
Panorama senja yang selalu tampak indah di pandang mata kali ini sama sekali tak dapat di nikmati, kabut tebal yang tiba tiba turun menyelimuti kawasan puncak membuat sebagian orang tidak dapat kemana mana, selain jarak pandang yang terbatas juga karena suhu udara yang mulai terasa dingin.
Di villa megah milik keluarga admaja nampak lengang, hanya ada dua orang pelayan yang masih nampak sibuk menata hidangan makan malam, " Selamat malam mbak, pak arbi kemana ya? " ucap irvan yang berjalan ke meja makan
" Selamat malam juga tuan muda" ucap dua pelayan itu serentak
" Pak arbi ada di garasi, tadi masukin mobil tuan muda.."
" Saya panggilkan pak arbinya tuan muda? " salah satu pelayan bertanya setelah meletakkan piring di meja makan
" Ngak usah mbak,..lanjutin aja kerjaannya dan tolong samperin lianti di kamarnya kalau semuanya sudah siap " ucap irvan yang sibuk dengan phonsel di tangannya
Pelayan itu pun bergegas melangkah ke sebuah kamar yang terletak di area ruang keluarga saat semua hidangan sudah tertata di meja makan.
***************
" Tokkk..tokk..tokk, non..nona.."
Suara dari luar kamar membangunkan lianti yang tertidur dan meringkuk dalam selimut, " Iya, tunggu sebentar " ia pun menyingkap selimutnya dan bangkit berjalan ke arah pintu.
" Selamat malam nona lianti, tuan muda menunggu anda di ruang makan.." ucap pelayan saat pintu kamar terbuka sambil agak membungkukkan badan memberi hormat
" Selamat malam juga mbak "
" Aku segera ke ruang makan, mbak duluan aja ya.."
" Baiklah nona, saya akan sampaikan pada tuan muda..."
" Permisi nona.."
pelayan itu pun segera berbalik berjalan menuju ruang makan kembali
Setelah menutup pintu, lianti pun membersihkan diri di kamar mandi. beberapa saat ia pun keluar dan berjalan menghampiri paper bag yang sejak tadi di biarkan tergeletak di sisi tempat tidur. " Hah? dari mana dia tau ukuran pakaian dalam ku? " lianti tertegun sesaat saat melihat salah satu isi paper bag itu
Namun tak berapa lama, " Ahh sudahlah, dari pada dari pada lebih baik lebih baik..." ia pun mengganti pakaiannya tanpa berfikir apa apa lagi
******************
" Selamat malam tuan muda.." ucap lianti yang sudah berdiri tak jauh dari tempat irvan duduk
__ADS_1
Irvan yang sejak tadi sibuk dengan phonselnya seketika repleks menganggat wajahnya menatap si pemilik suara
" Hmmm selamat malam juga lia "
" Ayo silahkan duduk.."
"Mari kita makan, aku sudah sangat lapar
irvan agak sedikit risih mendengar kata tuan muda yang keluar dari mulut kekasihnya itu
Setelah lianti duduk, makan malam pun di mulai dengan hikmat. tak seorang pun dari mereka berdua bersuara, hanya dentingan sendok dan garpu yang saling beradu di atas piring memecah keheninggan di ruangan itu.
Selesai makan malam irvan mengajak lianti ke ruang tengah, duduk di samping tungku perapian buat menghangatkan badan sembari ingin membicarakan masalah kesalah fahaman yang terjadi diantara merek
" Lia.., aku minta maaf atas semua yang terjadi. jujur, aku ngak terfikir kalau akan seperti ini..ngak nyangka kalau luna dan orang tuanya bakal nanggepin segitu jauhnya soal kehadiranku dan kado yang ku bawa di pesta malam itu.."
irvan terdiam sejenak, matanya menatap sendu ke arah lianti yang duduk dan hanya menunduk dalam diam di kursi sebelah.
