SERPIHAN HATI LIANTI

SERPIHAN HATI LIANTI
PANGGILAN TELEPON DI TENGAH MALAM


__ADS_3

Tanpa terasa waktu bergulir dengan cepat, kini sudah ujian akhir semester dan sebentar lagi kenaikan kelas. Karena hari ini jadwal terakhir ujian dan cepat pulang Irvan dan Lianti memutuskan untuk istirahat di villa milik orang tua Irvan.


Saat duduk bersantai berdua disebuah sofa dihalaman belakang villa sambil menikmati hamparan kebun bunga yang terlihat begitu indah, " Sayang, nanti saat naik kelas 12 usahain kita sekelas lagi ya? udah cukup sampai sini pisah pisahnya, ngak enak banget tau " ucap Irvan sambil memainkan rambut Lianti dan bermanja manja.


" Iya diusahain kalau bisa, tapi ngak janji juga sih.." goda Lianti, entah kenapa ia begitu gemes melihat wajah ganteng kekasihnya itu saat merajuk.


" Ih kok ngak janji sih sayang? kan kamu bisa tuh minta masuk ke kelas mana aja? secara kamu itu cerdas dan semua guru tau itu " Irvan bak bocah yang sedang protes pada ibunya.


" Hahahaha " seketika tawa Lianti pecah, tatkala melihat mimik wajah Irvan yang menggemaskan dengan bibir yang dimanyun manyunkan.


" Hmm sekarang malah ditertawain " ucap Irvan mulai kesal.


" Maaf sayang, habisnya kamu gemesin kalau lagi manyun gitu " Lianti berusaha menghentikan tawanya.


" Apaan, memangnya aku badut. Ogah ah, aku mau masuk aja " Irvan beranjak dari tempat duduknya dengan kesal.


" Sayang, mau kemana? ayo duduk lagi " Lianti menarik tangan Irvan dan memintanya duduk kembali.


" Habisnya kamu ngeselin banget sayang, ngak ada romantis romantisnya gitu " ucap Irvan yang masih dengan mode ngambeknya.


" Iya deh, sini sini biar bisa romantis romantisan " Lianti menarik tangan Irvan agar lebih dekat dan ia pun memeluk Irvan dengan erat, " Uhh aku sangat sayanggg banget sama kamu yank.." ucap Lianti menggoda.


Irvan tersenyum manis dalam pelukan wanita yang sangat dicintainya itu, " Andai waktu bisa berhenti, aku akan memilih berhenti disini agar bisa terus bersama denganmu " ucapnya sambil memejamkan mata.


Mendengar itu Lianti seketika ingin mengurai pelukannya, seakan tak mengerti dan ingin cari tahu maksud dari perkataan Irvan itu.


" Jangan dilepas, biarkan seperti ini sejenak " ucap Irvan tanpa membuka matanya.


Lianti pun tersenyum dan kembali mempererat pelukannya, mereka pun larut dalam diam dan tenggelam dalam fikiran masing masing.

__ADS_1


*


Jam di diding sudah menunjukan pukul 12 malam suasana villa pun sudah nampak sepi, diruang tengah Irvan masih terlihat sibuk dengan phonsel ditangannya. Entah lagi melihat apa, dahinya sedikit mengkerut seakan sedang memikirkan sesuatu.


" Ada apa sayang? kok masih duduk disitu? apa ngak capek? " ucap Lianti sambil menuruni tangga bermaksud menghampiri Irvan, ia yang sudah sejak tadi tidur tiba tiba terbangun karena merasa haus.


Irvan yang sejak tadi focus dengan phonselnya tak menyadari kehadiran Lianti, ia samasekali tak menanggapi ucapan wanita itu.


" Dasar sialan, mau coba bermain main sama aku ya? " ucap Irvan seketika dengan nada penuh penekanan. Namun betapa terkejutnya ia tatkala mengangkat kepala dan mendapati Lianti sudah berdiri dihadapannya, " Astaga sayang, kamu ngagetin aja deh. Nyapa dulu kek dereman kek, tau tau sudah di depan aku gini..untung jantung aku masih kuat, ayo duduk sini " ucapnya lagi dengan lembut sambil menarik Lianti ke pangkuannya.


