
Suasana masih tanpak lenggang di pagi yang sejuk. jam menunjukkan pukul 6:30 gerbang SMA 75 pun masih terlihat tertutup rapat. di seberang jalan di depan sekolah, nampak seorang remaja laki laki berseragam putih abu abu sedang duduk manis di atas motornya dan bermain phonsel.
" Hmm apa aku yang datangnya terlalu pagi ya? kenapa terasa begitu lama ?" gumam irvan sambil melirik jam di pergelangan tangan kanannya.
Kemudian mengalihkan pandangannya ke benda pipih berwarna putih yang di genggamnya, dinyalakannya benda itu dan setelah menampilkan deretan angka, irvan pun terlihat menghubungi seseorang dari sana, " Drekkk drekkk drekkk " terdengar nada sambung berulang ulang.
" Ada apa mas bro? aku lagi sarapan nih, sebentar lagi mau berangkat kesekolah " ucap arya dari seberang
" Buruan bro, aku sudah dari tadi di depan sekolah..tapi gerbangnya belum di buka buka juga" eluh irvan
" Iya, ini dikit lagi kok..."
" Kenapa jam segeni kamu sudah di sono?
" Oiya, sudah sembuh ya mas bro? "
Oceh arya sambil buru buru menghabiskan sarapan
" Iya ar, hari ini aku sudah lumayan sehat dan sudah di bolehkan masuk sekolah " timpal irvan
" Okey mas bro, tunggu ya aku segera berangkat.." ucap arya sebelum mengakhiri percakapan telepon secara sepihak
" Sial.., di matiin.." umpat irvan, kemudian ia pun memasukkan phonselnya ke dalam tas
Gerbang sekolah sudah dibuka beberapa saat yang lalu, siswa siswi pun sudah terlihat mulai berdatangan. pelataran parkir yang tadinya kosong, mulai di penuhi kendaraan.
" Woi mas bro, masuk yuk! " celutuk arya begitu tiba dan berdiri di samping irvan
" Astaga, ngagetin aja kamu ar.." ucap irvan kaget, sembari memegang dadanya
" Ya elah gitu aja bisa kaget, makanya jangan benggong masih pagi juga..pamali tau mas bro " arya mulai bercanda
" Idih gimana ngak kaget kalau kamu tiba tiba nongol gitu? " ucap irvan
__ADS_1
" Oiya, motor kamu dimana ar? kok ngak ada sih? " tambahnya lagi
" Noh ono noh.." arya menunjuk salah satu motor yang terparkir rapi di halaman sekolah
" Makanya jangan benggong mas bro, aku yang segede ini sampai tak terlihat saat lewat tadi..hehehe " ucap arya lalu tertawa
" Udah ah, becandaanmu garing tau "
" Mending kamu tolong aku parkirin motor " irvan terlihat malas bercanda
" Lah memangnya kamu ngak mau masuk? kan sejak tadi gelisah nungguin gerbang di buka? " arya seakan tak mengerti
" Aku pengen nungguin lia " ucap irvan singkat
" Kan bisa nunggunya di dalam aja bro? lianti pasti ke dalam juga " celoteh arya
" Kamu masuk duluan aja bro, bawa nih motor " irvan sedikit memaksa
" Hmm baiklah kalau itu mau kamu mas bro" ucap arya mengalah, "..dasar bucin " tambahnya dengan nada suara pelan nyaris tak terdengar
Belum saja arya beranjak, sebuah mobil berhenti di depan mereka. pintu mobil terbuka dan seorang siswi cantik turun sambil tersenyum ke arahnya dan irvan, " Hay, lagi nungguin aku ya? iya kan? " ucapnya riang
Irvan yang langsung tanggap dengan kedipan mata arya pun spontan berekting kesakitan dan menyentak nyentakkan kaki kirinya " Iya nih sakit banget, maaf lun..aku mau ke UKS dulu.."