" Hmm aku akan atur waktu untuk bicara pada luna atau kalau perlu aku bakal minta tolong mama tuk jelasin ke orang tua luna.."
melihat tak ada respon dari lawan bicaranya, seketika irvan menggeser meja dan mengangkat kursi yang ia duduki hingga posisi mereka berhadapan, perlahan sebelah tangannya menyentuh dagu dan tangan lainnya menggenggam tangan lianti, " Sayang, jangan diam aja..lihat aku, coba tatap mataku..aku yakin kamu akan menemukan ketulusan disana.."
ucap irvan mencoba melulukan hati lianti
" Hey.. jangan menangis, sayang. sekali pun luna menginginkan aku, tapi aku kan ngak ada perasaan apa apa ke dia? "
" Tau ngak, sayang? cinta dan hubungan yang membahagiakan itu datangnya dari dua arah, seperti hubungan kita ini. dan kalau cuma searah itu akan bertepuk sebelah tangan dan ujung ujungnya akan sangat sangat menyakitkan.."
irvan tak patah semangat dan terus berusaha meraih hati lianti kembali
" Cinta lain akan hadir dalam suatu hubungan kalau salah satu pemilik hati membuka celah..ibarat rumah, tamu tak tak bisa akan masuk kalau bukan salah satu penghuninya yang membukakan pintu.." lianti pun mulai mengungkapkan apa yang ada di fikirannya
Irvan menarik lianti ke dalam pelukannya, " Iya kamu benar, sayang..Maaf maaf dan maaf kalau aku sudah membuka celah itu dan membiarkan orang lain masuk.."
sejenak menggantungkan kalimatnya, irvan memberi kecupan di kening lianti
" Tapi percayalah semua itu bukan aku sengaja..aku berani bersumpah demi apapun, sayang "
irvan mempererat pelukannya
__ADS_1
" Tapi...." ucapan lianti terpotong, saat tangan irvan menutup mulutnya
" Stop sayang..cukup, sudah jangan di bahas lagi..mending kita nikmati kebersamaan ini..."
" Aku kangen banget, sayang.."
irvan memejamkan matanya dan mencoba mengekspresikan rasa rindunya dengan pelukan hangat dan bebera pecupan di kening dan pucuk kepala lianti.
****************
Malam yang dingin dan suasa villa yang hening karena semua penghuni sudah beranjak ke peraduan untuk menjemput mimpi masing masing
Di ruang tengah villa dua insan yang sedang di mabuk cinta pun semakin hanyut, benar kata orang orang JIKA LELAKI DAN WANITA BERDUAAN MAKA SETAN AKAN IKUT AMBIL BAGIAN
suara nafas yang tersengal sengal dan saling memburu, kecupan berubah menjadi pangunan panas, tanpa sadar mereka sudah terlalu jauh
Penyatuan itu benar benar terjadi, kini irvan pun tumbang di atas tubuh polos lianti, mereka berdua lemas kehabisan tenaga. mereka saling berpelukan dengan peluh yang membasahi
" Van.., bagaimana kalau setelah ini aku hamil? "
lianti mulai sadar dengan apa yang sudah terjadi, ia takut akan akibat dari apa yang mereka baru saja lakukan
Irvan seketika bangkit dari tubuh lianti, dengan mengumpulkan sedikit tenaga yang tersisa, ia memunguti pakaiannya di lantai dan memakainya kembali. begitu pun dengan pakaian lianti, " Aku gendong ke kamar ya sayang, kamu aku bantu bersih bersih dulu..baru kita bicarakan soal ini.."
ucap irvan lalu menggendong lianti ala bridal style menuju kamar
" Aku bisa sendiri kok, van..turunin "
lianti agak sedikit malu dan memaksa turun dari gendongan irvan
" Au..ihhhhh "
meringis menahan sakit di **** *************, saat akan melangkah
" Tuh kan, biar aku gendong aja.."
irvan kembali menggendong lianti
Setelah membantu lianti bersih bersih, irvan pun merebahkan dirinya di tempat tidur, " Sayang, kita tidur yukk..ini masih jam dua pagi..jangan mikir yang ngak ngak, aku akan bertanggung jawab soal tadi "
__ADS_1
Irvan pun tersenyum setelah mendapat anggukan kepala dari lianti, di tariknya kekasihnya itu ke dalam pelukannya dan menarik selimut menutupi tubuh mereka.
Mereka pun tertidur dengan pulas tanpa terganggu rasa dingin lagi