
Irvan yang sudah sangat gelisah berlari ke keluar gerbang sekolah menuju mesjid di mana motornya terparkir belakangan ini. ia tak lagi menghiraukan beberapa orang yang menyapanya termasuk Rara
" Van.., tunggu " kata Rara dengan nafas tersegal segal karena ikut lari ke parkiran mesjid
" Ke rumah aku yuk " ucap Rara lagi, saat mulai bisa mengatur nafas
" Maaf Ra..aku buru buru, lagi ada urusan " jawab Irvan sambil memasang helm setelah sebelumnya memakai jaket, kaos tangan, masker, kaca mata dan siap siap menyalakan mesin motornya.
" Kalau begitu aku ikut kamu " ucap Rara sekenanya dan sudah duduk di boncengan belakang motor
Irvan yang sejak tadi uring uringan seakan makin kesal dengan sikap Rara yang memaksa ini, terdengar tarikkan nafas panjang yang kembali dibuang dengan kasar,
" Ra.., aku mohon kali ini jangan ajak aku bercanda. moodku bener bener lagi ngak baik " ucap Irvan mencoba tenang dan masih bicara lembut pada Rara berharap dimengerti.
" Siapa juga yang bercanda, aku serius kok mau ikut kamu " jawab Rara sambil tersenyum
Kali ini kekesalan Irvan sudah diubun ubun, " Turun Ra..aku mohon, aku lagi ada masalah tolong jangan makin bikin kesal karena aku ngak mau sampe kasar sama cewek " Irvan dengan nada penuh penekanan
Rara yang mendengar itu tersentak kaget dan turun dari motor tanpa berkata apa apa lagi.
__ADS_1
Irvan pun langsung tancap gas menuju jalan raya meninggalkan Rara yang masih diam menatap tak percaya ke pergian Irvan
****************
Irvan melajukan motornya ke arah rumah Lianti, setelah bebera kali menyalip kendaraan lain sampai lah dia didepan rumah yang nampak sepi itu.
" Siang Bik.., Lianya ada? " ucap Irvan pada wanita paru baya yang sedang merapikan tanaman
" Siang nak Irvan, loh kan biasanya barengan pulangnya? " wanita itu balik bertanya
" Iya sih Bik, tapi tadi Lia pulangnya duluan " jawab Irvan
" Baik Bik, kalau begitu aku pamit pulang dulu " Irvan mencoba tersenyum walau dipaksakan
Karena tak tahu harus kemana dan pada siapa harus bertanya tentang Lianti, akhirnya Irvan memutuskan untuk pulang ke rumah dan beristirahat agar bisa tenang.
Sesampai di rumah Irvan langsung merebahkan diri disofa dan mencoba berfikir positif " Mungkin saja Lianti ada urusan mendadak dan phonselnya lowbet " dan berharap setelah tidur wanita akan menghubunginya.
" Van Van.., bangun nak kenapa tidur disini? " ucap wanita yang masih terlihat cantik diusianya yang menjelang empat puluh tahun, ia merasa heran melihat putranya tertidur disofa diruang tengah dan masih dengan seragam putih abu abunya
__ADS_1
" Mama udah pulang, jam berapa sekarang? " Irvan tersentak kaget sembari mengumpulkan kesadarannya, sebelum melirik jam tangannya.
" Kamu kenapa nak? " mama Irvan heran dengan sikap anaknya itu
" Ma.., aku mau mandi dulu " Irvan yang tiba tiba kembali teringat Lianti, langsung bangkit dari sofa dan berlari menuju kamarnya setelah mencium tangan mamanya.
Di dalam kamar Irvan kembali mencoba menghubungi Lianti, tapi tetap sama phonselnya belum aktif juga.
" Lia.., kamu dimana? kenapa tidak menghubungiku? " gumam Irvan berjalan mondar mandir tanpa tahu harus bagaimana.
" Hmm baiknya aku mandi, setelah itu makan dan berangkat ke rumah Lianti " Irvan membatin
Di tariknya handuk yang tergantung di samping lemarinya dan masuk ke kamar mandi dengan langkah gontai untuk membersihkan badannya yang sudah terasa lengket.
Beberapa saat terdengarlah suara dari dalam kamar mandi.
ย ---------------------------------
BERSAMBUNG
__ADS_1
Author mencoba tuk terus aktif dan melanjutkan kisah serpihan hati lianti ini๐๐