SERPIHAN HATI LIANTI

SERPIHAN HATI LIANTI
FRUSTRASI


__ADS_3

langit tampak cerah, hamparan kegelapannya di hiasi taburan bintang yang berkelap kelip dan cahaya bulan yang begitu indah di temaram malam


Irvan memutuskan untuk segera pulang, dengan tergesah gesah berjalan keluar menuju parkiran tempat mobilnya berada, ia sengaja meninggalkan pesta tanpa pamit pada luna karena tidak ingin keluarga luna dan semua orang yang hadir malam ini makin salah faham.


" Van..irvan.." seseorang berlari menghampiri irvan yang hendak masuk mobil


" Arya.." irvan agak salah tingkah, ia tau kalau arya pasti sudah salah faham padanya


" Tunggu, van " arya terdiam sejenak mengatur nafasnya yang ngos ngosan karena berlari, " Coba lihat ini " memberikan phonselnya pada irvan


Mata irvan seketika terbelalak menyaksikan vidio dirinya dan luna di grup pengurus Osis yang di kirim seseorang, " Astaga, apa apaan sih ini? aku ngak tau harus gimana kalau lianti sampai lihat dan salah faham " ucap irvan sambil mengacak rambutnya dengan sebelah tangannya


" Ini yang aku takutkan, sudah sering aku bilang kan van?..jangan terlalu dekat dengan luna kalau ngak pengen ada masalah pada hubungan kamu dengan lianti " arya mendengus sedikit kesal


" Aku dan luna ngak ada apa apa ar..kejadian tadi itu ngak seperti yang kalian fikirin " irvan mencoba membela diri


" Luna sepertinya suka sama kamu van " arya memaparkan apa yang di lihatnya, " Ngak mungkin kamu di perkenalkan secara khusus di pestanya dia kalau kamu bukan orang istimewa buatnya "


" Hmmm tapi buat aku, luna cuma teman..ngak lebih. aku cuma merasa ngak enak aja kalau tadi ngecewain di hari ulang tahunnya karena sejauh ini luna itu sudah banyak membantu aku " irvan menjelaskan alasannya


Arya mendengus kesal, " Okey kalau gitu, jadi aku disini mengartikan saja bahwa kamu sudah siap dengan segala konsekuensinya " kemudian berbalik arah membelakangi irvan dan melangkah pergi. dan tiba tiba berhenti setelah beberapa langkah lalu menoleh menatap irvan kembali dan sebelum kembali melanjutkan langkahnya lagi, " Oiya persiapkan penjelasan dan alasan logis mu untuk semua ini, karena sepertinya lianti sudah melihat rekaman video itu " ucap arya kemudian.


 

__ADS_1


" Achhh sial..sial.." gumam irvan tersentak kala beberapa motor dan mobil dari arah belakang serentak membunyikan klakson berulang ulang. irvan pun mengusap kasar wajahnya yang terlihat begitu gusar, lalu sejenak menatap lampu lalulintas yang sudah berwarna hijau sebelum melajukan mobilnya. " Hmmm astaga, rupanya aku sejak tadi nyetir sambil melamun " menyadari kesalahannya yang bisa berakibat fatal buat dirinya dan orang lain karena mengemudi dengan pandangan kosong dan fikiran melayang tak tentu arah.


Tiga puluh menit kemudian mobil mewah yang dikemudikan irvan berhenti di depan rumah lianti yang terlihat tak begitu ramai, cuma nampak beberapa anak kecil yang bermain lari larian. ia pun berjalan masuk, " Assalamualaikum, liantinya ada pak? " tanya irvan pada seorang laki laki paruh baya yang sedang duduk di teras bermain phonsel sambil merokok.


" Waalaikumsalam, lianti sepertinya lagi keluar..tapi tunggu saya lihat kedalam dulu ya nak " ucap laki laki itu lalu berdiri hendak ke dalam. " Oiya silahkan duduk dulu nak " tambahnya sebelum berlalu


Tak berselang lama laki laki itu kembali keluar bersama seorang perempuan yang terlihat hampir sebaya dengannya namun masih terlihat cantik dan anggun, " Eh nak irvan, ayo masuk dulu " ucap wanita itu saat melihat sosok irvan yang menunggu di teras


" Makasih tante, mau ketemu lia..lianya ada tante ? " irvan agak gugup


" Bukannya malam ini teman kalian ngadain pesta ulang tahun? lia berangkatnya sudah sekitar tiga jam yang lalu loh..apa nak irvan ngak kesana? atau kesana tapi malah ngak ketemu lia? " mami lianti menatap irvan heran


" Oogitu ya tan, kirain lia ngak bisa kesana karena katanya ada acara keluarga juga.maka saya kesini. " irvan makin gugup. " Mungkin karena banyaknya orang di pesta itu, sampai sampai saya ngak melihat lianti tan.."


