SERPIHAN HATI LIANTI

SERPIHAN HATI LIANTI
KITA TUNANGAN SAJA


__ADS_3

Suasana hati Lianti masih saja sama walau sudah berhari hari tak bertemu bahkan tak saling berkabar dengan Irvan, namun saat ini penampilannya tak lagi kusut seperti kemarin, ia berusaha menyembunyikan segala apa yang ada dihati dan fikirannya, tersenyum dan tetap ceria seperti biasanya didepan semua orang.


" Mi.., lusa nanti Lia ngak usah ikut kalau penerimaan raport ya? " ucap Lianti merajuk pada mami wina


" Memangnya kenapa nak? " tanya mami wina heran


" Ngak apa apa mi, Lia cuma males aja. Lagian Lia berencana mau ke tempat tante weni buat liburan " jawab Lia yang sibuk dengan phonselnya,


" Ini lagi lihat lihat jadwal penerbangan besok " lanjutnya memperlihatkan sebuah aplikasi travel diphonselnya.


Mami wina cuma menggeleng geleng dan tersenyum melihat tingkah putrinya.


********************


 Di tempat lain, Irvan yang sudah di pusingkan dengan masalahnya dengan Emilia membuatnya tak lagi begitu memikirkan Lianti. Lagian ia masih di kuasai kekesalan yang membuatnya bertahan tak menghubungi Lianti.


Egonya terus berpendapat Lianti harus minta maaf padanya, difikirannya kekasihnya harus sadar dengan sikap kekanak kanakan yang suka ngambek tak jelas, selalu lari dan menghindar tanpa mau bicara apa masalahnya.


" Hmm kenapa aku bisa dihotel itu bersama Emilia ? "


" Apa benar yang dikatakan nya itu? "


" Lalu dimana phonselku ?"


" Kenapa tak satu pun yang mau menjelaskan padaku "

__ADS_1


" Yayat, ale, Rian...kalian..."


Irvan membatin


" Achhhhhhhhh" tiba tiba Irvan teriak saat merasa begitu sesak


*****************


Plash Back On


Tiba dicafe Irvan berjalan menuju meja dimana Emilia sudah duduk menunggunya dengan pesanan kopi pavorit mereka berdua,


" Van, ayo duduk..aku udah pesenin nih buat kita " ucap Emilia lembut


" Emili.., aku mau ngomong serius " ucap Irvan tanpa basa basi


" Soal malam itu, dihotel..." Irvan terlihat sangat serius


" Uhukk..uhukkk..uhukkk.." Emilia tiba tiba tersedak. lalu ia meminta sebotol air mineral pada pelayan cafe.


Irvan hanya diam tanpa membantu, ia terus menatap Emilia dengan serius dan berharap mendapat penjelasan.


Setelah agak legah dan tenang, Emilia mulai bicara " Ohhh soal kemarin itu, apa kamu sama sekali ngak ingat ? "


" Iya aku ngak ingat apa apa Emili, yang ku tau kita dan teman teman pindah ke M club. kami minum minum..setelah itu...." kata Irvan menggantung

__ADS_1


" Aku terbangun tau tau sudah di hotel dan parahnya kamu ada di sebelahku tertidur pulas..." Irvan mengutarakan


" Oiya, dimana phonselku ? waktu itu tertinggal dihotel? " tambah Irvan


Emilia yang diberondong pertanyaan secara terus menerus oleh Irvan mulai gugup. Seakan tak bisa berfikir dengan baik saat ini, seketika diraihnya tangan kanan Irvan yang sejak tadi memainkan kunci mobil diatas meja.


Digenggamnya erat, " Hmm...Van, aku sayang kamu. Aku ingin kita bersama " Emilia mengutarakan perasaannya tanpa malu.


" Jangan becanda kamu Emili, kita ini sahabatan. Aku menganggap kamu itu seperti saudaraku sendiri, sama seperti yaya, ale dan Rian..."


" Lagian itu ngak mungkin banget, aku punya Lianti, tau kan kamu ? " ucap Irvan kesal


" Lianti..Lianti..asal kamu tau ya Van, aku sudah mencintai kamu jauh sebelum cewek sok kecakepan itu muncul " ucap Emilia dengan nada mulai meninggi


Irvan mencoba kembali ke tujuan awalnya" Tolong Emili, katakan apa yang terjadi sebenarnya..kenapa aku bisa di hotel itu bareng kamu ? "


" Van, sebaiknya lepaskan Lianti dan kita bertungan aja, karena kita sudah melakukannya malam itu dihotel.." ucap Emilia mantap


" Gila kamu..." jawab Irvan seketika menarik tangannya dari genggaman Emilia


" Emili, kamu jangan asal ngomong ya.." ucap Irvan lagi sembari bangkit dan menyambar kunci mobilnya, lalu pergi meninggalkan Emilia.


Plash Back Off


 

__ADS_1


BERSAMBUNG


 


__ADS_2