
Jam di ruang keluarga sudah berdentang delapan kali, itu pertanda makan malam di rumah ini segera di mulai.
lianti buru buru keluar kamar dan sedikit berlari menuju ruang makan, " Kak dimas mana mi? " tanya lianti, yang duduk di samping mamanya
" Dimas tadi ijin ke mami, katanya mau ketemuan sama teman..sekalian diner "
ucap bu wina sambil makan
" Teman yang mana bilangnya mi? " tanya lianti lagi, mencoba menyembunyikan kecemasannya
" Yah mana mami tau, dimas juga ngak bilang " bu wina menjawab asal
Lianti yang merasa khawatir soal dimas menjadi hilang selera makan, " lia tinggal sebentar ya mi, mau ambil handphone di kamar "
" Makan dulu lia.." ucap bu wina
" Sebentar mi, ngak lama kok " lianti pun beranjak ke kamar
Dengan cepat diraihnya phonsel yang tergeletak di meja lalu mencoba menghubungi dimas, " Drettt drettt dretttt..drettt " tak ada jawaban
Plash Back On
" Lia, baiknya kamu pulang..irvan biar aku yang urus " arya menemui lianti setelah membawa irvan ke pos satpam untuk di tenangkan
" Baiklah, kalau gitu aku pulang duluan.."
" Thanks ya ar.."
" Ayo kak dimas "
Lianti pun mengajak dimas pulang setelah berpamitan
Sepanjang perjalanan suasana di dalam mobil begitu hening, lianti yang merasa bersalah kebingungan mencoba memulai obrolan, " Kak dimas, maaf banget..lia ngak nyangka bakal kayak gini " ucap lianti penuh penyesalan
" Ngak apa apa kok, kakak baik baik aja nih " dimas tersenyum walau terkesan di paksakan
" Eh beneran yang tadi itu pacar kamu? "
" Posesif dan barbar banget ya? "
" Tapi keren sih, dan keliatannya bukan orang biasa deh.."
" Bikin penasaran juga tuh orang..."
dimas mencoba mengungkapkan apa yang ia fikirkan
__ADS_1
Mendengar itu lianti merasa ada hal aneh dalam ucapan dimas, " Kak dimas ngak dendam dan ngak akan memperpanjang masalah ini kan? " tanyanya hati hati
" Hmmm entah lah, kakak juga belum tau.." dimas terlihat kesal
" Dretttt drettt drettttt " phonsel dimas berbunyi
" Ya hallo, gimana? sudah dapat informasinya? "
" Kayaknya dia anak salah satu pejabat di kota ini "
" Baiklah sampai ketemu "
potongan percakapan telpon dimas dengan orang di balik phonsel itu membuat jantung lianti berdekup kencang
" Apa kak dimas dendam dan akan berbuat sesuatu pada irvan? " gumam lianti dalam hati
Sesampainya mereka di rumah, lianti tak henti hentinya memperhatikan dimas yang sibut dengan phonselnya. sepertinya lagi chat serius dengan seseorang
" Kak, lia langsung ke kamar ya..entar habis mandi, lia bantu olesin salep ke luka lebam kakak "
Dimas hanya membalas dengan anggukan dan senyum sekilas
Plash Back On
Angin malam berhembus sangat dingin, sepertinya sebentar lagi akan hujan. bintang dan bulan pun bersembunyi di balik awan nan pekat
Setelah bersih bersih diri di kamar mandi, lianti meraih phonselnya di atas meja dan jarinya mulai berselancar di atas benda pipih itu. matanya tertuju pada notif aplikasi chat di sudut atas banyak pesan masuk, lalu di bukanya aplikasi itu, pesan chat dari irvan mendominasi tapi tak satu pun balasan chat dari dimas, bahkan pesan yang ia kirim masih terlihat belum di baca. kemudian di letakkannya kembali phonsel itu ke meja dan berjalan malas ke tempat tidur, menghempaskan diri di atas kasur empuk itu.
" Dretttt..dretttt..dretttt "
bunyi dering phonsel yang begitu nyaring memekakkan telinga di kesunyian kamar, lianti dengan mata yang masih terpejam menjulurkan tangan dari dalam selimut lembutnya ke arah nakas meraih phonsel
" Ya hallo.." ucapnya dengan suara serak khas baru bangun
" Lia, mau kamu apa sih? kenapa menghindar ngak jawab telpon dan pesan aku? "
suara laki laki di sebrang telpon terdengar dengan nada marah
Mata lianti seketika terbuka dan langsung terbelalak mendengar suara yang begitu di kenalnya, " Maaf aku lagi ngak mood, sudah ya van..aku mau tidur "
" Woi tunggu.." teriak laki laki yang tak lain adalah irvan
" Ada apa lagi sih van? ini masih dini hari loh, besok kita sekolah " lianti mencoba menahan diri agar tak terpancing emosi juga
" Kenapa kamu malah belain cowo sialan itu? malah pake pergi bareng lagi "
amarah irvan yang meledak sejak kemarin seakan tak terkontrol sampai saat ini
__ADS_1
" Kan aku udah bilang, dia itu kakak sspupuku yang saat ini tinggal di rumahku karena kuliah di kota ini.."
" Wajarlah kalau aku bareng "
" Faham ? "
ucap lianti kesal dan sedikit menaikkan nada suaranya
" Woi kamu kok ngak ngerti ngerti juga, udah di bilangin jangan dekat dekat dengan cowok lain "
" Aku ngak suka, sialannnn.."
irvan benar benar murka, ia terik teriak seperti orang gila di balik telpon
Lianti mulai kesal namun mencoba tuk tenang dan memilih mengakhiri obrolan telpon
" Eh kalau kamu telpon cuma buat bentak bentak gini, mending udah "
" Aku tutup ya.."
" Woi kampret, jangan di tutup.."
" Tutttt.."
suara irvan pun menghilang saat lianti dengan menggeser satu tanda di phonselnya, yang berarti percakapan telepon berakhir
Karena tak mau terganggu lianti pun menon aktifkan phonselnya sebelum kembali di letakkan di atas nakas, ia yakin irvan akan terus menelpon lagi. setelah itu bergegas bangkit ke kamar mandi
Tak berselang lama lianti pun keluar dari kamar mandi dan sudah nampak segar, tiba tiba ia teringat pada dimas yang belum ada kabar. dengan langkah sedikit tergesah gesah lianti keluar kamar berjalan menuju kamar tamu yang di tempati sepupunya itu.
" Tokk..tokk..kak dimas.."
Tak berselang beberapa pintu kamar itu pun terbuka dan dimas muncul dari balik pintu, " Ada apa lia? kakak ngantuk nih " ucap dimas dengan mata yang sudah lìma watt
" Aku mau ngomong sama kak dimas.."
" Oiya, lukanya belum di kasi obat kan kak? sini biar lia bantuin "
lianti masih merasa ngak enak, melihat lebam dan luka di bibir dimas
" Aduh li.., besok aja ya..kakak ngantuk..beneran..sumpah.."
" Kamu balik ke kamar gih "
dimas yang baru saja pulang dan akan tidur benar benar merasa terganggu, tanpa menunggu jawaban lianti lagi dimas langsung menutup pintu kamarnya
Lianti pun terdiam di depan pintu kamar dimas, " Hmmm sudah lah kalau gitu.." gumamnya, lalu berjalan dan kembali ke kamarnya
__ADS_1
Hampir satu jam lianti mencoba untuk tidur kembali namun segala apa yang ada di fikirannya terus menggangu, soal dampak perkelahian tadi siang, khawatirannya pada dendam dimas dan kekesalannya pada irvan membuat lianti tidak bisa tenang