SERPIHAN HATI LIANTI

SERPIHAN HATI LIANTI
ARYA, LIANTI DAN IRVAN


__ADS_3

" Kringgg..kringgg..kringgg " suara bel berbunyi nyaring tanda usainya pelajaran jam terakhir.


Lianti memasukkan buku buku dan alat tulisnya ke dalam tas dan bersiap siap untuk pulang, " Drikkk..drikkk.." phonselnya berbunyi, " Iya..ar, ada apa ? " ucapnya sambil bangkit dan berjalan keluar kelas. " Okey aku ke sana " ucapnya lagi lalu mengakhiri obrolan telpon. kemudian berjalan ke arah parkiran.


" Ada apa? " tanya lianti pada arya


" Lia, kok pindah kelas sih? ampe segitu marahnya ya kamu ke irvan? "


" Ngak lah, cuma pengen cari suasana baru..hehehe " lianti menanggapi dengan candaan


" Kalian berdua tuh memang aneh ya, saling cinta tapi pada suka egois "


" Eh tapi bukan itu yang mau aku omongin, aku mau ngajak kamu nengokin irvan. tuh anak ngak masuk karena mabok kemaren " arya nyerocos


" Mmm gimana ya..ar? aku males aja ketemu dia " lianti nampak berfikir


" Tadi irvan nelpon, katanya mamanya mau berterima kasih soal kemaren itu "


" Kamu aja deh yang ke sana " lianti

__ADS_1


" Lah kan kemaren itu kita berdua yang anterin irvan pulang, iya kan? ngak bisa dong kalau cuma aku yang ke sana "


" Lagian irvan sepertinya kurang sehat loh, kan biar sekalian kita jengukin gitu " arya mencoba membujuk lianti


" Hmmm baiklah, tapi aku ke sana karena ikut kamu loh ya " lianti kurang bersemangat


" Iya iya, terserah apa kata kamu aja deh, yang penting sekarang kamu mau ke sana " ucap arya memberikan helm pada lianti, lalu ia menghidupkan mesin motornya setelah lianti duduk di belakangnya


" Okey ya? kita berangkat sekarang " arya pun melajukan motornya setelah di iya kan oleh lianti


_____________


" Terima kasih ya mbak.." ucap arya kemudian berjalan masuk ke arah tangga menuju lantai dua


" lia, kamu duduk dan tunggu disini. aku mau samperin si tuan muda itu dulu " ucap arya dengan nada khas bercandanya


Lianti pun duduk di salah satu ruangan mewah di rumah keluarga admaja, mencoba santai dengan menikmati interior, perabotan dan segala pernak pernik yang di tata dengan sangat indah.


Mata lianti tertuju pada foto foto irvan dan orang tuanya yang terpajang rapi di dinding di area tangga yang menghubungkan lantai dua dan tiga. " Ternyata benar, irvan juga anak tunggal sama seperti aku.." ucap lianti pada dirinya.

__ADS_1


" Selamat siang li.." suara yang terdengar sedikit serak menyapa dari arah belakang, lianti pun menoleh seorang laki laki yang di sebut tuan muda itu berjalan agak pincang ke arahnya dengan di ikuti arya di belakangnya


" Iya selamat siang juga " ucap lianti yang tiba tiba gugup namun mencoba bersikap biasa


Suasana menjadi hening sesaat setelah mereka duduk, lianti yang terus menunduk dan irvan yang terus menatap lianti tanpa berkedip, " Kok ini pada diam diaman gini ? " suara arya memecah keheningan itu


" Eh maaf, mau minum apa? " irvan yang tersentak menjadi salah tingkah


" Woi lia, di tanya tuh? liatin apaan sih di bawah situ..nunduk mulu " arya mencoba mencairkan kecanggungan dua temannya yang ia tau saling cinta tapi menjunjung tinggi ego masing masing ini


" Aaku minum apa aja, iya..aku ikut kalian aja " lianti benar benar gugup


Irvan pun langsung meraih gagang telpon yang terletak di dinding tidak jauh dari tempatnya duduk, setelah terlihat memencet angka satu dan berbicara. gagang telepon itu pun kembali di letakkannya


" Oiya gimana tadi di kelas? ada tugas ngak? " irvan mencoba berbasa basi. namun ia belum tau kalau mulai hari ini lianti tidak lagi di kelas yang sama dengan dirinya


" Ah lagak kamu kayak yang rajin setor tugas aja..pake nanyain tugas segala " ucap arya cepat, menurutnya irvan baiknya jangan tau dulu soal kepindahan lianti


Walau sangat sangat terasa canggung, obrolan antara lianti dan irvan tetap mengalir dan tanpa terasa hari sudah menjelang sore saat arya dan lianti meninggalkan rumah irvan.

__ADS_1


-----------------------------


__ADS_2