
Didepan SMA 75 tak jauh dari gerbang sekolah itu sebuah mobil mewah berwarna hitam terlihat menepi. Tak lama kemudian pintu belakang terbuka, sosok lelaki tampan dan terlihat dewasa turun dari mobil itu. Memakai setelan jas berwarna hitam dengan kemeja putih didalamnya, Kaca mata hitam bertengger dihidung mancungnya makin mempertegas pancaran kharisma pada diri laki laki itu.
Dari dalam sekolah Lianti dan Arya berjalan berdampingan ke arah gerbang, seketika Lianti tersenyum manis dan melambaikan tangan saat matanya menangkap sosok laki laki tampan berjas hitam yang sudah berdiri menunggunya, " Mas Faiz, sudah lama? " ucapnya saat sudah mendekat.
" Baru beberapa menit, udah pulang ya? " laki laki yang disebut Faiz bertanya.
" Iya mas, aku ijin pulang " jawab Lianti seadanya. Yang dibalas anggukan oleh Faiz tanda ia faham.
" Oiya mas, kenalin ini teman aku Arya namanya " ucap Lianti lagi pada Faiz. Lalu ia menoleh pada Arya, " Ar, kenalin ini mas Faiz " tambahnya.
" Aku Arya mas.." ucap Arya sambil mengulurkan tangan.
" Iya, salam kenal aku Faiz " Faiz pun seketika melepas kaca mata hitamnya dan menyambut uluran tangan Arya sambil tersenyum, Mereka pun bersalaman beberapa saat.
" Apa kita bisa jalan sekarang ? " tanya Faiz sambil memakai kembali kaca mata hitamnya.
" Iya ayo mas "
" Aku duluan ya Ar, thank you banget soal yang tadi " Lianti tersenyum pada Arya dan bergegas berjalan.
" Loh Arya ngak ikutan bareng kita? " tanya Faiz bingung, ia memandang Lianti dan Arya bergantian.
" Ngak mas, aku masih ada pelajaran setelah ini " ucap Arya cepat menjawab kebingungan yang tersirat diwajah Faiz.
" Oogitu, ya udah kami jalan dulu " Faiz menepuk bahu Arya.
" Titip teman aku ya mas, hati hati dia itu kadang galak. Maklum singa betina hehehe " canda Arya.
" Sip..tenang aja Ar, udah ketemu sama pawangnya loh ini hahaha " dibalas candaan pula oleh Faiz.
" Ih apaan sih kalian, baru kenal juga sudah kompakan ngeledek aku "
" Udah ahhh, mas faiz ayo buruan. panas nih "
" Ar, kamu juga..sudah sana buruan masuk "
Omel Lianti sambil melotot lalu berjalan ke arah mobil mewah Faiz.
__ADS_1
Faiz dan Arya pun seketika tersenyum melihat ekspresi marah Lianti yang menggemaskan itu.
" Okey Ar, sampai jumpa ya. senang berkenalan dengan kamu " ucap Faiz sambil mengacungkan dua jempol pada Arya, kemudian berjalan menyusul Lianti.
Arya pun bergegas masuk dan kembali ke ruang kelasnya.
Sementara dari arah parkiran sepasang mata yang sudah sejak tadi menatap dengan penuh amarah tanpa mereka sadari, " Brengsek, dasar wanita sialan. Jadi seperti ini rupamu dibelakangku, ternyata betul yang Luna katakan " umpat Irvan sambil mengepalkan tangan.
***
F**lash Back On**
Setelah mendengar dari Rara kalau saat ini Lianti hamil, Luna pun bergerak cepat menghubungi orang orang papinya.
" Hallo, cari informasi lengkap soal kondisi cewek yang foto nya aku kirim ke kalian ini. Aku mau paling lambat besok pagi semua infonya kalian kirimkan " ucap Luna saat menghubungi seseorang.
5 jam berlalu, " Dretttt drekkk drekk " suara phonsel menggema, Luna yang sedang tidur seketika terbangun.
Diraihnya phonsel yang sejak tadi tergeletak diatas nakas, " Emmm " jawab Luna malas saat tahu siapa yang menghubunginya.
" Data lengkap dan info terkini soal wanita itu sudah kami kirim ke WA nona " ucap orang dari seberang telepon. Luna pun mengakhiri sambungan telepon dan buru buru, mencari chat orang tadi.