" Tunggu van..." ucap luna sedikit teriak, yang seketika menghentikan langkah irvan
" Ada apa lun.." irvan menoleh dan tetap dengan ekspresi kesakinnya
" Biar aku temani kamu ke UKS ya van.." ucap luna dan mensejejeri langkah irvan, lalu bergelayut manja di lengan irvan
" Maaf lun, ngak enak di lihat orang..baiknya kamu langsung masuk kelas aja, aku sudah minta tolong arya kok " tolak irvan sambil menepis tangan luna dari lengannya, lalu kembali berjalan meninggalkan luna
" Van..irvan.." panggil luna dengan nada kesal, ia pun berlari mengejar irvan
" Apaan sih lun.., tolong jaga sikap..ini sekolahan loh.." nada tegas irvan begitu saja terucap karena kesal
__ADS_1
Betapa kagetnya irvan saat menoleh dan matanya bertemu dengan tatapan tajam seorang wanita yang terlihat berusaha menahan amarah. entah sejak kapan wanita itu berdiri di depan gerbang sekolah yang tak jauh dari tempat irvan dan luna berdiri, " Astaga, kenapa jadi kayak gini sih? " gumam irvan sambil mengusap wajahnya kasar
" Li..lia tunggu, aku mau ngomong " teriak irvan begitu melihat lianti berbalik dan melangkah dengan cepat
" Irvan.., kamu kan mau ke UKS " ucap luna dengan singap memegang lengan irvan saat laki laki itu hendak mengejar lianti
" Luna, tolong jangan ikut campur " nada suara irvan sudah terdengar penuh penekanan dan dengan sedikit kasar di hempaskannya tangan luna yang menahannya
" Van..aku..aku..sayang kamu.." teriak luna, tak terima dengan sikap irvan
" Maaf lun..." ucap irvan dan langsung berlari meninggalkan luna
Arya terpaku dan tak berkata kata hanya bisa diam di tempat, menyaksikan drama asmara yang terjadi di depannya
" Woi..ngapain masih disini..buruan sana pergi "
" Oiya kamu kan berteman dengan cewek itu? kasi tau ya sama dia, jauhi irvan tunanganku " ucap luna meluapkan amarah pada arya sebelum berlalu
Arya seketika tersentak mendengar bentakan luna, " Lah kok marahnya ke aku sih? ih dasar cewek ngak ada akhlak.." celoteh arya. ia pun buru buru mendorong motor irvan masuk gerbang menuju parkiran
" Li..tunggu.." teriak irvan terus mengejar lianti yang sudah di depan kelasnya dan akan masuk
" Apa yang mau kamu omongin hah? kita ngak ada urusan lagi kawan.." ucap lianti dengan kesalnya
Mata irvan seketika terbelalakkan, menatap tajam begitu berhadapan dan mendengar apa yang lianti katakan lianti. emosinya meledak tak bisa lagi di kontrol. dengan nafas yang masih tersegal segal karena berlari ia pun berteriak pada lianti " Apa? kamu bilang apa tadi? kamu bilang aku kawan? sadar ngak woi? " kemarahan irvan benar benar sudah di ubun ubun
" Iya, kita tak ada urusan lagi kawan..silahkan kamu balik ke tunangan kamu itu " ucap lianti yang juga menatap irvan dengan mata penuh amarah
Tiba tiba irvan terdiam sejenak tatkala melihat amarah yang begitu besar dimata lianti, ia mencoba meredam emosinya sesaat
" Kenapa diam? anda fikir aku bodoh? ngak punya perasaan? ini hati tuan loh tuan muda.." lianti benar benar mengeluarkan uneg unegnya selama ini
" Sudahlah, nanti saja kita bicara..kamu terlalu emosi saat ini " ucap irvan, lalu berbalik dan berjalan meninggalkan lianti
__ADS_1
Lianti yang masih emosi hanya memandangi kepergian irvan yang berjalan ke arah parkiran dan berselang beberapa saat irvan pun terlihat meninggalkan sekolah dengan motor gedenya, tanpa sepengetahuan pihak sekolah.