
Irvan berjalan lesu tak bersemangat, tatapannya yang terlihat kosong seakan menggambarkan dengan jelas kalau suasana hatinya tidak dalam kondisi baik baik saja.
" Selamat pagi Van.." ucap seorang siswi berparas lumayan cantik yang berusaha mensejejerkan langkahnya dengan Irvan
" Kamu kenapa Van? " ucap siswi itu lagi sambil mencolek lengan Irvan saat sapaannya tidak mendapat tespon sama sekali
" Eh iiya, selamat pagi juga, ada apa? " Irvan seolah tersentak dari lamunannya, entah apa yang sedang di fikirkannya sejak tadi
" Jalan jangan sambil melamun, entar kesandung tuh kaki hehehe " canda siswi itu yang tak lain adalah Luna teman sekelas Irvan yang baru masuk beberapa waktu lalu
" Hmm maaf Luna, baiknya kamu duluan aja.." Irvan seketika tersadar kalau Luna lah pemicu masalahnya dengan Lianti
" Memangnya kenapa? kan kita sekelas arahnya kita juga sama sama ke sana? " Luna memanyunkan bibirnya protes.
Tak mau buang buang kesempatan, Luna langsung menarik tangan Irvan, dan sikapnya semakin dibuat manja,
" Kamu ada ada aja deh, ayok buruan jalan " ucapnya bermanis manis
" Maaf Luna tolong jangan begini, ngak baik dilihat orang. Ini sekolah dan kita terikat aturan " Irvan menepis tangan Luna agar sebelah tangannya yang sedang ditarik dan dipegang Luna terlepas
" Kamu kenapa sih? kok jadi aneh gini? "
__ADS_1
" Apa karena cewek kemaren itu ya? siapa sih dia? pacar kamu? ih jadi cewek kok posesif amat ya? " umpat Luna menumpahkan kekesalan
" Sudah ya kamu duluan aja, aku mau ke ruang Osis dulu " ucap Irvan cuek tak menjawab satu pun pertanyaan Luna dan bersikap seolah tak mendengar ocehan wanita itu
" Van, aku mau ikut kamu aja! " Luna masih berusaha nempel pada Irvan
" Luna.. cukup. tolong, aku mohon jaga sikapmu, jangan memperburuk keadaan. Aku sudah benar benar pusing dan ngak bisa mikir " ucap Irvan dengan tegas dan dengan nada penuh penekanan.
Lalu ia pun berjalan dengan cepat meninggalkan Luna tanpa menoleh lagi.
Sesampai didepan ruang Osis, Irvan mencoba mengintip dari jendela kaca mencari sosok Lianti. Karena setau Irvan pagi ini ada rapat pengurus Osis.
" Ar..Arya.." Irvan memanggil manggil Arya saat matanya menangkap sosok kawannya itu didalam ruang Osis itu.
" Ada apa Van? kamu kok disini? kan jam pelajaran sedikit lagi dimulai? " ucap Arya begitu berdiri tak jauh dari Irvan
" Aku mencari Lia " Irvan menunduk
" Lia belum nongol, mungkin masih di kelasnya "
" Kamu mau titip pesan? entar aku sampaiin ke lia.. " Arya bersikap seolah ia tak tau insiden yang terjadi kemarin di kelasnya
__ADS_1
" Kan kamu tau gimana kedekatan aku dengan Luna dan kamu juga tau gimana perasaanku ke Lia " Irvan menjedah ucapannya sejenak. Lalu, " tolongin aku Ar..tolong jelasin ke Lia, aku ngak ingin kesalah fahaman ini berlarut larut "
" Baik mas bro entar aku coba ngomong ke Lia, setelah rapat Osis " Arya merasa kasihan melihat ekspresi Irvan yang begitu kalut
" Thanks Ar.." ucap Irvan pelan
" Ngak usah sungkan gitu, kita kan frend..hehehe" jawab Arya bercanda
" Kalau gitu aku masuk kelas dulu ya Ar..sekali lagi thanks.." Irvan mencoba tersenyum
" Yoi mas bro.." Arya pun berbalik dan bergegas masuk kembali ke ruang Osis
" Brakkkk " seseorang menubruk tubuh Irvan begitu keras. dengan sigap ia memperbaiki pososisi berdirinya dan refleks memeluk orang itu agar tidak tersungkur ke lantai
" Kamu ngak apa apa, Li? " ucapnya beberapa saat setelah tertegun melihat wanita dalam pelukannya itu ternyata Lianti
" Ah maaf, aku ngak sengaja. tadi aku buru buru " Lianti mendongak dan seketika melepaskan diri setelah tau siapa laki laki yang ia tubruk dan sedang memeluknya
Dengan tergesah gesah ia pun berjalan masuk ke ruang Osis, tanpa mempedulikan Irvan yang masih berdiri mematung menatapnya.
----------------------------
__ADS_1
BERSAMBUNG