atas dari resto tersebut menggunakan lift khusus menuju ruangan presdir.


" Bagaimana bro, keren ngak aktingku tadi? cukup meyakinkan, bukan? " ucap irvan begitu duduk di depan dua orang yang sejak tadi terus menatap layar monitor yang terhubung dengan Cctv di seluruh resto termasuk ruang vip yang di pakai buat eksekusi penjebakan.


" Lumayan mas bro, sudah bisa ikut kesting loh itu..hahaha " jawab salah satu laki laki itu tangan kanannya menepuk bahu irvan. di ikuti gelak tawa irvan dan satu orang lainnya di ruangan itu.


Setelah mereka bertiga duduk, baru lah mereka kembali serius membahas langkah berikutnya.


Berselang lima belas menit mendiskusikan kembali rencana dan strategi yang sudah mereka susun, akhirnya irvan memutuskan untuk turun kembali keruangan di mana emilia menunggunya.


Dua rekannya yang tak lain dan tak bukan adalah adli dan dimas pun kembali ke meja kerja dan memantau keadaan di ruangan vip yang di tuju irvan.


" Maaf bikin kamu nunggu lagi, habisnya ada sedikit masalah di perut aku ini " ucap irvan sembari memegangi perutnya saat masuk menemui emilia.

__ADS_1


" Ngak apa apa kok, aku juga baru aja selesai makan. makanannya enak enak dan pelayanannya juga top " emilia mengacungkan jempol dua, " Nanti aku bakal promosiin dan ajak teman teman aku makan di resto ini, boleh kan? " tersenyum penuh makna.


" Ow boleh banget, apa sih yang ngak boleh buat calon nona muda keluarga admaja? lagian ini resto milik mama, kalau ngak wariskan pada menantunya mau pada siapa lagi coba? kan aku anak tunggal dan nantinya harus meneruskan perusahaan papa yang punya cabang dimana mana, jadi ngak mungkin banget kalau bisnis resto ini pun aku handle juga " irvan kembali membuat emilia terbuai dan terbang dengan khayalan tingkat tinggi.


" Dasar wanita licik, tersenyumlah dulu sepuasmu. sebentar lagi kamu akan malu dan menangis karena kebohonganmu akan kami ungkap " gumam irvan dalam hati.


" Oiya, kamu ngak buru buru kan? mumpung kamu di sini, sekalian nanti aku kenalkan pada sepupuku. kebetulan tadi mereka nelpon katanya mau kemari, ada sedikit kerjaan yang mau kami bahas bersama..ngak apa apa kan? " irvan meraih tangan emilia dan berusaha bersikap romantis.


" Aku sangat bahagia kalau bisa berkenalan dengan keluarga besar admaja " wajah emilia bersemu bak kepiting rebus.


Sementara di ruang presdir, dimas dan adli sudah bersiap siap untuk turun. mereka tersenyum menatap layar monitor dan meraih beberapa kertas file serta laptop buat pelengkap skenaryo mereka.


" Kamu masuk duluan, sekitar sepuluh menit baru aku nyusul masuk " ucap dimas pada adli, " Iya, kita liat aja apa si ular itu masih kenal sama aku atau gimana " timpal adli. lalu mereka berdua berjalan masuk ke dalam lift.

__ADS_1


" Tinggg.." lift pun terbuka.


Mereka berdua keluar dan berjalan menyusuri koridor lantai dua dimana terletak ruangan ruangan mewah dari restoran jepang ini.


Setelah beberapa meter dari ruang Vip yang mana di dalamnya ada irvan dan emilia, adli dan dimas berhenti sejenak dan berbincang. lalu dimas melangkah berbelok arah menuju lobi dan adli melangkah mendekati pintu salah satu ruangan, " Tok tok tok.." adli mengetok pintu. " Selamat sore " ucapnya saat pintu sudah dibukanya sambil menyunggingkan senyum termanisnya.


" Sore dli, mari silahkan duduk " irvan menoleh sekilas. " Eh dli, kenalin nih emilia..atau mungkin kalian sudah saling kenal kali ya? kan kita kita sama dari SMP Xxx " kata irvan membuka obrolan buat mereka bertiga.


" Hay emilia, aku adli. dulu aku kelas IPS dan ngak sepopuler irvan, jadi mungkin kamu ngak kenal..hehehe " adli mencoba menceritakan siapa dirinya pada emilia.


Emilia yang mencoba mengingat ngingat masa masa SMPnya mencoba mengingat adli namun ia masih terlihat bingung karena belum ketemu sosok adli boca di ingatan SMPnya. " Hay adli, maaf ya aku kayaknya lupa lupa ingat soal kamu " ucapnya seketika menutupi rasa bingungnya.


" Dasar ular, ingatnya jangan saat SMP lah. ya kali kita pernah ketemu beberapa kali saat kamu mencoba dekati dimas " gumam adli dalam hati

__ADS_1


__ADS_2