SERPIHAN HATI LIANTI

SERPIHAN HATI LIANTI
DI TOLAK


__ADS_3

Temaram senja di hamparan alam yang tersaji indah, dua mahluk yang terlihat sangat serasi sedang duduk berdampingan. mereka berdua larut dalam rasa kekaguman atas ciptaan Tuhan, sang wanita cantik begitu asik menikmati segala apa yang di lihatnya di seliling tempat itu.


Sedangkan si laki laki tampan sedari tadi hanya focus menikmati wajah cantik wanita yang duduk disebelahnya.


Setelah keheningan yang sudah berlangsung beberapa saat lamanya, " Lianti, aku boleh nanya ngak? " faiz mulai membuka obrolan dan mencoba memecah keheninggan.


" Boleh mas, silahkan.." sambil memperlihatkan senyum indahnya lianti menoleh sesaat ke arah faiz.


" Maaf sebelumnya, yang tadi siang nelpon itu, pacar kamu ya? " faiz dengan hati hati memilih milih kalimat agar lianti tidak marah padanya. " kalau ngak mau jawab, ngak apa apa juga kok " ucapnya lagi sambil tersenyum.

__ADS_1


Lianti menghela nafas sejenak terdiam lalu, " Tadi itu namanya arya teman sekolahku, tapi kayaknya dia sengaja nelpon karena di suru irvan pacar aku " terdiam lagi dan menunggu respon dari faiz.


" Ooo gitu ya.." faiz manggut manggut dan membuang pandangan ke sembarang arah.


" Kok cuma Ooo sih? memangnya mas faiz cuma mau tau itu doang? " lianti sedikit kesal melihat respon faiz yang cuek, sikapnya seolah berubah dingin.


Faiz seketika menoleh ke arah lianti, menatapnya dengan senyuman, " Aku sebenarnya pengen tau semuanya soal kamu, tapi aku ngak pengen kamu jadi sedih lagi seperti siang tadi. bahkan aku pengen tau dari segi apa pun itu, juga tentang..." terdiam, kalimatnya menggantung.


" Aku pengen tau perasaan kamu ke aku, apakah sama seperti yang ku rasakan? " faiz mengungkapkan penuh keseriusan, di balasnya tatapan lianti dengan sorot mata penuh harap.

__ADS_1


" Sejauh ini aku tuh merasa nyaman. mas faiz orangnya asik, baik, dewasa. di dekat mas faiz, aku merasa kesedihan itu agak berkurang bahkan kadang tak terasa " ungkap lianti yang coba menggambarkan perasaannya untuk menjawab pertanyaan faiz.


" Kalau begitu, perasaan kita hampir sama ya.. aku juga merasa nyaman dan bahagia bila bersama kamu " faiz pun mengungkapkan perasaannya dengan mata berbinar binar, " Lianti mau kah kamu jadi pacarku? aku tau ini terlalu cepat untuk sebuah perasaan, tapi seperti itu lah keadaannya rasa itu sudah muncul saat pertama kita bertemu dan makin berkembang sampai saat ini. aku sayang kamu lianti " ucap faiz yakin.


" Aapa mas? maaf mas faiz, baiknya kita berteman aja atau paling ngak anggap aku sebagai adikmu " lianti yang seakan tak percaya dengan apa yang di dengarnya seketika tertunduk dan tak berani menatap faiz, ia menjawab dengan sedikit terbata bata.


" Coba kamu bilang alasan tepat atas penolakan ini ? bukannya tadi kamu bilang nyaman bersamaku? " faiz yang tak pernah merima penolakan merasa kesal, nada suaranya agak meninggi dan bahkan terdengar seperti penuh penekanan.


" Maaf mas..maaf.." lianti semakin menundukkan kepala dan mulai ketakutan, ia berusaha menahan air yang seakan ingin tumpah dari kedua matanya.

__ADS_1


" Hmmm sudah lah, aku yang harusnya minta maaf. ayo kita kembali ke villa tuk istirahat " faiz mencoba menenangkan diri dan menahan luapan kekesalan yang saat ini ada kepalanya, ia tak mau lianti jadi sedih dan mungkin saja jadi takut padanya jika saja dirinya tidak bisa mengontrol perasaannya saat ini " Oiya malam ini kita terpaksa menginap di villa, karena tadi aku dapat info kalau kabut tebal sudah menutupi jalan di bawah sana dan nyaris tak terlihat. aku juga sudah menelpon paman dan bilang akan pulang besok pagi " faiz menjelaskan secara lengkap agar lianti tak berfikir macam macam tentang dirinya.


" iya ngak apa apa kok mas, kita memang ngak bisa maksain pulang kalau kondisinya kayak gitu..sekarang ayo kita masuk mas " Lianti menjejeri langkah faiz yang sudah berjalan lebih dulu menyusuri jalan setapak menuju arah villa yang notabede milik orang tua faiz.


__ADS_2