Samasekali tak ada penolakan dari wanita itu, " Tadi lagi ngomong dengan siapa? kok kedengarannya begitu heboh? sampai ada yang sialan segala gitu? " Sindir Lianti sambil tersenyum penuh tanda tanya.


" Bukan siapa siapa kok sayang, itu tadi aku cuma lagi baca file kerjaan dari staff papa " ucap Irvan seolah tak ingin membahas hal itu.


Lianti tak ingin membuat Irvan merasa tak nyaman, dan ia memutuskan untuk tidak lagi bertanya sekalipun rasa penasaran begitu mengganggu fikirannya, " Yah sudah kalau begitu, baiknya kita istirahat aja " ucapnya lalu bangkit dari pangkuan Irvan.


" Sayang, malam ini kita tidurnya barengan ya? aku kangen pengen tidur dipeluk kamu, boleh ya ya? " Irvan seakan memohon.


Irvan sangat tahu ketakutan Lianti, " Aku janji hanya sekedar pelukan dan ngak akan berbuat lebih, aku juga ngak mau mengulang kesalahan itu. Jadi jangan takut sayang " ucap Irvan mencoba meyakinkan.


Dan akhirnya lagi lagi Lianti menurut, mereka pun berjalan menaiki tangga menuju kamar utama villa itu yang terletak dilantai 2.


**


Baru saja Irvan meletakkan phonselnya diatas nakas kemudian merebahkan diri disamping Lianti, " Drekkk drekkk drekkk " suara panggilan masuk menggema dari phonsel itu.


" Di angkat dulu sayang, kali aja penting " ucap Lianti merasa terganggu.


" Biarin aja, tidur aja sayang " ucap Irvan dengan cueknya, lalu memeluk Lianti.

__ADS_1


" Drekkk drekkk drekkk drekkk drekkk drekk " suara panggilan itu terus menerus mengusik.


" Sayang.." Lianti memberi kode dengan lirikan agar Irvan menjawab panggilan itu.


" Hmmm " Irvan pun menarik nafas dan membuangnya kasar, lalu meraih phonselnya, " Ada apa lagi? kan sudah aku bilang ngak akan bisa karena aku ngak mau, kamu itu ngak ada capek capeknya ya? " ucap Irvan mencoba menahan emosi.


" Eh aku sudah coba ngomong baik baik ya, jadi tolong jaga sikap kamu.." entah apa yang diucapkan orang diphonsel itu, Irvan terlihat mulai kesal.


" Terserah, lakuin aja kalau itu mau kamu. Tapi ingat Irvan Admaja selalu menang dalam tiap permainan, jadi jangan menyesal " teriak Irvan marah.


" Brengsek, sialan " lagi lagi Irvan terpancing emosi.


Dengan secepat kilat benda pipi yang sejak tadi dipegangnya dilempar ke dinding, " Brakkk " benda itu berhamburan dilantai.


Lianti sangat terkejut dan seketika terduduk, " Sayang, apa yang terjadi? " tanyanya.


" Ngak apa apa, tidurlah..aku ke bawah cari udara segar sebentar " ucap Irvan sebelum berlalu begitu saja keluar kamar.


Lianti hanya diam tak berani lagi bersuara apa lagi menahan Irvan dikamar itu setelah melihat kemarahan laki laki itu, ia sangat menyesal memaksanya menjawab panggilan telepon yang sudah sejak tadi dihindarinya.


Hingga subuh menjelang Lianti baru bisa tertidur, ia terus menunggu Irvan yang tak kunjung kembali ke kamar. Suasana romantis yang mereka bangun seketika menjadi berantakan karena panggilan telepon ditengah malam.


-----------------------------------------


**BERSAMBUNG


Sekali lagi Author minta maaf🙏karena beberapa waktu tidak bisa up, itu karena Author baru pulang setelah hampir sepekan dirumah sakit. Dan saat ini pun Author masih dalam kondisi kurang sehat.


Tapi Author akan berusaha menulis hingga novel ini selesai.

__ADS_1


Trimakasih buat kalian yang selalu setia menunggu up " Serpihan Hati Lianti " Author janji tidak akan mengecewakan dan akan menuntaskan novel ini🙏🥰**


__ADS_2