
Malam yang tak begitu indah buat irvan, bukan karena langit tak berhias bintang atau bulan yang tertutup kabut malam. namun hatinya yang sudah kacau dan tidak bisa tenang karena kesalah fahaman lianti padanya, dan saat ini sudah hampir dua jam irvan menunggu di teras rumah lianti tapi yang di tunggu tak kunjung menemuinya. bahkan menjawab telpon dan membalas chat pun tidak, keputusasaan mulai menghimpit hati dan fikiran irvan.
" Permisi pak, aku pamit pulang aja..mungkin lianya udah tidur " ucap irvan saat menghampiri pak mamat yang lagi mencuci mobil di depan rumah itu
" Ooiya den, hati hati di jalan " jawab pak mamat dengan mengangguk hormat
Irvan pun berjalan gontai menuju mobilnya yang ia parkir di luar gerbang rumah lianti, wajah tampannya tertutupi oleh rasa sedih dan kegalauan hatinya.
Setelah masuk mobil dan duduk di depan kemudi, irvan menoleh lagi menatap ke arah rumah lianti dan berharap wanita itu tiba tiba keluar menemuinya. entah berapa lama irvan berdiam diri seperti itu, tenggelam dalam hayalan dan harapannya soal lianti.
" ### Drekk..drekkk.." nada panggil dari phonselnya yang tiba tiba membuat irvan tersentak, seketika ia menjawab telpon.
" Iya ma, ada apa? aku lagi di rumah teman nih ma.." ucap irvan sedikit pelan
" Baik ma, irvan pulang sekarang " setelah mengakhiri percakapan telpon, irvan pun menyalakan mesin mobil dan bergegas meninggalkan rumah lianti untuk kembali pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Pukul satu dini hari dikediaman keluarga Admaja, rumah mewah bak istana negara itu tampak lengang. di jam jam seperti ini seluruh penghuni sudah berada di peraduannya masing masing, sebagian lampu pencahayaan sudah di padamkan dan hanya di bagian tertentu yang sengaja di biarkan tetap menyala.
Mobil sport berwarna gelap yang di kemudikan irvan baru saja memasuki halaman rumah dan langsung menuju garasi. setelah mematikan mesin mobil, irvan segera turun dan masuk ke dalam rumah melalui pintu samping yang menghubungkan garasi dan ruang keluarga. irvan melangkah perlahan lahan ke arah tangga dan menuju lantai dua dimana kamarnya berada dengan di bantu penerangan dari layar dan lampu senter phonselnya.
Sesampainya di kamar, irvan langsung menuju kamar mandi untuk cuci muka dan berganti pakaian. setelah beberapa saat di kamar mandi, irvan keluar sudah menggunakan pakaian rumahan yaitu celana pendek dan kaos tanpa lengan. ia pun berbaring di atas tempat tidur king size miliknya, di raihnya phonsel yang tadi ia letakkan di atas nakas di samping tempat tidurnya. mengecek pesan berharap ada balasan dari lianti. namun sampai irvan mengantuk pesan yang di tunggu tunggu tak muncul sama sekali. akhirnya ia memutuskan untuk menonaktifkan phonselnya dan segera tidur walau sebenarnya matanya tak mau terpejam karena terus memikirkan masalah antara dirinya dan lianti.
--------------------------
Pagi pagi sekali mobil irvan sudah terparkir di seberang jalan depan rumah lianti, ia sengaja menunggu lianti dan berharap wanita pujaannya itu mau berangkat bersama ke sekolah.
" Li..lia..lianti..tunggu.." teriak irvan sambil berlari menghampiri lianti yang segera masuk mobil dan di antar pak mamat ke sekolah
" Jalan pak.." perintah lianti pada pak mamat
" Tunggu pak.." ucap irvan langsung membuka pintu, ia masuk pun masuk dan duduk di sebelah lianti
__ADS_1
" Ngapain kamu di sini? turun sekarang " ucap lianti dengan nada ketus pada irvan
" Li..aku mau ngomong, kasi aku kesempatan tuk jelasin semuanya " irvan memohon
" Cukup van, aku sudah benar benar lelah..baiknya kamu turun " lianti menatap ke depan dan menunjukkan sikap dingin yang seolah tak mau melihat irvan sedikit pun
" Li..aku mohon, kamu boleh maki maki aku bahkan tampar aku kalau itu bisa buat amarahmu hilang..tapi tolong jangan menghindar dan pergi dari aku..aku ngak bisa kalau seperti ini lia..benar benar ngak bisa " ucap irvan dengan wajah memelas
" Turun.." lianti mulai terdengar marah
" Tapi li.." irvan masih memohon
" Aku bilang turun ya turun, kamu ngak budek kan? " teriak lianti, kali ini ia sudah benar benar marah
" Baik, baik..aku turun li..sebelumnya aku minta maaf " irvan pun turun
__ADS_1
Mobil itu pun keluar dari halaman rumah dan melaju ke arah jalan raya, irvan diam terpaku di tempatnya menatap ke pergian lianti meninggalkan dirinya.