SERPIHAN HATI LIANTI

SERPIHAN HATI LIANTI
BELUM ADA KABAR


__ADS_3

Sudah beberapa hari Irvan terus mencoba menghubungi Lianti, namun belum juga ada hasil. Namun ia tak hanya diam menunggu kabar, berulang ulang kali Irvan datang ke rumah Lianti untuk bertanya pada tante weni tapi takkunjung bertemu karena mami Lianti itu sedang sibuk dikantor dan pulang tak tentu waktu.


" Aku harus gimana ? "


" Kenapa phonselku bisa sama Lia? "


" Apa aku jujur aja dan ngomong apa adanya ? "


" Tapi aku ngak mungkin cerita semuanya dia sudah pasti marah besar "


Berbagai macam pertanyaan muncul di benak Irvan.


Dan tiba tiba, " Achhhhhh..sial..sial..sial " teriak Irvan sambil mengacak acak rambutnya.


" Tokk..tokk..tokkk " pintu kamar diketok


" Tuan muda, tuan muda " sayup sayup suara dari luar kamar memanggil Irvan


" Iya, ada apa mbak? " jawab Irvan tanpa beranjak sedikit pun


" Di depan ada yang mau ketemu tuan muda " ucap suara itu lagi dari luar pintu kamar


" Siapa ya mbak " tanyak Irvan


" Katanya temannya tuan muda, perempuan cantik " tambah suara dari luar itu


" Suruh nunggu mbak, aku segera turun " jawab Irvan dan segera berlari ke kamar mandi.


Dengan keceriaan dan semangat yang kembali muncul ia sudah terlihat rapi dengan balutan busana santai. Tak henti hentinya dilihatnya lagi penampilannya didepan cermin dan setelah merasa cukup, ia pun keluar kamar, lalu menuruni tangga menuju ruang tamu.

__ADS_1


" Akhirnya kamu datang sayang.." ucap Irvan dalam hati.


Namun betapa terkejutnya ia saat melihat siapa sosok yang menunggunya, seketika kecerian dan semangat yang tadi terlihat dari wajah dan sikapnya hilang berganti mimik datar dengan sikap cuek.


" Emilia..kamu? ada apa kesini ? " tanya Irvan tanpa ekspresi


Wanita itu pun berbalik badan ke arah suara orang yang sedari tadi ditunggunya, " Selamat malam Van.." ucapnya


Irvan menghentikan langkahnya dan berdiri agak jauh dari tempat Emilia duduk. Tanpa menjawab salam.


" Apa kita bisa ngobrol? " ucap Emilia, membuka percakapan


" Kalau mau bahas soal yang kemarin itu, baiknya kamu pulang saja " jawab Irvan dengan nada ketus


" Kenapa Van? aku butuh tanggung jawab dari apa yang terjadi malam itu? " ucap Emilia dengan nada tegas


Sejenak Irvan terdiam, " Hmm, maafkan aku..baiknya kamu pulang aja..aku lagi pengen sendiri " ucap Irvan kembali menurunkan nada suaranya


" Tapi Van..." Emilia mencoba memelas, berharap bisa berlama lama dirumah itu


" Ngak Emilia, tolong..jangan memperkeruh keadaan..tolonggg " jawab Irvan dengan kedua telapak tangan saling menempel dan diangkat sedikit ke depan dada.


" Van, aku..." ucap Emilia lagi dengan tak tahu malunya


" Maaf sekali lagi, aku sibuk " Irvan pun membalikkan badan lalu berjalan menuju, ruang tengah meninggalkan Emilia dalam luapan emosi yang dipendam.


******************


Dilain kota suasana pesta yang terkesan mewah dengan meja makan yang diatasnya tertata berbagai hidangan lezat serta berbagai jenis buah buahan.

__ADS_1


Dari arah pintu para tamu yang mulai berdatangan satu persatu, disana juga terlihat Siska beserta orang tuanya dan juga Lianti..." Kalian silahkan duduk disini, kami mau temui pak Anggoro dulu " ucap pak Arman pada putri dan ponakannya


Lalu ia menggandeng tangan istrinya menuju ke arah sekumpulan orang yang berpakaian rapi dan terlihat bersahaja


" Kak Siska, pak Anggoro itu siapa? maksudku apa seorang pejabat? " tanya Lianti yang terus mengagumi segala yang ia lihat ditempat itu


" Pak Anggoro itu, pengusaha terhebat nomor satu dinegara ini.." jawab Siska melirik ke arah Lianti dan memberi isyarat agar sepupunya itu mengikuti arah pandangannya


" Itu pak Anggoro yang berjas biru , dan yang lagi bersalaman dengan papa..putranya " ucap Siska menjelaskan pemandangan yang mereka lihat bersama


" Mas Faiz.." ucap Lianti tiba tiba


" Aapa? kamu tadi bilang apa?..mas Faiz? " tanya Siska terbata bata


" Iya itu sepertinya mas Faiz deh, laki laki yang waktu itu aku ceritain ke kakak " jawab Lianti tanpa mengalihkan pandangannya terus menatap ingin memastikan kalau yang dilihatnya sekarang itu memang Faiz.


" Husss..jaga sikapmu Lia, dia itu tuan Faiz putranya pak Anggoro, Pengusaha muda dan sukses tak sembarang orang bisa mendekatinya " potong Siska mencoba menyadarkan Lianti agar tak terlalu antusias


" Gitu ya kak, padal waktu itu dia sangat baik loh ke Lia " ucap Lianti sedikit kecewa


" Udah ahh ngayalnya, sebaiknya kita nikmati aja pestanya " ucap Siska lalu berdiri dan berjalan menuju meja dan mengambil berberapa menu hidangan yang tersaji diatasnya. Begitu pun dengan Lianti yang mengekori Siska ke meja disisi kiri ruangan itu.


 


BERSAMBUNG


 


AUTHOR TETAP SEMANGAT💪

__ADS_1


__ADS_2