" Nak irvan masuk dulu aja, nanti tante telpon lianti..kasih tau kalau nak irvan disini " ucap mami lianti sambil merogo saku mencari phonsel


" Baiklah kalau begitu, nak irvan hati hati di jalan ya.." lalu mami lianti tersenyum


" Mari tan..om.." pamit irvan, di balas anggukan oleh ke dua orang tua itu


Irvan berjalan menuju mobilnya dengan berbagai macam fikiran yang berkecamuk dan makin membuatnya setres, ia meraih phonselnya yang sejak tadi tergeletak di dasport. " Drikkkk...drikkk..drikkk " bunyi nada sambung tapi tak juga di jawab oleh lianti, " Drikkk..drikkk..drikkk " di coba sekali lagi namun sama tak ada jawaban


Entah sudah berapa kali irvan menelpol tapi tak ada respon, " Angkat dong li..." gumam irvan menatap phonselnya.

__ADS_1


Dak akhirnya, " Brakk.." irvan membanting phonselnya ke jok di sebelahnya dan segerah menghidupkan mesin mobil dan langsung kembali mengemudi


Rumah luna masih terlihat ramai walau malam sudah semakin larut, irvan memarkirkan mobilnya namun tidak bermaksud untuk kembali masuk ke pesta itu. di ambilnya kembali phonsel yang tadi di bantingnya dan mencari nomor kontak arya. " Drikkk..drikkk..drikkk " phonsel pun berbunyi


Di deringan ketiga, " Iya van, ada apa? " ucap arya dari sebrang


" Kamu masih di dalam? apa lianti ada sama kamu? " nada irvan agak kesal


" Aku lagi di jalan mau pulang, lia sepertinya sudah pulang juga tadi.." arya dengan gaya santainya


" Kenapa kamu tadi ngak bilang kalau lianti juga datang? " irvan mulai menaikkan nada suaranya


" Lah aku siapa? kan liantian itu pacarmu, harusnya kamu dong yang tau..lagian tadi kamu ngak kasih aku kesempatan buat ngomong " arya tak mau menanggapi kekesalan irvan, " Makanya jangan terlalu asik mikirin perasaan ngak enak pada teman kamu si luna itu, Ngak sadar kan kamu soal kehadiran lianti pacar kamu sendiri ? " arya terus nyerocos tanpa peduli pada irvan yang makin kesal


" Hmmm Ar..tolong, jangan ngajak ribut. aku benar benar sudah setres saat ini " irvan mencoba menahan kekesalannya


" Lah siapa juga yang ngajak ribut mas bro? aku kan cuma ngomong sesuai fakta? " ucap arya dengan tenangnya.


" Udah ya mas bro, aku tutup telponnya soalnya ini lagi nyetir " seketika sambungan di putus sepihak oleh arya tanpa mau mendengar lagi kata apapundari irvan


Irvan makin frustrasi memikirkan semua kata kata arya, ia bingung harus bagaimana. ingin kembali ke rumah lianti tapi tidak enak dengan maminya kalau nanti lianti marah marah dan tak mau menemuinya


Malam semakin larut langit terlihat tertutup awan gelap, bulan dan bintang pun tak lagi terlihat disana. irvan masih duduk di dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari rumah luna, ia menatap kosong ke depan tanpa melakukan apa apa. dan entah sudah berapa lama, hatinya yang tidak karuan sangat terlihat jelas terpancar di raut wajah tampannya

__ADS_1


" Drikkk..drikkk...drikkk " deringan phonsel membuat irvan tersentak dari lamunannya


" Iya ma, baik irvan pulang sekarang " irvan segera melajukan mobilnya setelah selesai memjawab telpon dari mamanya


__ADS_2