
Suasana kantin yang biasanya riuh karena di padati siswa siswi pada jam jam istirahat kali ini tampak lengang, hanya ada beberapa orang yang terlihat masih menikmati makanan atau minuman.
Begitu juga dengan lianti dan irvan, dua orang remaja yang menjalin kasih itu terlihat duduk berhadapan dengan wajah yang sama sama di tekuk. meja di depan mereka terdapat dua cangkir coklat susu dan setumpuk roti bakar namun terlihat masih utuh.
" Coba jelasin alasannya, kok kamu seperti ini? "
" Soal apa? soal pindah kelas? "
" Ya iya lah, memangnya soal apa lagi? "
" Hmm aku lelah dengan semua ini, benar benar lelah " lianti membuang nafas agak kasar
" Apa yang membuat kamu lelah li?, aku? hubungan kita? " irvan mulai gelisah
" Semuanya, hubungan ini dan segala apa yang aku tidak ketahui tentang kamu "
__ADS_1
" Belakangan ini kadang aku menertawakan kebodohanku yang terlalu percaya diri dan merasa di cintai "
lianti menumpahkan apa yang selama ini tersimpan di hatinya sebab tak ada keberanian untuk bicara
" Li.. aku mau minta maaf, mungkin kamu sudah tau soal masalah antara aku dan emilia. tapi tolong percaya dan dengarkan penjelasanku " irvan sejenak terdiam menunggu reaksi lianti. kemudian melanjutkan kalimatnya, " semua tak seperti yang terlihat, malam itu aku di jebak.." irvan mengusap wajahnya dengan kasar
" Hmm sebenarnya ada apa antara kamu dan emilia itu? sepertinya wanita yang kamu sebut sahabat itu sangat membenci aku " ucap lianti
" Antara aku dan dia ngak pernah ada apa apa kecuali persahabatan sejak dari SMP, itu pun ngak cuma aku doang "
" Hmm iya mungkin aku yang salah, walau sikap aku ke emilia semata mata karena menganggap dia sudah seperti saudara. tapi buat emilia sendiri di tanggapi lain " irvan diam sejenak dan berfikir.
" Li..aku mau ngomong jujur ke kamu, tapi aku mohon dengan sangat kamu jangan marah apa lagi pergi ninggalin aku kayak kemaren itu "
" Silahkan ngomong, bukannya memang lebih baik jujur? oiya aku juga lupa bilang kalau emilia itu pernah beberapa kali minta ketemuan " lianti mulai menceritakan soal pertemuannya dengan emilia. " Emilia minta aku menjauh dari kamu "
__ADS_1
" Hah? kapan si ular itu datang temui kamu? kok kamu ngak pernah bilang? " irvan menggaruk kepalanya yang tidak gatal
" Sudahlah, mending lanjutin soal yang pengen kamu omongin tadi. aku siap jadi pendengar dan janji ngak akan marah " lianti mengembalikan bahasan pada keinginan irvan tuk jujur
" Baiklah, sebenarnya malam itu aku tidur di hotel karena mabok dan sialnya emilia juga ada di kamar itu. wanita ular itu menjebak aku dan memanfaatkan ketidak sadaranku " irvan menjelaskan dengan hati hati
Betapa terkejutnya lianti, " Aapa? jadi kalian sudah tidur bareng? Van, kamu.." lianti seakan tak sanggup melanjutkan kata katanya, kedua mata indahnya mulai di genangi air bening yang sedikit lagi tumpah
Irvan meraih tangan lianti, menggenggam keduanya dengan erat seolah memberi kekuatan agar tak bersedih, " Ini ngak seperti yang kamu fikirin sayang, aku memang tidur bareng wanita ular itu tapi ngak terjadi apa apa..dan itu bisa aku buktikan "
" Kringggg..kringgg..kringgg " suara bel terdengar nyaring, tanda waktu istirahat sudah habis. lianti pun seketika bangkit dan ingin segera berjalan, namun tangan irvan menahannya, " Sayang maafkan aku ya, aku janji tidak akan membuat kamu sedih lagi..."
Irvan pun tersenyum saat lianti menganggukkan kepala sebagai tanda kalau mereka berdamai kembali. dan mereka berdua pun meninggalkan kantin, lalu kembali ke kelas masing masing.
---------------------------
__ADS_1