" Klinik Dr. REGA, spesialis kandungan. Wow ini baru informasi akurat, mati kau kali ini cewek sialan " ucap Luna setelah membaca dan memahami isi chat dari orang suruhannya.
*
Pagi pagi sekali luna berangkat kesekolah, ia pun rela menunggu Irvan diparkiran karena sudah tidak sabar untuk menunjukkan bukti perselingkuhan Lianti.
Beberapa saat kemudian mobil mewah memasuki pelataran parkir, Luna pun berlari menghampiri saat Irvan turun dari pintu pengemudi, " Van, aku mau ngobrol sebentar. ada yang ingin ku tunjukkan ke kamu " ucapnya sedikit ngos ngosan.
" Ada apa Lun? kita masuk dulu dan ngomong dikelas aja " Irvan menanggapi dengan santai sambil berjalan tanpa peduli pada Luna dibelakangnya.
" Ini soal kehamilan Lianti, Van " Luna tak ingin basa basi lagi melihat sikap cuek Irvan.
Seketika Irvan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Luna, " Kamu bilang apa? kehamilan Lianti? tau dari mana kamu soal itu? " Irvan dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.
" Makanya ikut aku kalau mau tau, aku punya info dan bukti akurat " ucap Luna blak blakan.
__ADS_1
" Info dan bukti apa? coba tunjukkan ? " ucap Irvan tak sabaran.
" Ngak Van, kita jangan ngomong disini. mending cari tempat lain.
" Hmm baiklah, ayo ikut aku " Irvan pun kembali berjalan ke mobilnya dan mengajak serta Luna.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam mobil, mobil pun melajukan dengan cepat keluar gerbang dan menyusuri jalan raya.
Berselang 25 menit, mobil itu pun berhenti didepan rumah yang terbilang cukup mewah di kawasan perumahan elit. " Ayo turun, kita ngobrol didalam " Irvan bergegas turun, diikuti Luna yang mengekor dibelakangnya.
Irvan langsung membuka pintu rumah itu dengan kunci yang ia keluarkan dari dalam tasnya, " Ayo masuk.." ucapnya saat pintu sudah terbuka.
" Ini rumah siapa, Van? " tanya Luna sambil mengamati setiap sudut rumah yang berinterior modern itu.
" Ngak penting ini rumah siapa, sekarang mana info dan bukti yang tadi kamu bolang itu? " ucap Irvan dengan ekspresi dingin.
" Ih ngak sabaran banget sih? " gerutu Luna sambil mengeluarkan phonsel dari dalam tasnya dan langsung membuka chat yang kemarin ia dari orang suruhannya.
" Kali ini aku serius Lun, tolong jangan main main " Irvan mulai kesal.
" Iya iya siapa juga yang main main, nih liat sendiri " Luna menyodorkan phonselnya ke arah Irvan dengan kesal.
Irvan menerima phonsel itu dengan jantung berdetak kencang, dan seketika wajahnya menegang menahan amarah membaca isi chat dan meluhat foto foto yang ada disana, " Siapa orang yang mengirim ini ke kamu ? " tanya Irvan dengan nada penuh penekanan.
" Saudara sepupuku kebetulan kerja disana dan entah bagaimana ia mendapat info kalau Lianti itu juga bersekolah di tempat yang sama dengan aku, makanya dia hubungi aku nanyain dan dikirimlah foto itu " ucap Luna berbohong, " Kamu itu sudah dibodoh bodohi sama Lianti, dia tuh selingkuh di belakang kamu sampai hamil dan aborsi gitu " Luna mulai menghasut.
" Hmm baiklah, kalau begitu kirim foto foto dan chat itu ke phonselku " ucap Irvan sambil meletakkan phonsel Luna di meja didepan mereka, kemudian bersandar pada sofa, memejamkan mata dan memijit keningnya.
" Kamu kenapa Van? " tanya Luna pura pura tak tau.
" Aaku ngak apa apa kok, kalau kamu mau pulang silahkan aja. Maaf aku ngak bisa ngantar kamu " Irvan spontan membuka mata dan kembali membenarkan posisi duduknya.
" Aku ngak pengen pulang, boleh akh temani kamu disini? " Luna mencoba bermanis manis, tak mau melewatkan kesempatan untuk bisa mendekati Irvan.
Flash Back Off
__ADS_1
BERSAMBUNG**