SERPIHAN HATI LIANTI

SERPIHAN HATI LIANTI
SOPIR GANTENG


__ADS_3

Mobil mewah yang di kemudikan faiz terus melaju ke arah luar kota hingga memasuki kawasan puncak. suasana pegunungan yang sejuk dan hamparan perkebunan yang tertata indah sangat menyegarkan mata, sungguh suatu pemandangan yang tak bisa di jumpai di ibu kota.


" Wah, indah banget.." lianti takjub melihat pemandangan yang begitu indah, seketika di turunkannya kaca mobil dan dengan gerakan spontan di condongkannya tubuh dan wajahnya ke jendela mobil memunggungi faiz yang sejak tadi mengemudi. keceriaan begitu jelas terlihat di wajah wanita cantik itu, " Mas faiz, yang diatas itu perkebunan teh ya mas ? apa kita boleh ke atas sana? " ucap lianti tanpa menoleh.


" Kamu senang? aku akan membawamu ke tempat yang lebih indah di atas sana.."senyum tersungging di bibir faiz melihat antusias lianti, laju mobilnya pun di perlambat agar lianti bisa lebih menikmati hamparan keindahan yang ada di sepanjang perjalanan.


" Yang bener mas? aku baru kali pertama loh ke sini.." mata yang berbinar itu menatap faiz seolah ingin menunjukkan perasaan senang yang begitu menggebu.


" Oiya mas, memangnya kita kesini mau ngapain sih? kan kalau cuma pengen ngobrol, di rumah juga bisa mas? " tanyak lianti yang tiba tiba tersadar kalau mereka sudah cukup jauh keluar kota.


Seketika faiz menoleh dan tersenyum pada lianti sejenak lalu kembali memandang lurus kedepan lagi, " Sebenernya aku ada urusan kerja di sini, sekalian aku ingin ngajak kamu menikmati suana segar pegunungan..kamu ngak keberatan kan? " lagi lagi faiz melirik sekilas menunggu reaksi dan ekspresi lianti.


" Mas faiz udah ijin ke om dan tante dan mereka ngijinin, aku mana bisa protes sih..lagian lumayan lah sekalian ada sopir gratis buat jalan jalan selagi liburan ini..kan aku ngak lama di jakarta, sebentar lagi juga balik ke makassar " celoteh lianti panjang lebar dengan keluguan dan kepolosannya

__ADS_1


" Hahahahaha...sopir ganteng loh ya.." faiz tertawa lepas menyaksikan ekspresi lianti yang begitu serius, ia yang sudah tertarik pada lianti saat pertama kali mereka bertemu jadi gemes dan makin suka di buatnya.


" Eh gomong ngomong kalau aku ke makassar, boleh ngak ketemuan sama kamu? "


" Boleh boleh aja dong mas, tapi memangnya mas faiz ngapain mau ke makassar ? ada ngunjungin keluarga? atau urusan kerjaan? " tanyak lianti ingin tau.


" Kringgggg..kringgggg.." phonsel lianti tiba tiba berbunyi membuat ke duanya terdiam.." iya hallo.." ucap lianti beberapa saat setelah menggeser gambar warna hijau di layar phonselnya.


" hallo...ini dengan lianti kan? arya nih lia.." suara penelpon itu bertanya


" Kok nomor kamu yang kemaren ngak aktif aktif mulu sih lia? " arya


" Oh itu phonselku hilang ar..dan nomornya belum sempat ku urus tuh.." lianti

__ADS_1


" Oiya ini aku lagi di tempat irvan..katanya dia pengen ngomong sama kamu.." arya


" Hallo..hallo..ar..arya..udah dulu ya soalnya suara kamu ngak jelas timbul tenggelam gitu, kayaknya sinyal disini kurang baik..maaf ya ar..." lianti mengakhiri obrolan dengan arya begitu mendengarnya menyebut nama irvan, lianti pun langsung berpura pura..alih alih tidak mendengar padahal ia memang tak mau berbicara dengan irvan untuk saat saat ini.


Faiz yang sejak tadi mendengar dengan hikmat ucapan ucapan yang keluar dari mulut lianti saat menjawab telepon barusan, ia seakan penasaran dengan nama nama yang lianti sebut sebut itu.


" Siapa arya ? siapa irvan " faiz membatin.


" Ada apa lianti? siapa yang nelpon? " cuma itu yang bisa faiz ucapkan


Lianti menjawab dengan tidak bersemangat, " Bukan siapa siapa mas, ngak usah di bahas lagi " mimik ceria yang sejak tadi menghiasi wajah cantik wanita itu, seketika sirna dan terlihat murung. moodnya benar benar berantakan, kesedihan yang dengan susah payah di singkirkan dari hati dan fikirannya kini kembali terasa lagi.


----------------------

__ADS_1


 


__ADS_2